Cerita yang masih berlanjut.
Bagi Murni, tidak ada yang lebih berharga daripada masa depan anak tunggalnya, Ahmad. Demi menyokong pendidikan dan cita-cita Ahmad melangkah ke kota, Murni meredam impian lamanya menjadi perajin kain tenun. Dengan tubuh yang kian renta, ia terus menjajakan es lilin dan kue keliling dari pagi hingga senja. Setiap guratan lelah selalu ia sembunyikan di balik senyuman hangat, memastikan Ahmad tak pernah tahu beratnya beban yang ia tanggung sendirian. Bagi Ahmad, ibunya adalah segalanya. Namun seiring berjalannya waktu, impian besar Ahmad untuk mengubah nasib mulai diuji oleh gengsi, kerasnya perantauan, dan keras kepala masa muda. Di balik tawa dan dukungan penuh dari Murni, Ahmad tidak pernah menyadari berapa banyak jeritan dan air mata yang disimpan sang ibu di kamar sepi mereka. Ujian demi ujian datang menguji ikatan ibu dan anak ini. Ketika Ahmad makin sibuk mengejar dunia luar, Murni terus bertarung diam-diam melawan rasa sakit tubuhnya yang makin menggerogoti. Hingga pada suatu hari, sebuah rahasia besar yang bertahun-tahun disembunyikan Murni akhirnya mulai terkuak satu per satu. Saat Ahmad membuka kotak kayu tua terkunci di balik meja tenun ibunya, ia menemukan tumpukan surat tagihan dan catatan kecil yang bernoda air mata. Pada halaman terakhir, Murni menulis: "Tuhan, jika umurku tak cukup panjang melihatnya sukses, ambil rasa sakit ini, asal jangan ambil bahagia anakku." Tepat saat itu, suara batuk Murni dari dapur terdengar melemah dan terhenti...
Dibaca
Bab
Status
Mulai dari
Bab 1 - Bab 1 : Nasi Goreng Buatan Ibu
First book project
Total kata
oleh
Suhendar0 dibaca