CeritaGW
Buku / Bab
Bab 01495 kata

Bab 1 : Nasi Goreng Buatan Ibu

S

Suhendar

Pintalan Senja Untuk Ahmad

Mulai membaca

"Ahmad, bangun. Sudah pukul empat lewat lima," panggil Murni sambil mengetuk pintu kamar mandi dari balik celah papan kayu dapur.

Suara gemericik air sumur terdengar terhenti sesaat dari dalam.

"Iya, Bu. Ahmad sudah bangun dari tadi, sedang cuci muka," sahut Ahmad dari dalam kamar mandi.

Murni melangkah kembali ke tungku tanah liat. Tangannya yang sigap mengambil beberapa bilah kayu bakar kering, lalu memasukkannya ke bawah kuali. Api membumbung pelan, menerangi dapur mereka yang masih gelap.

"Nasi gorengnya mau ditaburi bawang goreng banyak tidak?" tanya Murni agak keras agar terdengar sampai luar.

"Mau, Bu! Bawangnya yang agak garing ya," balas Ahmad seraya keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan wajahnya memakai handuk lusuh.

"Ya sudah, sana ambil sarung sama peci. Kita salat subuh dulu," kata Murni sambil mengelap tangannya pada kain serbet.

Ahmad mengangguk. Ia berjalan ke kamar untuk mengambil perlengkapan salat. Tak lama kemudian, mereka berdua menunaikan salat subuh berjemaah di ruang tengah yang beralaskan tikar pandan.

Selesai berdoa, Murni langsung berdiri menuju dapur dan menyiapkan dua piring seng di atas meja makan kayu. Ahmad menyusul dan duduk di bangku kayu panjang.

"Hari ini ada kegiatan sampai sore di sekolah?" tanya Murni sambil menuangkan nasi hangat ke piring Ahmad.

"Ada, Bu. Nanti sore ada latihan olahraga untuk persiapan ujian minggu depan," jawab Ahmad. Ia memperhatikan piringnya. "Bu, kok potongan ikan asinya besar sekali di piring Ahmad? Yang di piring Ibu kecil."

"Sengaja. Kamu mau ada kegiatan sampai sore, butuh makan banyak," jawab Murni santai.

"Tapi Ibu makan apa kalau ikannya cuma sedikit begitu?" tanya Ahmad.

"Ibu cuma suka bagian ekornya, Ahmad. Lebih garing kalau dikunyah. Bagian tengahnya itu dagingnya tebal, buat kamu saja," dalih Murni sambil tersenyum kecil dan duduk di hadapan anaknya.

"Ibu selalu bilang begitu setiap kali kita makan ikan," gumam Ahmad pelan.

"Sudah, jangan banyak protes. Dihabiskan nasinya," potong Murni halus. "O ya, uang saku kamu masih ada?"

Ahmad menggeleng pelan sambil mengunyah nasinya. "Tinggal dua ribu, Bu. Kemarin dipakai beli kertas tugas di fotokopi."

Murni merogoh saku jalannya, lalu mengeluarkan dua lembar uang lima ribuan yang sudah agak kumal. Ia meletakkannya di samping piring Ahmad.

"Ini sepuluh ribu. Cukup untuk ongkos naik angkot sama beli minum nanti sore?" tanya Murni.

Ahmad menatap uang itu, lalu menatap ibunya. "Ibu ada simpanan uang lagi tidak untuk pasar hari ini?"

"Ada, tenang saja. Uang belanja untuk jualan es lilin nanti siang masih cukup," jawab Murni cepat. "Kamu fokus saja belajar. Sebentar lagi lulus sekolah, kan?"

"Iya, Bu. Tinggal beberapa bulan lagi," sahut Ahmad. Ia mengambil uang tersebut dan memasukannya ke dalam saku seragam. "Ahmad mau lanjut kuliah di kota kalau lulus nanti, Bu."

Murni terdiam sejenak mendengarnya. Ia lalu mengangguk pelan. "Bisa. Asal kamu rajin belajar dari sekarang, Ibu pasti usahakan biayanya."

"Benar ya, Bu?" mata Ahmad berbinar.

"Iya, benar. Sekarang dihabiskan makanannya, nanti kamu terlambat naik angkot pertama," ucap Murni mengingatkan.

Ahmad dengan cepat menyelesaikan suapan terakhirnya, lalu membawa piring kotornya ke tempat cuci piring. Ia bersiap-siap mengenakan sepatu sekolahnya di depan pintu depan.

Bab selanjutnya

02 - Bab 2 : Berangkat Sekolah

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Pintalan Senja Untuk Ahmad.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 01 / 10
Pintalan Senja Untuk Ahmad
01

Bab 1 : Nasi Goreng Buatan Ibu

495 kata / Sedang dibaca

02

Bab 2 : Berangkat Sekolah

538 kata / Tersedia