Suhendar
Pintalan Senja Untuk Ahmad
Mulai membaca
Ahmad melangkah masuk ke dalam rumah begitu matahari mulai terbenam di ufuk barat. Suara ketukan kayu bersahut-sahutan terdengar riyuh dari arah kamar belakang. Ia meletakkan tas sekolahnya di atas meja tamu, lalu berjalan mendekati sumber suara tersebut.
"Bu, Ahmad sudah pulang," panggil Ahmad seraya mengintip dari balik pintu kamar belakang.
Murni menghentikan sisiran benang pada alat tenun kayu tradisional milik neneknya. Ia menyapu keringat di dahi dengan kain lap, lalu menoleh sambil tersenyum.
"Sudah pulang, Nak? Bagaimana latihan olahraganya tadi sore?" tanya Murni.
"Lancar, Bu. Tadi Pak Dadang cuma suruh lari lima putaran lapangan sama latihan baris-berbaris," jawab Ahmad seraya duduk di atas lincak kayu di samping ibunya. "Ibu kok mengeluarkan alat tenun ini lagi? Bukannya sudah disimpan lama di gudang?"
Murni mengelap sisa debu pada permukaan kayu tenun yang sudah tampak mengilap. "Ibu cuma mau bersihkan saja. Kasihan kalau dibiarkan berdebu di dalam gudang terus. Nanti kayunya dimakan rayap."
Ahmad memperhatikan gulungan benang warna-warni yang tertata rapi di sudut meja. "Dulu Ibu sering menenun kain sarung sama selendang, kan?"
"Iya, dulu sebelum ayahmu meninggal, Ibu sering terima pesanan dari orang kota," kenang Murni. "Hasil tenunan Ibu lumayan buat tambah-tambah beli beras."
"Kenapa sekarang tidak diteruskan lagi, Bu? Kan bisa dijual ke pasar atau dititipkan ke toko kain?" tanya Ahmad penasaran.
Murni menghela napas pelan, jemarinya membelai benang katun warna merah tua. "Menenun itu butuh waktu lama, Ahmad. Satu lembar kain selendang saja bisa selesai satu bulan penuh. Kalau Ibu fokus menenun, siapa yang mau jualan es lilin sama kue keliling buat makan kita sehari-hari?"
Ahmad terdiam sejenak. Ia tahu betul berapa banyak pengorbanan ibunya demi memikirkan kebutuhan harian keluarga.
"Padahal buatan Ibu bagus sekali. Ahmad masih ingat selendang motif batik yang Ibu buatkan untuk Bu RT dulu," puji Ahmad jujur.
"Itu kan cuma hobi lama Ibu saja. Sekarang yang penting itu persekolahan kamu," sahut Murni tegas. "Tadi di sekolah Pak Dadang ada memberi pengumuman soal biaya ujian akhir tidak?"
"Ada, Bu. Pak Dadang bilang uang pendaftaran ujian harus dilunasi paling lambat akhir bulan ini," kata Ahmad dengan nada sedikit ragu.
"Berapa jumlahnya?" tanya Murni langsung.
"Seratus lima puluh ribu, Bu," jawab Ahmad pelan.
Murni mengangguk tanpa terlihat terkejut sedikit pun. "Ya sudah, nanti malam Ibu ambilkan uangnya dari celengan bambu di bawah lemari. Besok langsung kamu bayarkan ke Pak Dadang di sekolah, ya?"
"Uang celengan Ibu masih cukup?" Ahmad memastikan. "Ahmad tidak mau kalau uang itu dipakai semua lalu Ibu tidak ada simpanan lagi."
"Masih ada sisa, tenang saja," jawab Murni menenangkan. "Tugas kamu itu belajar yang rajin, jangan pusing memikirkan uang ujian. Pak Dadang tidak bakal menagih lagi kalau kamu sudah bayar besok."
"Iya, Bu. Terima kasih banyak ya," ucap Ahmad tulus.
Murni berdiri dari kursi tenunnya, lalu menepuk pundak Ahmad pelan. "Sana mandi dulu, terus ganti baju. Ibu sudah siapkan makan malam di meja. Ada sayur asam sama tempe goreng favorit kamu."
Ahmad tersenyum lebar. "Asyik! Ahmad mandi sekarang ya, Bu."
Murni memperhatikan langkah kaki anaknya yang berjalan riang menuju kamar mandi. Setelah pintu kamar mandi tertutup, Murni kembali menatap alat tenun kayunya dengan tatapan dalam. Ia mengelap benang-benang itu sekali lagi, lalu menutupnya rapat menggunakan kain penutup usang. Bagi Murni, impian lamanya menjadi perajin kain harus disimpan rapat-rapat, demi masa depan anak tunggalnya yang jauh lebih berharga.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Pintalan Senja Untuk Ahmad.