CeritaGW
Buku / Bab
Bab 02538 kata

Bab 2 : Berangkat Sekolah

S

Suhendar

Pintalan Senja Untuk Ahmad

Mulai membaca

"Bu, nasi gorengnya enak. Gurihnya pas," ucap Ahmad sambil mengelap bibirnya menggunakan tisu bekas yang ada di meja.

Murni yang sedang membersihkan meja dapur tersenyum kecil. "Ya jelas enak, Ibu pakai bumbu racik buatan sendiri. Bawang merahnya dipotong halus, bukan diulek sembarangan."

"Besok buatkan nasi goreng lagi ya, Bu?" minta Ahmad dengan raut wajah berharap.

"Lihat besok ya. Kalau ada sisa nasi dingin nanti malam, Ibu buatkan lagi. Kalau tidak ada, ya makan bubur kacang hijau saja," sahut Murni seraya mengambil piring kosong milik Ahmad.

Ahmad berdiri dari bangku kayu, lalu mengambil tas sekolahnya yang bersandar di sudut meja. Ia memeriksa kembali isi tasnya untuk memastikan tidak ada buku pelajaran yang tertinggal.

"Ibu hari ini jualan es lilin jam berapa?" tanya Ahmad sambil mengancingkan tas.

"Habis kamu berangkat, Ibu langsung ke warung Pak RT beli gula pasir sama kantong plastik," jawab Murni. "Kenapa memangnya?"

"Ahmad mau bantu bungkus es lilinnya sebelum berangkat sekolah, Bu," tawar Ahmad.

"Tidak usah," tolak Murni cepat. "Waktumu sudah mepet. Nanti kamu ketinggalan angkot pertama. Kalau ketinggalan angkot, kamu harus jalan kaki dua kilometer ke sekolah."

"Tapi kasihan Ibu, dari subuh tidak berhenti bergerak. Tangan Ibu nanti pegal kalau membungkus sendiri lima puluh kantong," ujar Ahmad jujur.

"Ibu sudah biasa, Ahmad. Tangan Ibu ini sudah kapalan, tidak membal kalau cuma membungkus es lilin," balas Murni santai seraya menepuk pelan pundak anaknya. "Tugas kamu itu cuma belajar yang benar. Jangan pikirkan capeknya Ibu."

Ahmad menghela napas pelan. Ia tahu ibunya sangat keras kepala jika sudah berkaitan dengan urusan pekerjaan rumah dan jualan.

"Sepatu kamu masih muat, kan?" tanya Murni tiba-tiba saat matanya tertuju pada sepatu kain hitam yang sedang dipakai Ahmad.

Ahmad menghentikan gerakannya yang sedang mengikat tali sepatu. "Masih, Bu. Cuma agak sempit di bagian jempol."

"Nanti kalau ada uang sisa dari jualan minggu ini, kita beli sepatu baru yang ukurannya lebih besar," kata Murni.

"Tidak usah dulu, Bu. Masih bisa dipakai kok. Jahitannya juga belum ada yang lepas," tolak Ahmad halus. Ia tahu betul berapa sisa uang simpanan ibunya di dalam celengan bambu.

"Jangan dipaksa kalau sempit, nanti kaki kamu lecet," tegas Murni. "Sudah, jangan banyak alasan. Kalau Ibu bilang beli, ya beli."

Ahmad menyunggingkan senyum tipis. "Iya, Bu. Terima kasih."

Murni berjalan mendekati pintu depan, memegang selot kayu yang sudah agak longgar. "Bekal air minum yang Ibu masukkan ke tas sudah dibawa?"

"Sudah, Bu. Ada di kantong sebelah kanan," jawab Ahmad seraya menepuk bagian samping tas punggungnya.

"Uang saku sepuluh ribu tadi jangan dipakai beli mainan atau jajan yang tidak jelas. Pakai buat makan siang di kantin," pesan Murni lagi.

"Iya, Bu. Ahmad mengerti," jawab Ahmad sambil mencium tangan kanan ibunya dengan khidmat. "Ahmad berangkat dulu ya, Bu. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam. Hati-hati di jalan, berjalan di pinggir saja, jangan di tengah jalan!" seru Murni dari ambang pintu rumah.

Murni berdiri mematungi punggung Ahmad yang makin menjauh menyusuri jalan setapak berkerikil di depan rumah mereka. Setelah sosok anak tunggalnya hilang di belokan jalan, Murni membalikkan badan dan menutup pintu depan pelan-pelan. Ia menghela napas panjang dalam keheningan rumah yang mendadak sepi.

Murni kembali melangkah ke dapur, melihat piringnya sendiri yang masih menyisakan sedikit nasi dan potongan ekor ikan asin yang sudah dingin. Tanpa ragu, ia duduk dan mulai menyuap sisa makanan tersebut dengan lahap.

Bab selanjutnya

03 - Bab 3 : Gerbang Sekolah

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Pintalan Senja Untuk Ahmad.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 02 / 10
Pintalan Senja Untuk Ahmad
01

Bab 1 : Nasi Goreng Buatan Ibu

495 kata / Tersedia

02

Bab 2 : Berangkat Sekolah

538 kata / Sedang dibaca

03

Bab 3 : Gerbang Sekolah

526 kata / Tersedia