CeritaGW
Buku / Bab
Bab 03526 kata

Bab 3 : Gerbang Sekolah

S

Suhendar

Pintalan Senja Untuk Ahmad

Mulai membaca

Ahmad berjalan cepat menyusuri lorong sekolah menengah atas yang mulai ramai oleh lalu lalang murid. Di depan kelas tiga IPS dua, Bayu sudah berdiri sambil menyandarkan punggungnya di tiang teras.

"Mad! Sini dulu!" panggil Bayu setengah berteriak seraya melambaikan tangan.

Ahmad menghampiri sahabatnya itu. "Ada apa, Yu? Masih pagi sudah teriak-teriak."

"Kamu sudah kerjakan tugas matematika Pak Dadang belum? Soal nomor lima sampai sepuluh susah sekali," kata Bayu raut wajahnya tampak cemas.

"Sudah, semalam aku kerjakan habis salat isya," jawab Ahmad sambil melepaskan tas punggungnya dan mengambil buku tulis sampul cokelat. "Ini, kalau mau lihat jalannya. Tapi jangan cuma ditiru mentah-mentah."

Bayu langsung menyambar buku tersebut dengan riang. "Wah, terima kasih banyak! Kamu memang sahabat paling menyelamatkan. Nanti aku traktir es teh di kantin pas istirahat!"

"Tidak usah," tolak Ahmad pelan. "Ibu sudah kasih aku uang saku dan bekal minum dari rumah."

Bayu menatap Ahmad heran sambil membalik halaman buku. "Uang saku dari ibu kamu masih utuh? Bukannya kemarin kamu bilang uangmu sisa dua ribu?"

"Tadi pagi Ibu kasih sepuluh ribu lagi," sahut Ahmad seraya duduk di bangku teras luar kelas.

"Ibu kamu hebat ya, Mad. Padahal cuma jualan es lilin sama kue keliling, tapi uang saku kamu tidak pernah terputus," puji Bayu tulus.

Ahmad tersenyum tipis, walau ada rasa berdesir halus di dadanya. "Iya, Ibu selalu usahakan ada uang buat aku. Katanya tidak boleh ada alasan malas belajar cuma gara-gara tidak ada uang saku."

Bel masuk sekolah berbunyi nyaring sebanyak tiga kali, memotong percakapan mereka. Seluruh siswa berhamburan masuk ke dalam kelas masing-masing. Tak lama kemudian, Pak Dadang  masuk membawa tumpukan kertas soal dan kapur tulis.

"Selamat pagi semuanya. Buka buku latihan matematika kalian halaman empat puluh," tegas Pak Dadang dari depan meja guru.

Pelajaran berlangsung cepat hingga bel istirahat pertama berbunyi pukul sepuluh pagi. Ahmad dan Bayu berjalan bersama menuju area kantin belakang sekolah yang riuh oleh suara murid-murid berbelanja.

"Mad, habis lulus nanti kamu mau lanjut ke mana? Mau ikut tes kerja di pabrik lokal tidak?" tanya Bayu sambil memesan dua mangkuk bakso pada penjual.

"Aku mau daftar kuliah di kota, Yu," jawab Ahmad tegas.

Bayu menoleh kaget, hampir saja menyenggol mangkuk bakso di meja. "Kuliah di kota? Biayanya mahal sekali, Mad! Tempat tinggal, makan, belum lagi uang semesteran."

"Ibu yang suruh. Ibu bilang dia sanggup usahakan biayanya, asal aku rajin belajar," jelas Ahmad.

"Tapi kasihan ibu kamu, Mad. Apa tidak berat kalau harus menanggung biaya kuliah di kota sendirian?" tanya Bayu dengan nada ragu.

Ahmad terdiam sejenak. Pertanyaan Bayu tepat menembus pikirannya sendiri. "Iya, aku tahu berat. Makanya aku harus cari beasiswa atau kerja sampingan di sana nanti."

"Baguslah kalau kamu sudah ada rencana. Jangan sampai ibu kamu kerja makin keras tapi kamu malah main-main di kota," kata Bayu mengingatkan.

"Tentu saja tidak. Aku ingin bikin Ibu bangga. Aku ingin beli rumah yang lebih bagus buat Ibu kalau aku sudah sukses nanti," sahut Ahmad mantap.

"Aamiin! Aku doakan impianmu tercapai, Mad," balas Bayu sambil menepuk bahu Ahmad pelan. "Ayo dimakan baksonya, keburu dingin."

Ahmad mengangguk dan mulai memakan bakso di hadapannya. Di dalam pikirannya, bayangan wajah ibunya yang tersenyum saat menyiapkan sarapan tadi pagi kembali berputar, menjadi dorongan paling kuat dalam dadanya.

Bab selanjutnya

04 - Bab 4 : Kain Tenun

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Pintalan Senja Untuk Ahmad.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 03 / 10
Pintalan Senja Untuk Ahmad
02

Bab 2 : Berangkat Sekolah

538 kata / Tersedia

03

Bab 3 : Gerbang Sekolah

526 kata / Sedang dibaca

04

Bab 4 : Kain Tenun

541 kata / Tersedia