Suhendar
Pintalan Senja Untuk Ahmad
Mulai membaca
Suara jangkrik bersahut-sahutan di balik semak-semak pekarangan rumah. Jarum jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Ahmad sudah tertidur lelap di kamarnya dengan posisi terlentang, meninggalkan buku pelajaran matematika yang masih terbuka di atas meja belajar.
Murni melangkah perlahan mendekati pintu kamar Ahmad yang tidak tertutup rapat. Tanpa menimbulkan suara, ia mendorong papan kayu pintu sedikit lebar, lalu mengintip ke dalam.
"Ahmad, lampu belajar jangan lupa dimatikan," bisik Murni pelan.
Karena tidak ada sahutan, Murni melangkah masuk. Ia mematikan lampu meja belajar, lalu menyelimuti dada Ahmad dengan kain sarung tebal. Murni berdiri sejenak di samping tempat tidur, menatap wajah anaknya yang tampak tenang dalam lelap.
"Semoga impianmu tercapai, Nak," gumam Murni sangat pelan.
Ia mengusap kening Ahmad sebentar, lalu berjalan keluar dan menutup pintu kamar dengan kehati-hatian tinggi. Murni menuju meja makan kayu untuk menghitung sisa modal jualan es lilin untuk esok hari. Uang kertas lecek dan pecahan koin ia susun rapi di atas meja.
"Empat puluh ribu untuk gula pasir, sisanya untuk kantong plastik," hitung Murni seraya mencatat di secarik kertas bekas.
Tiba-tiba terdengar suara pintu depan diketuk pelan dari luar. Murni terkejut, lalu bergegas mendekati pintu.
"Siapa di luar?" tanya Murni ramah namun waspada.
"Saya, Bu Murni. Bik Inah," sahut suara wanita dari balik pintu.
Murni segera membuka selot kayu pintu. Bik Inah, tetangga sebelah rumah, berdiri di depan pintu sambil membawa satu mangkuk kecil berisi kue pasung hangat.
"Eh, Bik Inah. Ada apa malam-malam begini?" tanya Murni heran.
"Ini, Bu. Saya baru selesai bikin kue pasung buat jualan besok pagi. Ada sisa dua porsi, jadi saya antarkan ke sini buat Ahmad," jawab Bik Inah sambil menyodorkan mangkuk.
"Aduh, terima kasih banyak, Bik Inah. Jadi merepotkan begini," kata Murni sambil menerima mangkuk tersebut.
"Tidak merepotkan sama sekali. Ahmad kan rajin bantu-bantu di lingkungan sini," balas Bik Inah tersenyum. "O ya, dengar-dengar Ahmad mau lanjut kuliah di kota tahun ini?"
Murni mengangguk pelan. "Iya, Bik. Anak itu kemauannya keras sekali mau kuliah."
"Biayanya besar loh, Bu Murni. Apa tidak sebaiknya disuruh kerja dulu di pabrik tekstil dekat kecamatan?" saran Bik Inah perhatian.
"Saya tahu biayanya tidak sedikit, Bik. Tapi selama saya masih sehat, saya usahakan dulu. Kasihan kalau kemauan belajarnya dihalangi," sahut Murni mantap.
"Bu Murni ini memang ibu yang luar biasa. Usaha jualan es lilin sama kue keliling tidak pernah putus demi Ahmad," puji Bik Inah.
"Namanya juga orang tua, Bik. Apa saja dilakukan asal anak bisa dapat kehidupan lebih baik dari kita," jawab Murni halus.
"Benar juga. Ya sudah, saya pulang dulu ya, Bu Murni. Sudah malam," pamit Bik Inah.
"Iya, Bik Inah. Sekali lagi terima kasih kuenya," jawab Murni.
Setelah menutup pintu depan, Murni membawa mangkuk kue ke dapur. Ia menutup kue itu dengan tudung saji agar bisa dimakan Ahmad esok pagi sebagai bahan sarapan tambahan.
Murni lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh muka dan kakinya. Dari balik cermin usang yang tergantung di dinding kamar mandi, Murni menatap matanya sendiri yang tampak lelah. Lingkaran hitam mengelilingi matanya karena kurang tidur selama bertahun-tahun. Namun, ia menyunggingkan senyum tipis pada bayangan dirinya sendiri di cermin.
"Jangan menyerah sekarang, Murni. Sedikit lagi Ahmad lulus," bisiknya pada diri sendiri.
Murni melangkah ke kamarnya, mematikan lampu utama, lalu berbaring di atas kasur kapok yang tipis. Sebelum memejamkan mata, ia mengatupkan kedua tangannya, melantunkan doa-doa tulus untuk keselamatan dan kelancaran masa depan anak tunggalnya.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Pintalan Senja Untuk Ahmad.