ontasuga
PADMARINI: Diantara Rumah dan Kebebasan
Mulai membaca
Elden kembali bekerja pada Senin pagi, tetapi pekerjaannya tidak pernah benar-benar meninggalkannya.
Bahkan saat duduk di depan komputer kantor, ia masih memikirkan kamar kos Ayu, uang yang tinggal sedikit, jadwal kerja malamnya, dan kebiasaan gadis itu membeli makanan tanpa menghitung berapa sisa tabungan yang dimilikinya. Semua persoalan tersebut berputar di kepalanya seperti laporan yang belum selesai.
Selama tiga hari pertama, Elden berusaha tidak menghubungi Ayu terlalu sering. Ia tahu mereka baru saja bertengkar, meskipun pertengkaran itu terjadi sebelum ia benar-benar memahami bahwa dirinya telah berubah menjadi menyebalkan. Namun, semakin ia menahan diri, semakin banyak hal yang menurutnya perlu diperbaiki.
Ayu bekerja malam di kedai. Ia tidur tidak teratur. Sarapannya sering hanya roti. Uang hasil kerjanya disimpan di dompet yang sama dengan uang untuk keperluan harian. Ia bahkan belum membeli obat dasar atau menyimpan dana darurat, meski Elden sudah beberapa kali memperingatkannya.
Bagi Elden, semua itu adalah masalah yang menunggu waktu untuk menjadi lebih besar. Bagi Ayu, semua itu adalah hidup yang sedang ia jalani dengan caranya sendiri.
Pada Kamis sore, mereka bertemu di kafe Dago, tempat semuanya bermula. Ayu datang setelah menyelesaikan kelas pelatihan singkatnya, sementara Elden muncul dengan laptop, dua map, dan wajah yang tampak lebih lelah daripada biasanya.
“Lu bawa kantor lagi?” tanya Ayu sambil menatap meja yang segera dipenuhi barang-barang Elden.
“Cuma beberapa hal yang perlu gue periksa.”
“Kalau cuma beberapa hal, kenapa mejanya jadi kayak meja rapat?”
Elden tidak menjawab. Ia membuka laptop, memesan kopi hitam, lalu memesan makanan untuk Ayu tanpa bertanya.
Ayu baru menyadarinya ketika pelayan pergi.
“Lu pesenin apa?”
“Nasi ayam. Gue lihat lu belum makan.”
“Gue gak bilang mau nasi ayam.”
“Karena itu bukan pertanyaan yang penting. Lu perlu makan.”
Ayu memandangnya beberapa detik. Nada Elden terdengar tenang, seolah ia baru saja menyampaikan fakta yang tidak perlu diperdebatkan.
Masalahnya, Ayu tidak sedang berada di kantor Elden.
Ia tidak sedang menunggu instruksi.
“Gue bisa milih makanan sendiri.”
“Gue tahu. Tapi pilihan lu biasanya tidak seimbang secara gizi.”
“Gue ke sini bukan buat dinilai isi piringnya.”
Elden menutup map di depannya. “Gue tidak sedang menilai. Gue sedang membantu.”
Kata itu membuat sesuatu di dalam diri Ayu menegang: Membantu.
Elden selalu mengucapkannya seperti bantuan adalah hak untuk menentukan. Ia menawarkan tempat bertemu, lalu mengatur waktunya. Ia menanyakan penghasilan, lalu menghitungkan pengeluarannya. Ia memesan makanan, membuat daftar kebutuhan, dan sekarang mulai menganggap cara Ayu makan sebagai sesuatu yang harus diperbaiki.
Ayu mengalihkan pandangan ke luar jendela. Kendaraan bergerak lambat di jalan Dago. Lampu toko mulai menyala satu per satu, sementara langit Bandung berubah kelabu.
“Gue punya kabar,” kata Ayu akhirnya.
Elden langsung mengambil pulpen. “Apa?”
“Gue diterima ikut pelatihan desain konten. Cuma beberapa minggu, tapi ada kemungkinan dapat proyek kecil.”
“Itu bagus.”
“Gue juga dapat tambahan uang dari kedai.”
“Berapa?”
Ayu menoleh. “Gue hanya perlu tahu jumlahnya supaya bisa membantu menghitung—”
“Gue gak minta dihitungin.”
Elden terdiam, tetapi pulpen di tangannya tetap bergerak. Ia mencatat sesuatu di salah satu lembar kertas. Ayu menarik kertas itu sebelum Elden selesai menulis.
Di sana terdapat tabel sederhana: pemasukan, makan, transportasi, kebutuhan kos, tabungan, dan dana darurat. Angkanya belum lengkap, tetapi garis-garisnya sudah membagi hidup Ayu menjadi beberapa kotak.
“Lu bikin ini dari kapan?”
“Sejak kemarin.”
“Tanpa bilang gue?”
“Karena lu tidak punya sistem.”
Ayu tertawa pendek. Tidak ada yang lucu.
“Gue punya sistem.”
“Lu menyimpan uang di dompet yang sama dengan kartu transportasi, struk belanja, dan kunci kamar. Itu bukan sistem.”
“Menurut lu, semua yang gak rapi berarti salah?”
“Tidak. Tapi kalau cara itu membuat lu kehilangan uang atau lupa membayar sesuatu, berarti ada risiko yang bisa dihindari.”
“Dan solusi lu adalah mengatur semua hal tentang hidup gue?”
“Bukan semua hal.”
“Barusan lu atur makanan gue. Sekarang uang gue. Besok apa? Jadwal tidur? Cara gue ngomong? Baju yang boleh gue pakai?”
Elden mengerutkan dahi. “Lu sedang membesar-besarkan.”
Kalimat itu jatuh seperti korek api ke atas tumpukan kertas kering. Ayu berdiri. Kursinya bergeser keras, membuat beberapa pengunjung menoleh.
“Gue membesar-besarkan?”
“Gue tidak bermaksud—”
“Lu gak pernah bermaksud. Itu masalahnya. Lu selalu bilang gak bermaksud, tapi tetap melakukan hal yang sama.”
Elden menatapnya, seolah sedang mencoba menemukan bagian percakapan yang bisa diperbaiki dengan penjelasan logis.
“Gue cuma melihat ada masalah dan berusaha mencari jalan keluar.”
“Gue bukan laporan yang harus lu beresin.”
“Ayu—”
“Gue bukan proyek kantor lu. Gue juga bukan anak buah lu.”
Suaranya tidak terlalu keras, tetapi cukup tajam untuk membuat Elden berhenti bergerak.
Untuk sesaat, keduanya hanya saling menatap. Ayu melihat wajah Elden yang kaku, matanya yang lelah, dan jemari yang masih menggenggam pulpen. Pemandangan itu mengingatkannya pada pertemuan pertama mereka. Saat itu Elden terlihat seperti seseorang yang juga sedang terjebak. Kini, untuk pertama kalinya, Ayu melihat bagaimana jebakan itu bekerja.
Bukan melalui teriakan. Bukan melalui ancaman. Melainkan lewat kalimat-kalimat yang terdengar masuk akal.
Lu perlu ini. Lu seharusnya begitu. Gue cuma membantu.
“Gue datang ke sini karena mau cerita,” kata Ayu, lebih pelan. “Bukan buat ikut rapat evaluasi hidup.”
Elden menurunkan pandangan ke meja. “Gue kira lu ingin punya rencana.”
“Gue ingin punya rencana yang gue buat sendiri.”
Kalimat itu membuat Elden kehilangan jawaban.
Ayu mengambil tasnya. Ia tidak menyentuh makanan yang sudah dipesankan Elden.
“Gue pulang.”
“Lu belum makan.”
“Bukan urusan lu.”
“Setidaknya bawa makanannya.”
“Gue bilang bukan urusan lu.”
Ayu berbalik sebelum wajahnya menunjukkan bahwa kemarahannya bercampur dengan sesuatu yang lebih rapuh. Ia tidak ingin menangis di depan Elden. Tidak ingin memberi laki-laki itu alasan untuk merasa semakin perlu menjaganya.
Di luar kafe, udara sore terasa lebih dingin. Ayu berjalan cepat menuruni trotoar, menahan napas setiap kali dadanya terasa sesak.
Ia tahu Elden tidak sepenuhnya salah. Uang memang harus dihitung. Makanan memang perlu dipikirkan. Hidup tidak bisa selamanya dijalani dengan keputusan spontan.
Namun, bantuan yang tidak diminta tetap bisa terasa seperti tali. Terlebih bagi seseorang yang baru saja memutuskan tali dari rumahnya sendiri.
Di dalam kafe, Elden tetap duduk di tempatnya. Makanan Ayu tiba beberapa menit kemudian, diletakkan di atas meja yang masih dipenuhi tabel pengeluaran dan catatan kerja. Ia memandang kotak makanan itu, lalu melihat tabel yang dibuatnya sendiri.
Awalnya, semua tampak seperti bentuk perhatian. Ia hanya ingin Ayu aman. Ia hanya ingin gadis itu tidak kehabisan uang. Ia hanya ingin mencegah kesalahan yang sebenarnya bisa diprediksi. Tetapi kalimat Ayu terus berputar di kepalanya.
Gue bukan proyek kantor lu.
Elden menatap layar laptop yang masih terbuka. Di sana terdapat pesan dari ayahnya yang meminta laporan diperbarui sebelum pagi. Ada pula catatan rapat, daftar tugas, dan instruksi yang harus ia teruskan kepada anggota tim.
Mendadak, ia melihat kesamaan yang selama ini tidak ingin ia akui.
Ayahnya tidak selalu memerintah dengan suara keras. Kadang-kadang, ayahnya memberikan “saran”. Mengatur pilihan. Menjelaskan risiko. Menawarkan jalan yang dianggap paling masuk akal.
Setiap keberatan selalu dibalas dengan kalimat yang sama.
Ayah hanya ingin kamu berhasil.
Elden mengusap wajahnya. Ia menghabiskan bertahun-tahun membenci cara ayahnya mengendalikan hidup orang lain, tetapi tanpa sadar mulai menggunakan cara yang sama kepada Ayu. Bedanya, ia menyebutnya kepedulian.
Ia menutup laptop. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia membiarkan pekerjaan menunggu.
Sesampainya di rumah, Elden membuka percakapan mereka. Ia menulis beberapa pesan, menghapusnya, lalu menulis ulang.
Pesan pertama terlalu panjang. Pesan kedua terdengar seperti pembelaan. Pesan ketiga masih menyelipkan alasan.
Akhirnya, ia mengetik:
Gue minta maaf. Tadi gue mengatur makanan, waktu, dan uang lu tanpa meminta izin. Gue menjadikan bantuan sebagai alasan untuk mengambil kendali. Itu salah gue. Lu tidak perlu membalas pesan ini atau langsung memaafkan gue. Gue akan menunggu sampai lu siap bicara.
Elden membacanya tiga kali. Tidak ada kalimat tentang niat baik. Tidak ada penjelasan bahwa ia sedang lelah. Tidak ada permintaan agar Ayu memahami sudut pandangnya.
Ia menekan tombol kirim. Pesan itu terkirim, tetapi tidak langsung dibaca.
Elden meletakkan ponsel di atas meja dan menjauh darinya. Ia tahu, untuk kali ini, menunggu adalah bagian dari permintaan maaf.
Di kamar kosnya, Ayu baru selesai bekerja ketika menemukan pesan tersebut. Ia membacanya sambil duduk di tepi ranjang. Seragam kedai masih melekat di tubuhnya, rambutnya berbau asap makanan, dan kedua kakinya terasa pegal.
Ia ingin marah.
Sebagian dirinya bahkan berharap Elden mengirim pembelaan agar ia punya alasan untuk mengabaikannya. Namun, pesan itu tidak memberi ruang untuk diserang.
Tidak ada “tapi”.
Tidak ada “gue cuma”.
Hanya pengakuan singkat bahwa ia telah melewati batas.
Ayu meletakkan ponsel di samping tubuhnya. Ia belum siap membalas. Belum tahu apakah ia ingin bertemu lagi. Belum tahu apakah permintaan maaf itu benar-benar berarti atau hanya cara Elden meredakan rasa bersalah.
Tetapi setidaknya, untuk malam ini, keputusan tetap berada di tangannya.
Dan itu sudah cukup.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari PADMARINI: Diantara Rumah dan Kebebasan.