CeritaGW
Buku / Bab
Bab 051.313 kata

Pesan dari Rumah

o

ontasuga

PADMARINI: Diantara Rumah dan Kebebasan

Mulai membaca

Pesan itu datang pukul 06.13, ketika Ayu masih setengah sadar dan tubuhnya belum berhasil meninggalkan sisa-sisa lelah dari kedai.

Ponselnya bergetar di lantai, di samping kasur tipis yang terlalu dekat dengan dinding. Sekali. Berhenti. Lalu bergetar lagi, lebih lama.

Ayu meraba-raba tanpa membuka mata. Cahaya layar langsung menampar wajahnya.

Nama Mira muncul di sana.

Untuk beberapa detik, Ayu hanya menatapnya. Nama itu membawa terlalu banyak hal sekaligus: suara piring diletakkan terlalu keras di meja makan, langkah kaki yang menekan lantai, pertanyaan yang selalu terdengar seperti tuduhan, dan keheningan panjang setelah pertengkaran yang tidak pernah benar-benar selesai.

Jarinya bergerak hendak menekan hapus. Pesan itu masuk sebelum ia sempat melakukannya. Panjangnya membuat layar menggulir sendiri.

Ayu duduk. Kantuknya lenyap, digantikan rasa sesak yang langsung memenuhi dada.

 

Mira menulis bahwa ia tidak mengerti mengapa Ayu tega melakukan ini kepada keluarganya. Ia menulis bahwa semua orang panik, bahwa Dimas hampir tidak tidur, bahwa ayahnya menyalahkan dirinya sendiri, dan bahwa rumah mendadak terasa seperti tempat yang kehilangan suara. Beberapa kalimat terdengar seperti kemarahan. Kalimat berikutnya berubah menjadi kekhawatiran. Lalu rasa bersalah. Lalu kemarahan lagi.

Mira meminta Ayu pulang.

Setelah itu, ia menuduh Ayu tidak memikirkan akibat perbuatannya. Kemudian ia mengatakan bahwa mungkin selama ini ia terlalu keras. Lalu, hampir tanpa jeda, ia menambahkan bahwa seorang anak tidak seharusnya meninggalkan rumah tanpa penjelasan.

Pesan itu seperti tangan yang menarik Ayu dari banyak arah. Tidak cukup kuat untuk menyeretnya kembali, tetapi cukup kuat untuk membuatnya kehilangan keseimbangan.

Ayu membaca sampai akhir dengan rahang mengeras.

Ada alamat rumah sakit? Tidak. Ada pertanyaan sederhana tentang apakah ia aman? Ada, tetapi terselip di antara puluhan kalimat yang membuat keselamatannya terasa seperti kewajiban. Seolah-olah ia harus segera pulang agar semua orang bisa berhenti takut. Seolah-olah kecemasannya sendiri tidak pernah dihitung.

Ayu melempar ponsel ke kasur. Layar masih menyala. Ia ingin memblokir Mira. Tidak hanya nomor itu, tetapi seluruh rumah. Semua pintu masuk yang bisa digunakan keluarganya untuk menyentuh hidupnya. Semua nomor, pesan, kenangan, dan suara yang membuatnya merasa bersalah karena memilih bernapas di tempat lain.

Ia membayangkan menekan tombol blokir.

Selesai.

Tidak ada lagi pesan yang menuntut jawaban. Tidak ada lagi nama Mira yang muncul di layar. Tidak ada lagi kalimat yang berusaha membuat Ayu merasa kejam karena ingin memiliki satu hari tanpa diawasi.

Namun, ibu tetaplah ibu. Pikiran itu datang bukan sebagai kasih sayang, melainkan seperti hukuman yang sudah tertanam terlalu dalam.

Ayu berdiri dan pergi ke kamar mandi. Ia membasuh wajah dengan air dingin, tetapi emosinya tidak ikut surut. Ketika menatap cermin, ia melihat mata yang sembap, rambut yang kusut, dan wajah yang tampak lebih muda daripada rasa marah yang menguasai dirinya.

Ia marah karena Mira cemas. Ia marah karena kecemasan itu dijadikan alasan untuk menuduhnya. Ia marah karena sebagian dirinya masih ingin mendengar bahwa ibunya khawatir. Keinginan itu terasa memalukan.

Ponselnya kembali bergetar. Nomor tidak dikenal.

Ayu tidak mengangkatnya. Panggilan berhenti. Beberapa detik kemudian, pesan baru masuk.

Dimas.

Ia mengenali cara kakaknya menulis bahkan sebelum membaca nama yang muncul. Pesannya lebih pendek daripada milik Mira. Tidak ada tuduhan panjang, tetapi justru itu yang membuatnya lebih sulit dihadapi.

Dimas hanya menanyakan apakah Ayu aman. Ia meminta agar Ayu membalas satu kata saja jika belum sanggup berbicara. Ia mengatakan bahwa Mira sedang sangat cemas, tetapi ia tidak akan memaksa Ayu pulang. Ia juga menulis bahwa ia menghubungi dari nomor lain karena Ayu mungkin memblokir nomor keluarga.

Ayu memejamkan mata.

Dimas selalu punya cara untuk membuat sesuatu yang menyakitkan terdengar masuk akal. Ia tahu Ayu: Tahu bagaimana cara Ayu berlari ketika merasa terpojok. Tahu bahwa diam bagi Ayu bukan berarti tidak peduli, melainkan satu-satunya cara agar ia tidak mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali. Tetapi mengetahui seseorang tidak otomatis memberi mereka hak untuk terus masuk.

Ayu duduk di tepi ranjang. Ponsel berada di antara kedua telapak tangannya, hangat akibat terlalu lama digenggam.

Ada bagian dari dirinya yang ingin membalas dengan amarah. Menumpahkan seluruh kalimat yang selama ini disimpannya. Menulis bahwa rumah tidak pernah terasa seperti rumah ketika setiap keputusan diperiksa, ketika setiap penolakan dianggap durhaka, dan ketika kepedulian selalu datang bersama tuntutan.

Ada bagian lain yang ingin menulis panjang, menjelaskan semuanya dengan hati-hati, supaya Dimas mengerti. Namun, pengalaman mengajarinya bahwa penjelasan panjang sering kali hanya menjadi bahan untuk perdebatan berikutnya.

Ayu mengambil buku catatan dari bawah bantal. Ia membuka halaman kosong dan menulis semua hal yang ingin dikatakannya.

Aku tidak pergi untuk menghukum kalian.

Aku pergi karena aku tidak bisa bernapas.

Aku tahu kalian takut.

Aku juga takut.

Aku tidak tahu bagaimana hidup sendiri, tetapi aku tahu aku tidak bisa kembali ke cara lama.

Tangannya berhenti.

Kalimat-kalimat itu terasa benar, tetapi terlalu telanjang untuk dikirim. Ia membayangkan Mira membaca semuanya, lalu memilih bagian yang paling menyakitkan untuk dibalas. Membayangkan Dimas datang dengan suara lembut, mencoba menjadi penengah, sampai akhirnya Ayu kembali berada di tengah ruangan yang penuh keputusan orang lain.

Ia merobek halaman itu.

Kertas terbelah tidak rapi. Potongan-potongannya jatuh ke lantai seperti sisa keberanian yang belum sempat digunakan.

Ayu membuka pesan Dimas lagi.

Ia mulai mengetik. Menghapus. Mengetik ulang. Menghapus lagi. Pada akhirnya, ia memilih kalimat yang paling pendek.

Aku aman. Aku belum siap pulang. Tolong jangan mencari atau melacak aku. Kalau aku sudah siap bicara, aku akan menghubungi kalian.

Ia membacanya sekali. Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada penjelasan. Tidak ada janji bahwa semuanya akan segera baik-baik saja. Jarinya berhenti di atas tombol kirim.

Dulu, membuat batas selalu terasa seperti menghancurkan hubungan. Setiap kali ia berkata tidak, seseorang akan menangis, membentak, atau mengingatkan semua pengorbanan yang pernah dilakukan untuknya. Akhirnya, Ayu belajar bahwa cara paling aman untuk tetap dianggap anak baik adalah dengan tidak memiliki batas sama sekali.

Tetapi tanpa batas, tubuhnya yang lebih dulu menyerah.

Tidurnya rusak. Nafsu makannya hilang. Kepalanya selalu penuh dengan suara orang lain. Bahkan saat berada sendirian, ia tetap merasa sedang diawasi.

Ayu menekan tombol kirim.

Pesan terkirim. Tidak sampai semenit, Mira membalas. Ayu tidak langsung membukanya. Ia tahu pesan itu mungkin berisi kemarahan baru. Mungkin permintaan. Mungkin kalimat yang membuat dadanya kembali sakit. Ia membiarkan ponsel tergeletak di sampingnya, lalu membuka jendela kamar.

Udara pagi masuk bersama suara motor, pedagang sarapan, dan seseorang yang sedang menyapu halaman kos. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada musik kemenangan. Dunia tidak berubah hanya karena Ayu mengirim empat kalimat kepada keluarganya.

Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak menghapus dirinya sendiri dari percakapan.

Ia mengatakan bahwa dirinya aman. Ia mengatakan bahwa dirinya belum siap. Ia mengatakan bahwa pencarian harus berhenti. Itu bukan pengkhianatan. Itu hanya informasi.

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini, Ayu membukanya.

Mira menulis bahwa ia akan berusaha menunggu. Ia juga menulis bahwa ia tidak mengerti mengapa Ayu harus pergi sejauh itu hanya untuk membuat batas. Pada akhir pesan, ada satu kalimat yang tidak memiliki tanda seru atau tuduhan.

Ibu takut kehilangan kamu.

Ayu membaca kalimat itu berkali-kali.

Amarahnya tidak hilang. Luka lamanya juga tidak tiba-tiba sembuh. Ia tetap kesal karena ketakutan itu datang terlambat, setelah bertahun-tahun kebutuhan Ayu dianggap berlebihan. Ia tetap tidak sanggup pulang. Ia tetap tidak mau keluarganya mencari tahu alamat kosnya.

Tetapi di balik semua kemarahan itu, ada rasa sedih yang pelan-pelan muncul.

Ayu tidak ingin kehilangan keluarganya. Ia hanya tidak ingin kehilangan dirinya sendiri demi mempertahankan mereka. Ia menutup percakapan tanpa membalas pesan Mira. Untuk hari ini, itu sudah cukup.

Beberapa menit kemudian, ia membalas Dimas dengan satu pesan tambahan.

Terima kasih sudah memastikan aku aman. Tapi tolong hormati batas yang aku tulis.

Dimas menjawab singkat bahwa ia akan mencoba.

Ayu tahu mencoba tidak sama dengan berhasil. Ia tahu batas yang baru dibuat harus dijaga berkali-kali. Mungkin nanti ada panggilan lain, orang yang datang ke kos, atau pesan yang lebih keras. Mungkin ia akan goyah.

Namun, pagi itu, ia menyimpan ponselnya tanpa memblokir siapa pun. Bukan karena ia sudah siap kembali. Bukan karena kemarahannya selesai. Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia percaya bahwa hubungan tidak harus dihancurkan hanya karena ia mengatakan tidak.

Dan untuk pertama kalinya pula, kata tidak itu terasa seperti miliknya sendiri.

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 05 / 5
PADMARINI: Diantara Rumah dan Kebebasan
04

Jangan Bawa Kantor ke Meja Kopi

1.403 kata / Tersedia

05

Pesan dari Rumah

1.313 kata / Sedang dibaca