ontasuga
PADMARINI: Diantara Rumah dan Kebebasan
Mulai membaca
Pagi pertama di kamar nomor tujuh dimulai dengan suara panci jatuh dari dapur bersama.
Ayu terbangun sebelum sempat memahami di mana ia berada. Selama tiga detik, ia menatap langit-langit pucat di atas kasur tipis dan menunggu suara ibunya memanggil dari balik pintu. Tidak ada. Yang terdengar hanya Bu Euis mengomel kepada seseorang agar tidak menaruh wajan basah di atas kompor.
Lalu ingatan datang sekaligus: rumah yang ia tinggalkan, uang muka kos, tanggal lima belas, dan daftar pendek di buku catatan Elden; Cari kerja.
Ayu duduk. Ponselnya menyala dengan tiga pesan dari Elden yang dikirim sejak pukul 06.12.
Pekerjaan harian: membantu bongkar barang di toko perlengkapan rumah. Datang pukul 07.30. Upah seratus dua puluh ribu per hari. Makan siang tidak disediakan.
Pesan kedua datang enam menit kemudian.
Ada juga pekerjaan membersihkan gudang percetakan. Pukul 09.00. Upah dihitung setelah pekerjaan selesai.
Pesan ketiga hanya berbunyi:
Jangan memilih berdasarkan upah saja. Periksa jarak dan syaratnya.
Ayu mengetik balasan.
Gue tahu cara baca pesan, Kak.
Elden membalas kurang dari semenit kemudian.
Saya tidak meragukan kemampuan membaca. Saya meragukan kemampuan memperkirakan waktu.
Ayu menatap layar dengan mulut terbuka.
“Sombong banget pagi-pagi”, dengus Ayu.
Ia melempar ponsel ke kasur, lalu langsung mengambilnya lagi. Satu-satunya benda di kamar itu yang bisa membantunya mencari kerja tidak boleh rusak hanya karena Elden menyebalkan.
Pukul 07.18, Ayu baru keluar dari kos.
Toko perlengkapan rumah itu berada di ujung jalan yang menurun, tetapi alamat yang dikirim Elden ternyata menunjukkan dua cabang berbeda. Ayu memilih jalan yang salah, baru menyadarinya setelah melewati tukang bubur yang sama untuk kedua kalinya. Ketika akhirnya tiba, jam di ponselnya menunjukkan 08.06.
Seorang pria bertubuh besar sedang berdiri di depan toko dengan wajah yang tidak menyembunyikan kekecewaan.
"Ayu?"
"Iya."
"Yang dari Pak Hendra?"
"Bukan. Dari teman saya. Katanya di sini butuh orang."
Pria itu memandangnya dari kepala sampai kaki. "Butuh. Tapi bukan orang yang datang terlambat setengah jam."
"Saya tersesat."
"Barang di gudang juga gak peduli kamu tersesat."
Nada itu membuat bahu Ayu menegang. Ia tahu seharusnya mengangguk dan meminta maaf. Namun, sejak meninggalkan rumah, ia terlalu sering mendengar orang dewasa menyebut kesalahannya seolah satu kesalahan cukup untuk menjelaskan seluruh dirinya.
"Kalau dari awal alamatnya jelas, saya juga gak tersesat," katanya.
Pria itu mengerutkan kening. "Kalau dari awal kamu berangkat lebih pagi, kamu juga gak terlambat."
Ayu langsung tahu percakapan itu tidak akan berakhir baik.
"Ya sudah, berarti gak usah."
"Memang."
Ia berbalik sebelum pria itu selesai mengucapkan kalimat berikutnya. Di trotoar, Ayu berjalan terlalu cepat, menendang kerikil, dan menolak melihat jam. Pekerjaan pertama gagal sebelum ia sempat mengangkat satu kardus.
Ia masih punya pekerjaan kedua.
Gudang percetakan berada di dekat jalan besar. Kali ini Ayu tiba dua puluh menit lebih awal. Ia duduk di warung seberang sambil minum air mineral murah dan membaca ulang pesan Elden.
Upah dihitung setelah pekerjaan selesai.
Kalimat itu seharusnya membuatnya bertanya. Ayu tahu. Namun, ia tidak tahu harus bertanya apa. Berapa per jam? Berapa banyak barang? Kalau selesai siang, apakah dibayar penuh? Kalau pekerjaannya lebih berat dari yang mereka katakan, apakah ia boleh menolak?
Di rumah, uang selalu tersedia atau tidak tersedia. Tidak pernah dibicarakan sebagai hitungan yang harus dipahami.
Pukul 08.55, ia masuk ke gudang.
Pekerjaannya memindahkan tumpukan kertas, menyapu sisa potongan karton, dan mengangkat dus tinta dari satu ruangan ke ruangan lain. Debu menempel di tenggorokan. Dalam satu jam pertama, Ayu sudah tahu bahwa tubuhnya tidak dirancang untuk mengangkat benda berat sambil terlihat anggun. Dalam satu jam kedua, ia berhenti peduli apakah masih terlihat anggun.
Seorang perempuan yang mengatur gudang memberinya instruksi cepat.
"Dus biru ke ruang belakang. Yang putih ditumpuk di dekat mesin. Jangan campur ukuran A4 sama F4."
Ayu mengangguk. Ia membawa dua dus sekaligus, lalu berhenti di tengah jalan.
"Yang ini dibayar berapa?"
Perempuan itu menoleh. "Nanti dihitung."
"Iya, tapi hitungnya bagaimana?"
"Sesuai kesepakatan."
"Kesepakatannya apa?"
Perempuan itu menghela napas. "Kamu dari tadi kerja dulu saja. Jangan banyak tanya."
Ayu melihat dus di tangannya. Kalimat itu terdengar persis seperti semua nasihat yang membuatnya kabur: lakukan dulu, mengerti belakangan. Ia menurunkan dus dengan agak keras.
"Kalau gak jelas, saya gak mau lanjut."
Suasana gudang mendadak diam. Mesin cetak dari ruangan depan tetap berdengung, tetapi orang-orang di sekitar Ayu berhenti bergerak.
Perempuan itu menyilangkan tangan. "Kalau begitu, pulang saja."
Ayu pulang.
Kali ini ia tidak merasa menang.
Di perjalanan kembali ke kos, ia menghitung uang tunai yang tersisa tanpa benar-benar perlu. Dua ratus enam puluh tujuh ribu rupiah masih sama. Tidak ada tambahan. Tidak ada hasil. Hanya telapak tangan yang memerah dan tenggorokan yang penuh debu.
Di depan gang, ia duduk di atas pembatas beton. Bandung bergerak di sekelilingnya seperti kota yang tidak pernah meminta izin sebelum meninggalkan seseorang.
Ponselnya bergetar.
Elden menelepon.
Ayu membiarkannya berdering sampai hampir mati, lalu mengangkatnya.
"Apa?"
"Gue menerima dua pesan dari tempat kerja. Yang pertama mengatakan kamu tidak datang. Yang kedua mengatakan kamu meninggalkan gudang."
"Kakak mengumpulkan laporan kegagalan gue?"
"Saya sedang mencoba memahami apa yang terjadi."
"Gampang. Yang pertama nyuruh gue datang terlalu pagi. Yang kedua gak mau bilang gue dibayar berapa."
"Kamu terlambat pada pekerjaan pertama."
"Gue tahu."
"Dan kamu meninggalkan pekerjaan kedua sebelum menanyakan angka yang spesifik."
"Gue sudah nanya. Mereka bilang nanti."
Di ujung telepon, Elden diam sebentar.
"Baik. Itu memang bukan jawaban yang cukup."
Ayu mengerutkan kening. Ia sudah siap mendengar ceramah. Persetujuan kecil itu justru membuatnya tidak nyaman.
"Kakak gak mau bilang gue terlalu emosional?"
"Kamu terlalu emosional. Namun, itu tidak berarti mereka benar. Dua hal dapat terjadi bersamaan."
"Nah, ini. Buku petunjuk lagi."
"Saya bisa bicara lebih singkat."
"Coba."
"Kamu terlambat dan mudah tersinggung. Mereka tidak menjelaskan upah. Keduanya masalah."
Ayu memijat pelipis. "Lebih singkat, tapi tetap nyebelin."
"Saya bisa menerima itu."
Ia menutup telepon sebelum Elden menemukan daftar kekurangan lainnya.
Sore harinya, Ayu mencoba pekerjaan ketiga dari papan pengumuman warung: membantu menjaga stan minuman di acara kampus. Upahnya dibayar per shift, makan diberikan satu kali, dan pekerjaan dimulai pukul empat sore. Syaratnya terlihat sederhana. Ayu merasa kali ini ia tidak mungkin gagal.
Ia gagal juga. Bukan karena terlambat. Ia datang dua puluh menit lebih awal.
Masalahnya muncul ketika pemilik stan menyuruhnya menawarkan minuman kepada orang-orang yang lewat. Ayu mendekati seorang mahasiswa yang tampak sedang terburu-buru dan berkata, "Mas, kalau mau pura-pura bahagia sambil minum yang manis, beli dua."
Mahasiswa itu tertawa dan membeli satu.
Lima menit kemudian, tiga orang ikut membeli setelah Ayu mengomentari wajah mereka yang terlalu serius untuk acara kampus. Stan mendadak ramai. Pemiliknya sempat terlihat senang.
Sampai Ayu menolak melayani seorang pelanggan yang memotong antrean.
"Mbak, saya cuma mau satu."
"Yang lain juga cuma mau satu. Antre."
"Saya buru-buru."
"Semua orang di sini juga punya kehidupan."
Pelanggan itu mendengus dan pergi. Pemilik stan memanggil Ayu ke belakang tenda.
"Kamu gak bisa ngomong begitu ke pelanggan."
"Dia nyerobot."
"Kita butuh uang mereka, bukan pelajaran etika."
"Kalau semua orang dibiarin nyerobot, yang antre rugi."
Pemilik stan menatapnya lama. "Kamu pintar membaca orang, tapi gak tahu kapan harus diam."
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada yang seharusnya.
Ayu melepas celemek dan menyerahkannya kembali. "Kalau begitu cari orang yang tahu kapan harus diam."
Ia pergi sebelum shift selesai. Upahnya dipotong setengah.
Malam sudah turun ketika Ayu sampai di kedai kecil dekat kampus. Ia berhenti karena melihat tulisan LOWONGAN di kaca depan. Kedai itu tidak besar. Hanya ada enam meja, satu kasir, dan papan menu yang sudutnya terkelupas. Dari dalam, aroma mi rebus, kopi, dan minyak bawang keluar bersamaan.
Seorang pemuda sedang menyusun gelas di rak. Ia menoleh ketika Ayu membuka pintu.
"Kalau mau pesan, tunggu. Kalau mau melamar, pemiliknya lagi di belakang. Kalau mau kabur dari mantan, tempat ini terlalu kecil untuk sembunyi."
Ayu memandangnya. "Gue kelihatan seperti orang yang baru kabur dari mantan?"
"Enggak. Lu kelihatan seperti orang yang baru dimarahi tiga atasan dalam sehari."
Ayu terdiam.
Pemuda itu menyeringai. "Raka. Gue yang jaga kasir malam."
"Ayu. Gue cari kerja."
"Pengalaman?"
"Banyak."
"Contohnya?"
"Datang terlambat, tersinggung, lalu pulang sebelum waktunya."
Raka berhenti menyusun gelas. "Jujur juga. Duduk dulu."
Ayu duduk di kursi dekat kasir. Ia menceritakan tiga pekerjaan hari itu tanpa berusaha membuat dirinya terdengar lebih baik. Raka mendengarkan sambil sesekali melirik pelanggan yang masuk, seolah ia bisa membagi perhatiannya tanpa kehilangan satu pun detail.
Ketika seorang perempuan masuk dan berdiri lama di depan menu, Raka hendak menghampiri. Ayu menahannya.
"Jangan dulu."
"Kenapa?"
"Dia lagi menghitung uang. Lihat tangannya. Dia sudah membuka dompet tiga kali, tapi belum lihat menu kedua. Kalau lu datang sekarang, dia bakal pesan yang paling murah cuma karena malu."
Raka menatap pelanggan itu. Perempuan tersebut akhirnya duduk di meja pojok, membuka ponsel, dan tidak memanggil siapa pun.
Dua menit kemudian, ia mengangkat tangan.
"Es teh sama roti bakar satu," katanya. "Yang paling murah."
Raka mencatat pesanan itu. Setelah selesai, ia kembali kepada Ayu.
"Oke. Itu tadi kebetulan?"
"Enggak."
"Lu sering memperhatikan orang seperti itu?"
"Orang lebih gampang dibaca kalau mereka sedang berusaha menyembunyikan sesuatu."
Raka menoleh ke meja lain. Dua mahasiswa tertawa terlalu keras. Seorang laki-laki berjaket kerja terus melihat jam. Seorang ibu muda menyisihkan kursi agar anaknya tidak tersenggol pelayan.
"Kalau yang itu?" tanya Raka.
Ayu menunjuk laki-laki berjaket kerja. "Dia bukan mau kopi. Dia mau tempat duduk sampai hujan reda. Kalau ditanya mau pesan apa, kasih pilihan paling cepat. Jangan tawarkan menu panjang."
Raka mencobanya. Laki-laki itu memesan kopi hitam dan langsung duduk dekat jendela.
Pemilik kedai, seorang perempuan bernama Mbak Sari, keluar dari dapur setelah melihat keributan kecil itu.
"Raka bilang kamu cari kerja."
"Iya, Mbak."
"Bisa kerja malam?"
Ayu melihat jam dinding. 20.17.
"Bisa."
"Bisa mencatat pesanan, mengantar makanan, bersih-bersih, dan menghadapi pelanggan yang merasa dirinya raja?"
"Kalau rajanya nyerobot antrean, saya tegur."
Raka menutup wajah dengan telapak tangan.
Mbak Sari justru tertawa. "Tegurnya jangan seperti mau perang."
"Saya bisa belajar."
Jawaban itu keluar sebelum Ayu sempat menyusunnya menjadi lebih keren.
Mbak Sari mengangguk. "Ada masa percobaan tiga malam. Mulai besok pukul lima sore sampai sepuluh malam. Upah per shift lima puluh ribu. Kalau ada tambahan bersih-bersih setelah tutup, saya bayar terpisah. Makan satu kali. Pembayaran setiap tiga hari. Kalau tidak masuk, kabari sebelum jam tiga."
Ayu tidak langsung menjawab.
"Tiga malam percobaan dibayar juga?"
"Dibayar."
"Kalau pelanggan sedikit?"
"Tetap lima puluh ribu."
"Kalau saya salah catat pesanan?"
"Kita lihat kesalahannya. Kalau kamu sengaja ceroboh, beda urusan."
Ayu menatap Raka. Pemuda itu mengangkat dua ibu jari, lalu menyadari gerakannya terlalu berlebihan dan menurunkan tangan.
"Saya ambil," kata Ayu.
"Besok datang tepat waktu."
"Saya bisa datang terlambat dengan sangat konsisten."
"Jangan jadikan itu kemampuan."
Ayu hampir tersenyum. Ia membuka aplikasi catatan di ponselnya dan menulis jadwal kerja, jumlah upah, serta tanggal pembayaran. Tulisan itu terlihat kecil di layar, tetapi angka lima puluh ribu terasa lebih nyata daripada semua rencana besar yang ia ucapkan sejak kabur dari rumah.
Raka melongok. "Lu punya rekening?"
"Punya. Kenapa?"
"Biar upahnya gak habis di hari pertama."
"Gue gak sebodoh itu."
Raka menatapnya.
Ayu menghela napas. "Oke. Mungkin sedikit."
Ia keluar dari kedai ketika hujan mulai turun. Jalanan mengilap di bawah lampu, dan udara malam membawa bau tanah basah dari gang-gang sempit di sekitar kampus. Hari itu ia tidak membawa pulang uang. Ia masih harus bertahan dengan jumlah yang sama, masih punya waktu kurang dari dua minggu, dan masih harus bangun pagi untuk membeli sabun dengan harga yang tidak membuatnya menyesal.
Namun, untuk pertama kalinya sejak memegang kunci kamar nomor tujuh, ia memiliki sesuatu yang bentuknya lebih jelas daripada harapan.
Jadwal, upah, dan tempat untuk datang besok.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Elden masuk.
Bagaimana hasil pencarian hari ini?
Ayu mengetik sambil berjalan.
Gagal tiga kali. Dapat kerja di kedai mulai besok. Lima puluh ribu per shift, lima jam, dibayar tiap tiga hari. Jangan bikin spreadsheet.
Balasan Elden datang beberapa saat kemudian.
Saya belum membuat spreadsheet.
Ayu tersenyum kecil.
Bohong.
Kali ini Elden tidak segera menjawab.
Ayu memasukkan ponsel ke saku dan mempercepat langkah menuju kos. Besok ia harus datang pukul lima. Tidak boleh terlambat. Tidak boleh pergi hanya karena seseorang bicara dengan nada yang tidak ia suka. Dan kalau ada masalah, ia harus bertanya sebelum meledak.
Pekerjaan itu tidak keren. Tidak ada meja kantor, pakaian rapi, atau nama jabatan yang bisa dipamerkan kepada keluarga. Hanya kedai kecil, upah lima puluh ribu, dan lima jam berdiri sambil membawa pesanan orang lain.
Tetapi ketika Ayu membuka pintu kamar nomor tujuh malam itu, ia menyadari sesuatu yang sederhana: pekerjaan tidak harus keren untuk menjadi awal.
Yang penting, besok ia punya alasan untuk bangun.