Zenith Ramadhan
Yang Tersisa di Meja Makan
Mulai membaca
20 Oktober 2012, tepat satu tahun Azkiya Football Club resmi dibentuk. Hari itu adalah momentum penting bagi Azkiya FC, setelah berlatih selama berbulan-bulan. Turnamen Sepak Bola pertama mereka akan berlangsung seharian. Lima lawan untuk masing-masing 20 menit pertandingan. Anak-anak sangat antusias, begitupun orang tuanya.
Azzam, salah satu pemain terbaik mereka tiba di lapangan tepat jam 8.00, ia dan orangtuanya mencari titik kumpul Azkiya FC. Ia melewati beberapa tenda milik sekolah sepak bola lain, dan terus mencari teman-temannya. Akhirnya ia melihat beberapa temannya sudah berlarian di pinggir lapangan, tepat di depan tenda mereka.
Tidak hanya untuk Azzam, ini adalah hal baru bagi kedua orang tua Azzam. Mereka hanya membawa beberapa hal yang mungkin diperlukan selama pertandingan. Ayah Azzam bahkan membawa Minyak Tawon di tasnya, antisipasi terjadi hal yang tidak diinginkan.
Sayangnya, mereka lupa membawa hal dasar: Alas duduk, dan konsumsi siap saji. Orang tua lain pun sama. Ada yang membawa buah semangka dan melon utuh, tetapi lupa memotongnya di rumah. "Tadinya biar dadakan di potong di sini, supaya fresh," tapi mereka tidak mengira bahwa tempatnya tidak proper untuk dijadikan "dapur umum dadakan".
Mereka sangat kompak dalam urusan tidak kompak ini. Akhirnya, sang ibu meminjam sebilah pisau dapur kepada penjual soto. Kemudian, ia mulai memotong semangka itu satu per satu di atas alas kantong plastik. Singkat cerita, semua makanan sudah siap tersaji, dan pertandingan pun dimulai.
Pertandingan berlangsung cukup alot, dengan skor imbang 1-1. Anak-anak yang mulai bersemangat kembali ke tempat kumpul mereka, dan mulai akan mengambil konsumsi yang tersedia. Namun, disitu para ibu tersadar. Tidak ada tempat cuci tangan, dan tangan anak-anak kotor pasca pertandingan.
Seorang Ibu mengeluarkan tissu basah dari tasnya. Sayangnya, beberapa anak sudah terlanjur mengambil beberapa semangka dengan tangan kotornya.
Azzam yang penuh semangat belum mau makan. Ia memilih lanjut berlatih passing dengan Gia. Setelah pertandingan kedua, mereka sudah paham untuk mengelap tangan terlebih dahulu sebelum menyentuh makanan. Azzam ikut dalam antrean semangka kali ini.
Pertandingan demi pertandingan selesai. Merekapun pulang dengan perasaan beragam. Para orang dewasa mungkin memiliki kesadaran diri yang tinggi, bahwa pertandingan pertama bukanlah untuk mengejar gelar juara, melainkan pengalaman dan pelajaran baru.
Akan tetapi, anak-anak memiliki sudut pandang yang sedikit berbeda. Sebagian mungkin mengerti, sebagian yang lain, termasuk Azzam, sedang belajar meregulasi emosinya sendiri. Ia kecewa, bagaimanapun ia telah kalah pada pertandingan pertamanya.
Tak hanya hatinya yang sakit karena kecewa, perutnya pun ikutan melilit. Malam itu, ia harus bulak-balik ke kamar mandi. Azzam diare. Ibunya sadar betul bahwa ini mungkin diakibatkan oleh kurang bersihnya konsumsi mereka hari itu.
Azzam benar-benar kehabisan energi. Sedikit makanan yang masuk, keluarnya lebih banyak. Mual, muntah, diare menyedot habis energi dari anak yang dikenal tak kenal capek itu.
Ia terkulai, tanpa tenaga. Ayahnya tidak di rumah, karena hari itu ia harus kerja, shift malam. Ibu Azzam merasa benar-benar bersalah. Andaikan saja sudah ada layanan pesan antar pada hari itu, maka ia akan memilih untuk memesan konsumsi yang lebih layak saji untuk anak-anak.
Nasi sudah benar-benar menjadi bubur. Azzam yang terkulai di sofa itu, memanggil lembut ibunya. Ibu bergegas menghampiri, dengan semangkuk bubur hangat di tangannya. Ia meninggikan sandaran Azzam, dan mulai menyuapi anaknya yang lemas itu, "Bismillah."
Azzam merasakan kehangatan mulai mengalir ke dalam kerongkongannya, menyapa lambungnya, dan mulai menghangatkan perutnya yang kempis. Ibu menyuapi Azzam dengan kehangatan dan mantra itu mulai bekerja di dalam tubuh Azzam.
Kini, Azzam sudah dewasa, terbaring sendiri di kamar kost-ya, dengan gejala yang sama. Tetapi, kini tidak ada ibu. Azzam menderita sakit tanpa ada mantra sakti ibu. Tidak ada semangkuk bubur hangat dan suapan ibu. Ia sangat ingin memanggil ibunya di telepon. Namun, ia urungkan. Ia khawatir ibunya akan benar-benar berlari mengejar bis tercepat untuk segera sampai ke kota, sedangkan kakinya sudah tak sekuat dulu lagi.
Azzam memilih berbicara dengan dokter, melalui layanan daring. Ia sudah dewasa, dan berharap bisa melewati itu sendiri, tanpa sepengetahuan ibu. Ia hanya ingin berita baik saja yang sampai pada ibu. Bukan sebaliknya, mengabari ketika ada perlu, tetapi tak berkabar saat baik-baik saja. "No news is good news" bukanlah sikap yang layak diberikan seorang anak terhadap ibunya.
Azzam duduk lesehan di samping tempat tidurnya. Ia perlahan menyuapkan sesendok demi sesendok bubur hangat yang ia pesan melalui aplikasi. Ia mencoba melakukan cara ibu, dalam kemandiriannya. Walaupun pada akhirnya, sisi anak-anak dalam dirinya menangis, berteriak, "Ibuuu. . .aku butuh ibu."
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Yang Tersisa di Meja Makan.