Zenith Ramadhan
Yang Tersisa di Meja Makan
Mulai membaca
Ping, sebuah pesan masuk ke ponsel Dian, "Nanti Ayah jemput, kita makan malam di tempat biasa."
Sebagian besar orang tumbuh sebagai anak Mama, tapi Dian sedari kecil lebih banyak berinteraksi dengan Ayah. Dia dengan bangga menyebut dirinya anak ayah.
Pukul 17:00, Dian bergegas merapikan meja dan tasnya. Bukan karena suaminya sudah menjemput, atau anaknya menelepon agar ia segera pulang, melainkan karena janji makan malam bersama ayah. Ya, selain sebagai istri dan ibu, ia juga tetap anak ayah. Ia menyambar mesin tap-out di pintu, bergegas keluar dari kantor.
Ayah sudah menunggu di lobby dengan senyuman hangatnya. Dian melambaikan tangan, dan segera menghampiri Ayah. "Ayo, sopir kita sudah menunggu di sebrang," kata Ayah. Dian meresponnya dengan tawa. Ia menggandeng tangan Ayah. Mereka pun berjalan ke luar gedung, menuju JPO.
Dian memperlambat langkahnya. Saat menaiki tangga, ia melihat Ayah yang mulai memegang lututnya setiap menaiki anak tangga. "Ayah baik-baik saja?" tanyanya. "Tentu, harus sehat. Karena kalau tidak sehat, harus ketemu dokter." Ayah tidak suka berhubungan dengan medis.
Mereka akhirnya tiba di halte bus. Sebuah DAMRI adalah jemputan yang dimaksud Ayah. Dian tidak kaget, ia sudah paham. Lucunya, ayah selalu tampak akrab dengan setiap pengemudi bus. Jadi, "dijemput sopir" bukanlah sebuah kebohongan bagi Dian.
Mereka berhenti di halte ke-7. Menuju sebuah area kuliner yang terkenal dengan menu sate kambingnya. Ayah sangat suka sate atau sop kambing. Dokter selalu melarang ayah memakan menu favoritnya ini. Itulah alasan mengapa ayah tidak suka dunia medis. Agak kolot memang, tapi bagaimanapun dia Ayahnya.
Mereka duduk di bangku kayu, menunggu pesanan mereka disajikan. Mata Ayah berbinar melihat daging-daging itu dibakar. Sesekali ia menelan ludah saking tergiurnya. Dian baru saja ingat bahwa dia belum mengabari suami dan anaknya. Tidak mau mengganggu Ayah, Dian pun mengetik pesan pada suaminya, "Aku makan dulu sama Ayah, di tempat biasa. Pulang agak terlambat, maaf yaa."
Suaminya membalas, "Aman, take your time. Kita ga tahu berapa lama lagi kita bisa melihat orang tua kita menikmati sesuatu yang disukainya. Salam untuk Ayah ya. Aku sebentar lagi sampai rumah."
Dian hanya tersenyum melihat respon suaminya. Dalam hatinya ia merasa sangat bersyukur bahwa ia memiliki dua orang laki-laki yang menyayanginya, dan ia sayangi sepenuh hati. Terlebih, ia sangat bersyukur bahwa ia masih bisa menghabiskan waktu dan menikmati kebersamaan dengan mereka. Dian menyimak Ayah yang sedang menikmati makanan kesukaannya di atas meja kayu itu.
Ia sadar, tidak semua orang memiliki rezeki yang ia nikmati ini. Bukan uang, melainkan seorang Ayah yang masih hidup, sehat dan bisa berinteraksi seakrab ini. Hampir semua orang dekat dengan ibu, tapi tidak banyak anak yang bisa bonding sedekat itu dengan Ayah. Dian amat bersyukur bahwa di dunia dengan angka Fatherless yang tinggi ini, dia bisa menikmati waktu bersama Ayah, dan dengan dukungan dari suaminya.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Yang Tersisa di Meja Makan.