CeritaGW
Buku / Bab
Bab 13459 kata

Roti Maryam

ZR

Zenith Ramadhan

Yang Tersisa di Meja Makan

Mulai membaca

Sejak lahir, Maryam tidak tinggal dengan orang tua kandungnya. Ia diasuh oleh pamannya yang belum kunjung dikaruniai seorang anak, yang ia panggil dengan sebutan Papa.

Orang tua kandung Maryam tidak pernah akur. Pada akhirnya mereka bercerai. Ibu Maryam memilih bekerja sebagai TKW di Dubai, bertahan dengan gaji Rp10juta/bulannya di sana. Ia memilih melarikan diri dari semua sudut kota yang selalu mengingatkannya pada mantan suaminya yang entah di mana. Maryam tidak pernah hafal wajah ayah kandungnya.

Yang Maryam tahu, Papa adalah walinya sekaligus ayahnya. Ia masih balita, tidak paham konsep ayah asuh versus ayah kandung. Suatu hari Papa mengajak Maryam ke stasiun untuk melihat kereta. Ia melihat papan nama toko Roti Maryam.

"Roti Maryam," ucap Papa, "Nama toko rotinya Maryam. Sama dengan nama kamu, Nak." Maryam tersenyum mendegar kalimat itu. Dengan lidah cadel balitanya, Maryam berkata, "Mau."

"Tentu," sahut Papa, "Rasa cotat?" Lanjutnya meniru logat Maryam. "Ya, cotat," jawab Maryam.

Papa segera memesan satu Roti Maryam rasa coklat. Ia hendak membayar menggunakan QRIS. Akan tetapi, "Mohon maaf Pak, QRISnya sedang tidak tersedia. Cash saja ya?" kata penjaga toko yang terlihat sibuk multitasking.

"Oh," keluh Papa, "Maryam tunggu sebentar ya. Jangan kemana-mana ya, Papa harus bayar dulu." Papa mau tidak mau menurunkan Maryam dari pangkuannya. Ia mulai menggeser tas dari punggungnya untuk mengambil dompet. Saat ia merogoh tas untuk mengambil dompetnya, perhatiannya benar-benar teralihkan dari Maryam.

Kereta datang, orang-orang mulai berlarian menuju kereta. Genggaman tangan Maryam terlepas dari pakaian Papa. Dalam sekejap Maryam menghilang. Papa panik luar biasa. Ia berlari ke sana kemari, mencari Maryam. Tangan Papa yang seharusnya menggenggam tangan Maryam, kini hanya memegang sekantong Roti Maryam.

Pintu kereta hampir tertutup, Papa bimbang mencari arah, apakah harus naik atau tetap mencari di stasiun. Kereta melaju. Papa memutuskan tidak naik. "Bagaimana jika Maryam ada di kereta itu?" pikiran Papa sudah hampir tidak terkendali.

Papa menengok ke kiri dan kanan. Orang-orang tampak tidak peduli, "Ada yang lihat anak saya? tingginya 102cm, dia memakai setelan warna pink." Orang-orang menggelengkan kepala.

Papa ambruk terduduk di lantai stasiun. Papa hampir putus asa, ia melempar roti di tangannya ke arah rel. Ia mendongak putus asa. Ia hendak mengancam langit, tetapi berujung memohon, "Yaa Rabb..." hanya kata itu yang sanggup keluar dari mulutnya. Dalam hatinya ia amat memohon "Tolong pertemukan kembali saya dengan Maryam!"

Orang-orang hanya menyaksikan seolah sedang menonton pertunjukkan. Papa benar-benar tidak berdaya. Seorang petugas stasiun menghampiri, mencoba membantu Papa berdiri. Ia bertanya dan berkata beberapa kalimat tetapi Papa tidak bisa mendengarnya, blank, telinganya berdengung.

"Papa," tiba-tiba ia mendengar suara kecil itu dengan jelas. Ia sendiri sempat meragukannya, "Itu delusi." Tetapi suara kecil itu terdengar sekali lagi. Sesosok anak kecil berbaju pink berlari menghampirinya. Di belakangnya seorang pria bertubuh tinggi mengikuti. "Mas Erik?" pikir Papa. Keajaiban mempertemukan kembali Maryam dengan Papa dan ayah kandungnya.

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 12 / 12
Yang Tersisa di Meja Makan
12

Semangkuk Bubur Pelipur Lara

710 kata / Tersedia

13

Roti Maryam

459 kata / Sedang dibaca