CeritaGW
Buku / Bab
Bab 02453 kata

Secangkir Kopi yang Menjadi Jelly

ZR

Zenith Ramadhan

Yang Tersisa di Meja Makan

Mulai membaca

Pagi itu berakhir hening, tanpa kata-kata. Kesalah-pahaman telah terjadi antara Dimas dan Rina semalam. Tetapi tidak ada satupun di antara mereka yang merasa perlu berbicara kepada satu sama lain. Hanya saja pikiran mereka penuh dengan kata-kata untuk diri sendiri. Saling menyalahkan dalam batin, terkadang menyalahkan pasangan, seringnya menyalahkan diri sendiri. Maaf, menjadi satu-satunya kata yang paling sulit untuk diucapkan.

Rina tetap bangun awal sepeti biasa. Menjalani rutinitasnya di dapur. Mengoseng beberapa tumisan dan menyiapkan secangkir kopi sachet. Bukan untuk dirinya, tetapi untuk Dimas. Rutinitas. Tangannya sudah otomatis menyambar cangkir dan gunting, menyiapkan mereka berdampingan, dan mengambil sebungkus kopi susu sachet. Otaknya belum sepenuhnya bangun. Ia menggunting bungkus kopi dan mulai menuangkan butiran-butiran halus itu ke dalam sebuah cangkir. Ia mengangkat gelas berisi kopi itu ke arah dispenser air panas, dan mulai memencet tombol.

Air panas mulai mengalir memenuhi cangkir. Uap panas mulai meliuk keluar dari dalam cangkir, perlahan menyebarkan aroma kopi ke seluruh ruangan kecil di rumah petak itu. Hidung Dimas tergelitik oleh aroma secangkir kopi. Ia mulai terbangun, saat Rini telah berpindah ruang untuk mengurus diri di kamar mandi. Dimas menyambar handuk, dan sempat memandang cangkir berisi kopi itu. Gengsi menahannya, lalu ia berlalu begitu saja, tanpa menyentuhnya, tepat saat Rina keluar dari kamar mandi. Begantian, mereka saling berpapasan badan tetapi mata mereka saling menghindar. Rina menyadari hal itu. Ia mulai berpikir, "Tidak enak ya begini, apa aku harus memulai pembicaraan? Tetapi mulai dengan kata apa? Kenapa? Ko? atau maaf? Ah tidak, bukan maaf, yang jelas bukan maaf." Dimas bertahan lama di dalam kamar mandi, dengan hanya sedikit pergerakan. Banyaknya, ia hanya memandang langit-langit atau exhaust fan yang terpasang di atas dinding kamar mandi. Kipas itu tak hanya menyedot udara tetapi seluruh pikirannya ke luar bersama uap-uap kegelisahan lainnya. Dan saat urusannya selesai di kamar mandi, ia bergegas memakai pakaian dinasnya dan memanaskan motornya. Hati Rina yang ikut panas mulai gelisah. Silent treatment ini tidak benar, pikirnya. Tetapi ia pun tidak tahu kata apa yang harus diucapkannya. Ia terus memandang ponselnya di kamar, menggigit bibirnya yang tak kunjung mengeluarkan suara. Jantungnya sudah benar-benar berdebar sampai ke kepala. Otaknya mulai mendidih, dan hatinya jelas bergolak. Sedang Dimas yang terlihat dingin tengah mengikat tali sepatunya di teras. Rina terus berpikir tanpa menemukan kata yang tepat. Dimas mulai menyeret motornya ke luar pagar, dan mulai menutup diri dengan menggeser pagar. Rina memandangi detik-detik terakhir kesempatan untuk mereka berbicara di pagi hari. Kesempatan yang hilang seiring tertutupnya pagar itu. Dimas telah benar-benar berlalu dari pandangan Rina. Kini tinggal Rina sendiri dalam heningnya rumah itu, bersama sekotak bekal dan perasaan menyesal yang tertinggal. Keheningan pagi telah menguras seluruh energinya. Pagi berganti siang, dan sebuah emosi yang dongkol terus menggumpal hatinya, seiring secangkir kopi yang kini telah mengental seperti jelly.

Bab selanjutnya

04 - Cita dan Rasa yang Terlambat

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Yang Tersisa di Meja Makan.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 02 / 8
Yang Tersisa di Meja Makan
01

Semangkuk Ind*mie Sebelum Tidur

449 kata / Tersedia

02

Secangkir Kopi yang Menjadi Jelly

453 kata / Sedang dibaca

04

Cita dan Rasa yang Terlambat

666 kata / Tersedia