Zenith Ramadhan
Yang Tersisa di Meja Makan
Mulai membaca
Hari Senin itu adalah hari terakhir dari minggu ke-40, dan Dara belum juga merasakan gejolak gelombang cinta sama sekali. Bidan Susi memprediksi hari ini sebagai tanggal kelahiran anak ke-dua Dara. Kehamilan anak pertamanya pun sama, tanpa gejolak atau mulas apapun.
Dara tidak pernah tahu rasanya mulas dan kontraksi. Yang Dara tahu hanya sakit pasca operasi caesar itu sesakit itu. Dan kini ia akan menghadapi proses yang sama, dalam usia yang berbeda. Di suatu sisi pengalaman pertama membuatnya tahu seperti apa rasanya, akan tetapi dia juga tahu, bahwa yang kedua mungkin akan berbeda. Apakah akan lebih mudah atau akan terasa lebih sakit setelahnya? Saat itu ia belum tahu. Yang ia tahu hanya, keputusannya sudah bulat, dan ia akan menghadapinya. Tetapi sebentar! Sebentar saja, ia ingin menikmati kelapa hijau ini sebelum ia naik ke meja pertarungan.
Pagi itu, Dara berangkat menaiki mobil Kijang tua yang dikendarai ayahnya. Sedangkan suaminya, menyusul menggunakan motor Beat-nya, "Untuk operasional, kalo-kalo perlu ke sana-kemari, ya. Kalo naik motor kan bisa lebih cepat."
Di perjalanan menuju Rumah Sakit, Dara melihat-lihat barangkali ada kedai kelapa muda yang sudah buka. Namun, ia kecewa karena rupanya pagi itu masih terlalu dini, dan belum ada satupun kedai es kelapa yang buka.
Dara merasa kecewa, ia merasa tidak adil terhadap anak keduanya. Dulu, saat kehamilan anak pertama mereka, hampir setiap minggu Dara meminum air kelapa ijo. Katanya, "Biar bayinya lebih bersih." Entah mitos atau fakta, Dara pun belum sempat memastikannya tetapi tetap mempercayainya. Anak keduanya ini, hampir lahir di tengah kondisi ekonomi mereka yang sedang turun. Sehingga, selama 9 bulan ini, keinginan Dara untuk meminum kelapa ijo belum terpenuhi.
Sayangnya, Dara tidak pernah bilang pada siapapun. Ia memilih menyimpan keinginannya itu sendiri, karena tidak mau membebani suaminya. Ia pun tak berani bilang pada orang tuanya, karena takut membuat orang tuanya khawatir, dan berpikiran sejauh "Oh buat kelapa ijo aja ga ada uangnya? Gimana buat persalinan?" Miris memang, tapi roda hidup itu benar-benar berputar. Kadang kita di atas, kadang di bawah sebawah-bawahnya.
Tinggal 500 meter jarak mobil tua itu dengan rumah sakit, akhirnya Dara melihat sebuah kedai Es Kelapa Muda buka. Memang belum tentu, ada stock kelapa ijonnya, tapi ini atut dicoba sebagai satu-satunya kesempatan yang ada sebelum perutnya kembali 'dirobek'. Penjualnya terlihat masih merapikan beberapa barang dagangannya. Dara sigap bilang kepada ayahnya, "Yah, berhenti sebentar di tukang es kelapa. Mau kelapa ijo," pinta Dara.
Ayahnya memasang sign lampu kiri. AKhirnya mobil yang melaju dengan kecepatan 30km/jam tadi itu berhenti di depan kedai es kelapa. Ayah turun dari mobil dan membelikan Dara sebutir kelapa ijo yang segar. Kali ini keadaannya pas, permintaan Dara tampak impulsif, tidak terdengar seperti permintaan yang sudah lama dipendam.
Dara menyeruputnya, dan langsung merasa seolah-olah energinya full tank. Entah karena kelapa ijonnya benar-benar berkhasiat, atau itu hanya keyakinan Dara saja. Suaminya jelas sampai lebih dulu dan mengurus administrasi pendaftaran persalinan Dara.
Dara benar-benar merasa percaya diri, ia dengan santai menjalani satu-per satu langkah persiapan tindakan operasi. Ia tidak sabar ingin bertemu dengan buah hatinya yang kedua --dan mungkin terakhir-- karena Dara merasa dua anak sudah lebih dari cukup.
Ia akhirnya berbaring di ranjang yang didorong memasuki ruang tunggu atau antrean operasi. Dari atas ranjangnya ia melihat lalu lalang pasien caesar lainnya, yang memasuki ruang operasi maupun yang keluar dari ruang operasi. Bergantian, setiap kurang lebih 15-20 menit, "Apa iya?", ia sendiri terheran-heran.
Akhirnya tiba giliran Dara, ranjangnya didorong memasuki ruang tindakan. Yang ia ingat terakhir kali adalah, seluruh ruangan itu dilapisi keramik, seperti dapur. Ia dipindahkan dari ranjang dorong, ke sebuah meja yang berada tepat di tengah-tengah "dapur" itu. Ia seolah berada di atas meja makan. Belum sempat melihat-lihat lebih jelas, ia disuruh berdo'a, sambil duduk. Lalu tiba-tiba sengatan suntikan mencubit tulang belakangnya dan menghilangkan seluruh kesadarannya. Proses persalinan pun berlangsung, tanpa Dara sadari.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Yang Tersisa di Meja Makan.