CeritaGW
Buku / Bab
Bab 01449 kata

Semangkuk Ind*mie Sebelum Tidur

ZR

Zenith Ramadhan

Yang Tersisa di Meja Makan

Mulai membaca

Dapur sudah benar-benar sepi saat air mulai mendidih. Tidak ada suara televisi, tidak ada langkah kecil berlarian, tidak ada kelakar, bahkan kipas angin pun sungkan bersuara. Yang tersisa hanya suara tik-tik dari jarum jam di dinding, dan desis dari gelembung-gelembung kecil di dalam panci. Rumah ini akhirnya diam---diam yang selalu ia tunggu, dan entah kenapa, diam yang juga terasa terlalu luas.

Nina akhirnya mulai membuka kemasan Ind*mie dengan perlahan, seolah memastikan prosesnya tidak terlalu berisik. Bumbu-bumbu kecil diletakkannya di samping mangkok putih yang berhasil ia ambil pelan-pelan. Jari-jari lentiknya mulai merogoh sekotak mie instan dari bungkus dan mencelupkannya pelan-pelan ke dalam paci yang semakin berdesis.

Ia mulai memecahkan sebuah telur yang perlahan melompat indah ke dalam panci yang mulai beraroma khas. Tangannya gesit menyambar gunting yang menggantung, dan mulai meletakkan bubuk-bubuk perasa ke dalam mangkok putih yang sudah disiapkannya. Disisihkannya bawang goreng untuk sentuhan akhir, selalu begitu.

Ia teringat suatu hal penting, bergegas membukan pintu kulkas, dan mendapati kekosongan. Ia kehabisan caisim. Ia pun kembali ke dapur, menyambut seporsi Ind*mie yang sudah hampir siap saji. Ia mulai mengangkat mie yang tidak kotak lagi, menyusul telur yang sehangat matahari. Uap panas mulai naik, sekilas menyentuh wajahnya, hingga menutupi seluruh kacamatanya. Ia mengintip di balik embun. Ada sesuatu yang menenangkan dari rutinitas ini. Sesuatu yang tidak berubah, ketika hampir semua hal lain terasa di luar kendali.

Ia mulai berbalik membewa semangkuk kehangatan saat ia melihat jam sudah menujukkan pukul sebelas. Suaminya belum pulang. Ia tidak mengecek ponsel.

Tidak lagi.

Dulu ia tidak suka makan mie instan. katanya terlalu asin, terlalu banyak mengandung Natrium. Terlalu cepat. Terlalu...tidak ada ceritanya. Saat masih bekerja, ia suka membawa bekal yang ia masak sendiri. Nasi hangat, dengan tumisan sederhana, kadang sambal buatan sendiri. Ia suka prosesnya--memotong, menumis, mencicipi. Ada rasa 'punya kendali' di situ.

Sekarang, dapur tetap ia masuki setiap hari, tapi bukan untuk dirinya. Ia hafal semua kesukaan orang-orang di rumah ini. Anak pertama selalu suka ayam goreng dan telur setengah matang. Anak kedua tidak suka sayur yang terlalu lembek. Suaminya bilang apa saja, dan jarang berkomentar walaupun kadang masakannya kurang rasa, dan kadang berkomentar ketika rasanya terlalu asin. Ia hafal. Ia selalu menyesuaikan. Lama-lama ia lupa kapan terakhir kali dia masak untuk dirinya sendiri, hanya karena dia ingin.

Dia memecahkan telur, merebusnya setengah matang dan mendapati sedikit percikan rasa puas. Ia mulai mengangkat beberapa lembar mie dengan sumpitnya. Ia meniup mie itu pelan. Tidak benar-benar panas---ia hanya menunda, menikmati melambatnya dunia. Karena ia tahu, saat mie ini habis, maka malam ini juga selesai. Besok, ia akan memulai lagi dari awal.

Ia menyeruput sesendok kuah hangat. Bunyi sluurrp memecah keheningan, satisfying. Ia tersenyum kecil---bukan karena bahagia, tetapi karena akhirnya hari ini selesai, tanpa ada sesuatu yang benar-benar salah. Dan entah kenapa, baginya itu cukup.

Bab selanjutnya

02 - Secangkir Kopi yang Menjadi Jelly

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Yang Tersisa di Meja Makan.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 01 / 8
Yang Tersisa di Meja Makan
01

Semangkuk Ind*mie Sebelum Tidur

449 kata / Sedang dibaca

02

Secangkir Kopi yang Menjadi Jelly

453 kata / Tersedia