Zenith Ramadhan
Yang Tersisa di Meja Makan
Mulai membaca
Adin adalah seorang milenial yang telah hidup melalui beberapa 'zaman'. Awalnya Adin tak tahu bahwa hal sederhana yang pernah ia keluhkan di waktu kecil akan menjadi sebuah trend saat ia memiliki anak di rumah.
Adin tumbuh bersama nenek dan kakek yang hidup dari pertanian: Emak dan Aki. Mereka makan dengan sangat normal, ada nasi, lauk pauk, buah dan sayur yang sebagian berasal dari kebun kakek. Saat Adin kecil, opsi jajanan paling membosankan adalah bajigur yang abangnya berkeliling menggunakan gerobak berisi produk rebusannya: jagung, ubi, kacang tanah, bahkan kacang hijau yang sekarang dikenal dengan nama edamame.
Aki memang rajin berkebun, tetapi Emak justru beternak. Aki punya kebun jeruk, ubi, alpukat, dan sawah yang luas. Sedangkan Emak beternak ayam petelur. Emak kadang berjualan kue juga. Emak juga punya kolam ikan, ikannya mudah dipancing atau bahkan diserok. Hampir setiap hari Adin kecil makan ikan, atau telur, atau ayam. Adin kecil pernah berteriak pada Emak, "Ikan terus bosen Maak."
Ia ingat betul ia tidak pernah mau lagi makan ikan sejak kelas 5 SD sampai 5 tahun bekerja. Pasca pandemi, dunia serasa kembali ke jaman itu, di mana orang-orang berkebun, beternak, dan makan real food. Jajanan membosankan pun tiba-tiba merebak lagi di tahun 2025 ini. Rebusan mulai banyak yang jual is a wow, setelah beberapa dekade yang Adin kenal hanya tukang gorengan.
Ikan yang pernah Adin blackist dari menunya pun kini kembali hadir di meja makan. Satu hal yang Adin pelajari dari Emak dan Aki. Jangan menyisakan makanan di piring. Walaupun kamu sudah membayar semua makanan yang ada di piringmu, efisien dalam pengelolaan makanan adalah cara Adin menghargai jerih payah petani dan peternak seperti Emak dan Aki.
Adin ingat saat lelah memanen tomat sekebun, tapi ternyata harganya cuma tujuh ribu per karung. Adin ingat saat padi gagal dipanen karena hama tikus. Adin ingat tidak hanya Aki, tetapi wajah petani lainnya yang tetap tegar walaupun hasil panen tidak sesuai ekspektasi. Adin sadar bahwa beternak dan berkebun itu murni bertransaksi dengan Allah. Ikhtiarnya maksimal, tawakalnya juga maksimal. Tidak ada kepastian berapa penghasilan setiap bulannya. Tetapi berkahnya terasa sampai anak-cucu.
Kini Adin sebagai kepala keluarga mengajarkan bahwa setiap makanan yang tersaji di hadapan kita adalah rezeki, dan yang masuk ke perut kita adalah hak kita. Tetapi perlu diingat, ada orang-orang yang berjuang tanpa terlihat di balik sampainya makanan itu ke dalam perut kita. Tak perlu dikenal, tapi baiknya tetap kita hargai. Dan in this economy, ternyata real food adalah menu yang tidak menghianati siapapun.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Yang Tersisa di Meja Makan.