Zenith Ramadhan
Yang Tersisa di Meja Makan
Mulai membaca
Azalea, seorang wartawan di Harian Pertiwi. Ia tengah meliput kebakaran hutan yang terjadi di beberapa kawasan di negaranya. Hal ini sangat tidak disukai oleh suaminya, yang merupakan pegawai daerah di Kota Buana.
Suaminya yang dekat dengan para pejabat itu, sering pulang larut. "Lembur," katanya. Untungnya, Azalea pun sama, terkadang perlu liputan malam, dan pulang larut. Untungnya juga, mereka tidak kunjung dikaruniai buah hati. "Untungnya," begitu ucap Azalea dalam hati.
Suatu hari, liputan yang dibawakan Azalea secara langsung, viral. Liputan itu mengenai tewasnya beberapa ekor orang utan dikarenakan kebakaran. hutan yang tidak kunjung reda. Azalea tak sanggup menahan tangis di tengah liputan. Hal ini banyak mengundang empati. Azalea hampir dipromosikan, tetapi ia menolak.
Ia paham, Rico, suaminya, tidak akan senang dengan promosinya. "Akan makin kurang ajar dong kamu, kalo dapat promosi," begitu Rico meracau setiap mendengar rencana promosi Lea. Sejak saat itu, Lea selalu menolak promosi, "Boleh diganti dengan apresiasi lain saja Pak?" tanyanya setiap ditawari promosi.
Begitu liputan ini viral, Rico sudah paham akan kemungkinan istrinya mendapat promosi, "Wah di atas angin dia," ungkapnya. Rupanya, ia tidak tahu bahwa Lea sudah pasti akan menolaknya. Ia pulang dalam keadaan cemburu, bukan pada sosok pria, tetapi pada prestasi istrinya. Sungguh pria yang aneh!
Azalea tengah menikmati makanannya malam itu, di meja makan. Rico pulang dengan muka garang. Rico mulai meracau dengan teori "Kamu dapat promosi kan pasti gara-gara liputan tentan kebarakan hutan? Kamu tau bos-bosku ga sukaaa!!! Mereka menghukum aku, semakin ngebully aku. Sedangkan kamu pasti dapat promosi. Makin kurang ajar kau nanti, Lea!" Lea sudah bosan dengan pertengkaran yang sama, ia memilih diam, dan tetap menghabiskan makan malamnya.
Diamnya Lea rupanya memicu amarah Rico semaki berkobar. Merasa tidak didengar, Rico menarik telinga Lea, menoyor kepalanya, dan menjambak rambutnya. Lea yang kesakitan mulai meringis. Lea tidak memiliki kata-kata yang pantas untuk diutarakan sebagai respons makian Rico. Ia bertahan dalam sakitnya, sampai saat Rico menendang perutnya. Dan mulai menarik kerah bajunya, sambil mengumpat.
Azalea mulai mengerang, dan meledak. Ia mengulurkan tangannya ke meja makan, mencoba menggapai benda apapun di atas meja. Ia berhasil meraih piring, dan memukulkannya ke kepala Rico. Rico yang kaget dengan reaksi Azalea mendadak membeku, membisu. Azalea berlari ke luar rumah, tanpa alas kaki. Saat itu rumah tangga mereka berai, sebagai mana barang pecah belah yang terbentur dari ketinggian.