Zenith Ramadhan
Yang Tersisa di Meja Makan
Mulai membaca
Arini terbangun dengan lesu di pagi hari. Ia melihat poselnya, bukan untuk mengececk jam, tetapi memastikan tanggal, untuk kemudian menghitung berapa lama lagi ia harus bertahan ke tanggal gajian berikutnya. "Bertahanlah tiga hari lagi," bisiknya, menyemangati diri. Ia membuka mobile bankingnya, mengecek berulang kali, walaupun sudah tahu bahwa untuk biaya admin tabungan pun saldonya masih kurang. Ia membuka dompetnya, dan mendapati Tuanku Imam Bonjol menyambutnya dengan ekspresi wajah yang datar dan serius. Dia mencoba memetik ujung uang itu mencoba memastikan barangkali ada tersisip beberapa lembar lainnya, padahal ia tahu bahwa ketebalan yang dipegangnya tak lebih dari selayaknya satu lembar uang kertas lima ribu rupiah. Ia mengembalikan uang terakhirnya itu ke dalam dompet. Tak putus asa, ia membuka laci demi laci di kamarnya untuk menemukan kepingan uang logam. Tak satupun ditemukannya. Semuanya sudah habis, tak tersisa. Ia tidak mungkin meminta kepada orang tuanya di kampung, yang juga bergantung pada kiriman bulanan darinya. Tak ingin membuang waktu dan energi di pagi hari, ia bergegas mandi dan memakai riasan tipis untuk menutupi kekurangannya. Ia berangkat dengan perut yang kosong dan kepala yang penuh. Pagi sekali untuk seorang gen Z yang terkenal perhitungan akan waktu kerja. Rupanya, ia berburu sarapan gratis yang biasanya diberikan kantornya kepada 50 pegawai pertama yang datang di pagi hari. kabar baiknya, hari ini ia bisa makan.
Kabar buruknya, gaajiannya jatuh pada hari Selasa, sehingga ia harus berpikir bagaimana caranya uang lima ribu rupiah itu bisa cukup sampai setidaknya hari Minggu. Sedangkan galon minumnya pun sudah hampir habis. Ia menenteng tumbler super besar kosong dari kosannya, dan mengisinya penuh di kantor. Hal rutin yang dilakukannya di pagi hari dan sebelum pulang dari kantor. Jam makan siang tiba, rekan-rekannya mengajaknya makan siang bersama. Kali ini ia harus menggunakan jurus yang sama lagi, "Duluan aja, aku lagi IF,"---intermitten fasting katanya. Tidak sepenuhnya berbohong, ia memang sedang puasa karena tidak ounya cukup uang untuk membeli makan. Kadang ia berpikir, seandainya dia adalah seorang laki-laki, maka ia akan sholat Jumat di mesjid yang menyediakan Menu Jumat Berkah. Tetapi ia langsung menepis pikiran itu. Terkadang sempat terbersit pemikiran untuk berbisik pada rekan kerjanya, "Pinjam dulu seratus," tapi ia paham betul bahwa hal seperti itu dapat mencoreng reliabilitas dan integritasnya di kantor. Ia berpikir bagaimana caranya menghasilkan uang instan, pekerjaan sampingan, menjadi affiliator, atau menjadi reseller, hampir semuanya ia coba, dan butuh waktu. Ia sempat hampir menyerah dan berpikir "Bahkan untuk menjual diri pun perlu waktu." Maka jangan sampai pernah terpikirkan hal bejat seperti itu, katanya terhadap diri sendiri.
Ia selalu mencoba sibuk di kantor agar tidak sempat merasakan lapar. Satu hal yang membuatnya kecewa pada saat-saat seperti ini adalah jam pulang kantor. Ia harus berjalan melewati jajaran pedagang kaki lima yang aroma masakannya pasti akan menggelitik lambungnya. Satu hal yang ia syukuri dari lokasi kosannya ini adalah ia tidak perlu mengeluarkan sepeserpun uang untuk ongkos, bensin ataupun parkir. Ia cukup berjalan sejauh 2km. Tidak buruk untuk menjadi seorang pedestrian di zaman yang ramai dengan campaign healthy lifestyle ini. Ia mulai menyebrang jalan, melewati gerobak nasi goreng yang wangi bawangnya semerbak. Kemudian, ia melewati gerobak pecel ayam dengan tampilan etalase ayamnya yang tersusun rapi, lengkap dengan tahu, tempe, dan sate kulitnya yang terpampang nyata di dalam etalase kaca tembus panndang. "Glek," ia mulai menelan ludah. Gerobak terakhir adalah tantangan yang paling nyata. Kepulan asap yang membumbung tinggi dari pembakaran sate madura, dengan suara dan aroma yang khas. Sungguh ia tak sanggup berpura-pura tidadk tergoda. Arini berlari kecil mencoba segera mengakhiri tantangan ini hignga sampai ke garis finish, keset Welcome kosannya.
Ia membuka kunci kamar, menyemprotkan pewanfgi ruangan untuk menyamarkan bau masakkan yang menempel pada pakaiannya. Ia menyiapkan handuk dan segera mandi. Saat mengusapkan sabun ke bagian perutnya, ususnya berteriak minta tolong. Ia pun segera membilas badannya dan keluar dari kamar mandi. Dengan uang yang tinggal lima ribu ini, ia memilih mengkonsumsi dopamin, dan melupakan waktu sehingga ia tak merasa lapar lagi. Arini memilih terlelap di malam hari dan menjumpai esok hari dengan sebuah bakwan dan tahu isi.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Yang Tersisa di Meja Makan.