CeritaGW
Buku / Bab
Bab 09570 kata

Kuali Tak Lagi Memasak

ZR

Zenith Ramadhan

Yang Tersisa di Meja Makan

Mulai membaca

Takbir yang sejak tadi terus berkumandang, perlahan senyap terjeda magrib. Orang-orang mulai berbuka puasa dengan perbekalan yang mereka bawa, atau seadanya. Aku yang sejak tadi terlelap, lupa menyiapkan takjil untuk berbuka. Tiba-tiba sebuah tangan yang dingin dan keriput menyentuh tanganku. Seorang lansia yang duduk di kursi sebelah menawarkan kelebihan air mineral, rupanya. "Buka dulu, Nak," katanya pelan. Suaranya bergetar melawan usia. Aku menerima botol itu dan mengangguk, berterima kasih karenanya aku bisa melepas dahaga. Aku menatap jendela, wajahnya terpantul di sana. Ia tersenyum sambil tertunduk di samping seseorang yang tampak seusiaku. Punggungnya sudah bungkuk. Kelihatannya bernafas saja sudah berat baginya. Ia duduk di kursi yang nyaman tapi ia tetap tampak kelelahan. Melihat keriput di wajahnya, aku teringat padamu, Ibu. Bisku hampir sampai di pemberhentian terakhir. Aku mengambil tasku di bagasi sambil berpamitan dan sekali lagi berterima kasih kepada Ibu yang memberiku minum itu. Aku melihat ponselku, membuka aplikasi ojek online langgananku. Aku pulang ke rumahmu, aku akan segera sampai, Ibu.

Rupanya hujan mendahuluiku. Ojekku tidak membawa jas hujan cadangan. Kami Memutuskan untuk berteduh sebentar, karena aku khawatir barang-barangku akan terkena hujan. Maaf ibu, ternyata aku akan sedikit terlambat kali ini.

Takbir terus bersahutan dari mesjid ke mesjid. Aku memutuskan melanjutkan perjalanan seiring redanya hujan. Sepanjang jalan aku melihat suka cita di wajah orang-orang yang merayakan. Beberapa kali kembang api mengudara menambah kemeriahan. "Mudik Bang?" basa basi ojek mulai dilancarkan. Aku menjawab secukupnya. Bukan karena merasa terganggu atau menyepelekan sapaan abang ojek. Sebetulnya, dari tadi aku menahan sesuatu di bawah rahang bawahku. Lidahku kelu, mataku menahan bongkahan air mata agar tidak mencair. Aku hampir sampai, Ibu. Sebentar aku bayar ojekku dulu.

Aku benar-benar sudah tiba di depan rumahmu, Ibu. Aku melihat Engkau tersenyum dari depan pintu, menyambutku meriah sebagaimana orang-orang menyambut lebaran. Tapi itu dulu, Ibu. Kini aku disambut suara angin yang bertiup dari pohon kenanga yang ibu tanam dengan tangan ibu sendiri. Bahkan caraku mengucap salam saat memasuki rumahmu, tidak bisa sama lagi, Bu. "Assalamu'alaina wa'ala ibadillahi shaalihiin..." karena tidak lagi ada yang akan menjawab salamku. Aku mulai membuka kunci pintu yang selama ini aku simpan di laci kamarku, masih dengan gantungan kunci kelinci kecil, rajutan tangan Ibu. Kali ini tak cuma hatiku tapi juga tanganku bergetar hebat, saat aku melangkah masuk ke ruang tamu. Aku menyalakan lampu dan mendapati debu-debu telah hinggap di hampir seluruh perabotan rumah ini. Aku menyisir satu-per-satu ruangan yang penuh dengan kenangan. Bayang-bayang kasih sayang, perdebatan kecil, teriakan sayang Ibu dan keceriaan yang pernah kita bagi bersama di ruang keluarga. Televisi yang sudah mulai usang itu masih menayangkan memori-memori baik yang kita alami bersama dalam bayangku. Akhirnya aku sampai di ruangan paling hangat yang pernah ada. Ruangan yang penuh dengan keajaiban tangan Ibu, meramu dan memasak makanan favoritku. Kompor itu masih ada di sana, Ibu, tapi sudah tidak pernah menyala lagi.

Dan kuali yang tergantung di paku itu tak pernah lagi digunakan untuk memasak. Kuali itu adalah saksi dari sunyi, sepi, hening, hampanya dapur ini tanpa nafasmu, Ibu.

Aku tak sanggup melanjutkan langkah. Aku berhenti di meja makan, menarik kursi kayu yang mulai reyot, dan duduk di atasnya. Air mataku tak sanggup lagi terbendung, Ibu. Aku rindu.

Vas bunga yang biasanya selalu berisi bunga segar, kini kosong, Ibu. Dulu saat aku duduk di sini, Ibu segera datang membawa sepiring masakan yang baru selesai Ibu masak. Apapun menunya, Ibu. Sungguh aku merindukannya. Jari jemariku menyusuri setiap sudut meja. Tapi Ibu, sajian di meja makan malam ini, hanya ada debu dan air mata. Ibu, aku benar-benar rindu.

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 08 / 8
Yang Tersisa di Meja Makan
08

Makan Malam yang Terlewat

658 kata / Tersedia

09

Kuali Tak Lagi Memasak

570 kata / Sedang dibaca