Zenith Ramadhan
Yang Tersisa di Meja Makan
Mulai membaca
Matahari terlalu terik untuk balita yang sedang menempuh perjalanan pulang dari hari pertama sekolah. Emir masih berusia empat tahun, tetapi ayahnya sudah lama berpulang. Ibu Emir harus selalu berangkat banting tulang setiap hari. Pagi ia harus mengajar di TK Alam Mutiara. Siangnya ia harus menjadi tutor les di Prestasi Bintang Course. Sedangkan sore, ia harus berangkal ke mushola Ar Rahmah untuk mengajar Baca Tulis Qur'an anak usia dini. Barulah di malam hari ia membuka kedai kebab di halaman rumahnya. Ia ingin mencurahkan seluruh waktu dan tenaganya untuk pendidikan Emir, tetapi dunia menantangnya menjalani multiperan sebagai ibu dan juga sebagai 'ayah' bagi Emir.
Ibu mengayuh sepedanya di atas jalanan beton, di bawah terik matahari. Tatapannya kosong beberapa detik. Ia memikirkan makan siang Emir. Pada jeda waktu yang singkat, antara sekolah dan tempat les. Dan diantara himpitan tanggal tua dan perut yang keroncongan, ia tersadar karena sebuah permintaan dari anak kecil yang duduk di belakangnya itu, "Bu, tadi di sekolah, Emir belajar tentang macam-macam sayuran dan makanan bergizi. Bu Guru bilang untuk bekal harus makanan yang sehat dan mengenyangkan, dan makanan sehat yang paling Emir ingat itu sayur. Emir tahu macam-macam sayur, ada wortel, jagung, ada bayam. Oya Bu, Emir mau makan bayam!!" Sebuah permintaan sederhana dari kesayangan di siang hari yang panas itu membuat hati Ibu sedikit lega.
"Bayam ya? Tentu! Bayam kan sehat. Bisa bikin tubuh kuat kayak Popeye," jawab Ibu refleks. "Popeye siapa, Bu?" tanya Emir polos. "Popeye itu...," Ibu tersadar. Ia baru saja menggunakan tempate jawaban yang lahir spontan dari amigdala. Rupanya otak Ibu menyimpan memori masa lalu saat kalimat itu diucapkan hampir setiap hari oleh Nenek yang kini bahkan sudah tidak ada di dunia. Nenek seperti ibu pada umumnya, selalu ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Akan tetapi himpitan ekonomi membuat pilihan menjadi sangat terbatas. Walaupun begitu, nenek selalu memastikan anak-anaknya makan masakan rumahan yang ia buat dari hasil kebun dan ternak di belakang rumah sebagai cara mengungkapkan kasih sayangnya. Bayam adalah salah satu dari yang paling sering nenek masak untuk anak-anaknya.
Dari obrolan bayam yang sehat ini, ternyata sebuah memori mencuat. Bagai sebuah keping uang logam, yang memuat dua sisi. Memori yang disimpan amigdala tentang bayam rupanya bukan hanya tentang hangat dan sehatnya, melainkan juga kalimat yang disesali ibu sepanjang usianya.
Ya. kalimat itu sempat ibu lontarkan kepada Nenek. Saat keadaan ekonomi sangat sulit, tetapi Nenek tetap ingin memberi nutrisi yang baik bagi anaknya, bayam menjadi menu pilihan yang hampir setiap hari disajikan oleh Nenek di meja makan. Bagi seorang anak kecil yang sering melihat bekal teman-temannya berupa ayam goreng atau telur, bayam setiap hari itu membosankan. Sampai suatu hari, Ibu kecil tak hanya kehilangan nafsu makan, tapi juga kehilangan kendali diri atas ucapannya:
"Aku muak dengan bayam, Bu."
Saat itu mungkin hanya hati Nenek yang sakit. Namun saat ini, hati ibu jauh lebih sakit saat mengingatnya. Sakit yang hanya bisa dirasakannya, tanpa bisa diungkapkan dengan kata-kata. Rasa sakit yang disertai sesak di dalam dada, akibat rasa bersalah, dan mengingat yang disakiti dengan kesalahan itu adalah hati orang yang paling disayangi dan menyayanginya, hati yang seharusnya paling ia jaga.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Yang Tersisa di Meja Makan.