Zenith Ramadhan
Yang Tersisa di Meja Makan
Mulai membaca
Mia dan Asrul tengah menghadapi krisis tahun-tahun pertama mereka dalam rumah tangga. Cobaannya meliputi himpitan ekonomi, perelaan mimpi, perubahan prioritas, dan lain semacamnya. Perdebatan sering terjadi di antara mereka. Hingga suatu hari, Mia merasa sudah tidak lagi memeiliki energi untuk komplai, berdebat apalagi ribut. Mia selalu kusut di pagi hari, tetapi Asrul bahkan tidak komentar.
Belakangan, kontrakan 3 petak itu kaku dan sunyi. Hanya ada sapaan 'seperlunya'. Suasananya canggung, bahkan jam dinding ragu-ragu untuk berdetik. Mia melihat kalender pemberian mesjid yang menggantung di dinding. Ia mulai menghitung hari. "Rasa-rasanya sudah seharusnya waktu datang bulan," pikirnya. Benar saja, ia sudah terlambat dua minggu dari jadwal seharusnya.
Mia mengingat informasi dari apoteker bahwa sebaiknya test dilakukan pada urin pertama di pagi hari. Saat subuh hampir tiba, Mia terbangun. Ia memastikan Asrul masih pulas. Mia harus melakukan test lebih dulu sebelum Asrul terbangun. Ia meraih dompet belanjanya dan menyelinap ke kamar mandi.
Tiba saat yang ditunggu-tunggu. alat itu menunjukkan garis dua. Mia benar-benar hamil! Mia hampir menjerit bahagia, tetapi ia ingat harus menyampaiakn berita ini dengan benar. Ia melanjutkan rutinitas paginya sambil bersenandung.
Saat ia menyiapkan sarapan, dan Asrul sudah bersiap, ia mulai juga menyiapkan kejutan untuk Asrul. Mia tidak sabar ingin memberitahu Asrul. Di sisi lain, ada rasa khawatir pada diri Mia. Ia khawatir respon pertama Asrul tidak sama dengan harapannya. Dia takut Asrul tidak sebahagia ia saat pertama kali mengetahui kabar itu. Namun bagaimanapun, kabar itu tetap harus disampaikan. Mia sudah berencana menyampaikan kabar itu saat Asrul sudah duduk rapi di meja makan. Tetapi kata-kata itu mendahului rencananya.
Asrul sedang bercermin sambil menyisir rambutnya. "Bang, siap-siap jadi Bapak ya, aku hamil." Asrul membeku di depan cermin, sisirnya terhenti tepat di atas kepalanya. Ia menengok pelan ke arah Mia yang bayangannya terpantul di cermin. Ekspresi apa itu? Ada senang yang tertahan khawatir dan sedikit tidak percaya. Mia mengulangi kalimatnya, "Aku hamil." Wajah Asrul mulai berubah memancarkan haru, bahagia walaupun kehawatiran akan masa depan tetap tidak bsia disembunyikan. "Gua bakal jadi bapak?" Tanggung jawab Asrul tumbuh seiring bahagia yang membuncah.
***
Menjelang hari prediksi kelahiran, Mia mengidam Ketoprak Bang Jali. Bang Jali yang tekun berjualan sepanjang tahun, sudah 3 hari ini tutup. Gerobaknya ditutupi berbapa lembar karung dan dus. Rupanya Bang Jali sudah lama pulang ke kampung istrinya. "Tega banget deh padahal cuma mau ketoprak masa ga dapat... Padahal cuma ngidam ketoprak bukan sate maranggi," Mia merengek seperti anak kecil yang tidak dibelikan Kinder Joy oleh orang tuanya.
"Ganti yang lain mau ga?" bujuk Asrul. "Gamau. Maunya ketoprak," ujar Mia tegas. Asrul bukan tidak berusaha, dia bahkan sudah hampir 3 hari berkeliling kota tetapi kedai-kedai ketoprak benar-benar tutup. Rupanya harga kacang sedang naik drastis. Hari itu ia tidak menyerah, dengan bensin terakhirnya ia berkendara lebih jauh, dan akhirnya mendapati satu kedai ketoprak yang buka. Ia membawa pulang sebungkus ketoprak itu kepada istrinya.
Wajah girang Mia terpancar. Akhirnya ia bertemu dengan makanan yang ia idam-idamkan beberapa hari ini. Pada suapan pertama ketopraknya, Mia mengalami kontraksi hebat. Cairan ketuban mulai membasahi rok dan tempat duduknya. Tanpa peringatan dini, kontraksi final itu datang. Belum sempat Mia menelan ketoprak itu, ia sudah harus bergegas diangkut menuju bidan terdekat. Belum sempat ketoprak itu masuk ke tenggokoran, Mia sudah harus menghadapi pertarungan antara hidup dan mati. Ketoprak 8-ribuan itu tertinggal di atas meja makan.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Yang Tersisa di Meja Makan.