CeritaGW
Buku / Bab
Bab 05473 kata

Gulali yang Bersiul

ZR

Zenith Ramadhan

Yang Tersisa di Meja Makan

Mulai membaca

Gerbang sekolah menjadi garis batas, tidak ada siswa yang boleh keluar dari batas itu selama jam sekolah, termasuk jam istirahat. Tangan Anta mendarat di pagar, "Mang gulalinya satu," teriaknya dari balik pagar. Tangannya menembus celah diantara besi-besi yang memagari dinding sekolah itu, menyodorkan uang selembar, Rp1.000,-

Di hadapan Anta terbentang sawah yang luas, dan gunung-gunung yang saling berbisik. Tapi tidak ada satu pun siswa ataupun pedagang yang peduli dengan pemandangan ini. Bagi warga Desa Mekarsari itu hal biasa. Kebersihan dan kesehatan juga belum menjadi perhatian mereka. Yang mereka tahu hanya orang tua banting tulang di sawah dan ladang, supaya anak-anak mereka kelak tidak ada yang turun ke sawah, "terlalu berat," katanya. Anak-anak harus sekolah supaya tidak menjadi petani seperti orang tuanya.

***

Ekonomi memang belum seperti sekarang saat itu. Anak-anak harus berjalan sejauh satu sampai dua kilometer untuk bisa sampai ke sekolah. Jalur yang mereka lewati adalah pesawahan dan satu rel kereta. Tidak ada yang diantar dengan kendaraan bermotor. Sesekali ada satu sampai dua anak yang dijemput dengan sepeda motor. Sudah pasti mereka jadi pusat perhatian saat dijemput dengan sepeda motro. karena bagi yang lain, dua anak tadi berarti sudah cukup kaya di desa itu.

***

Setiap jam 9.30 pagi, pedangang-pedagang asongan itu berbaris di pinggiran sungai kecil yang lewat di depan sekolah. Ada yang berjualan es teh manis dalam kemasan plastik. Ada juga yang berjualan gorengan. Kadang-kadang tukang balon dan mainan ikut nangring. Sesekali tukang harum manis juga melambaikan tangan pada para siswa. Kali ini, yang sering absen tetapi dinanti bebrapa siswa telah datang, tukang gulali. Tukang gulali itu menerima uang dari Anta, lalu mulai menyalakan api kecil di kompornya. Ia mulai melelehkan adonan gula, dan mencubit sedikit adonan dengan tangannya, tanpa sarung tangan. Kemudian adonan itu dibentuknya menyerupai seekor burung kecil, dengan bantuan sebatang lidi. Ia mulai membuat lubang sepanjang tubuh burung kecil itu, mulai dari bagian mulut hingga belakang, lalu ditiupnya lubang itu sehingga muncullah siulan.

"Wuaahh...," Anta terkesima melihat pertunjukkan sederhana tukang gulali itu, "Berhasil Mang," serunya. Anta tidak sabar ingin meniupnya juga. Tangannya berkibar di antara celah pagar, berusaha meraih gulalinya. Ia segera menyambar gulali itu, dan berlari kembali ke kelas sambil meniup gulali burungnya itu dengan penuh antusias. Teman-teman mulai mendatanginya, "Apaan itu Ta? wah keren bisa bunyi." sahut sebagian temannya, "Wiih burungnya bunyi," sahut sebagian yang lain. Beberapa anak mulai berlari menuju tukang gulali. Sedangkan Anta sudah mulai bosan dengan siulan burung kecil itu, Anta mulai menyuapkan gulali kecil itu ke mulutnya. Giginya menghantam gulali itu, tubuh burung kecil itu mulai remuk diantara gigi-gigi Anta. Anta kini sedang menikmati jajanannya sebelum kelas berikutnya dimulai. Gula-gula yang mulai lumat itu membuat dopamin dan serotoninnya bereaksi. Ia merasa bahagia dengan mainan yang juga makanannya itu.

***

"Kenapa ya, dulu, orang bisa jajan tanpa terlalu risih dengan kandungan gizi dan aspek kebersihan, tetapi tidak benar-benar menjadi sakit karenanya?" Sebuah pertanyaan yang muncul dari lamunan di meja makan.

Bab selanjutnya

06 - Ketoprak yang Tak Sampai Ke Tenggorokan

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Yang Tersisa di Meja Makan.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 04 / 8
Yang Tersisa di Meja Makan
04

Cita dan Rasa yang Terlambat

666 kata / Tersedia

05

Gulali yang Bersiul

473 kata / Sedang dibaca

06

Ketoprak yang Tak Sampai Ke Tenggorokan

536 kata / Tersedia