CeritaGW
Buku / Bab
Bab 04666 kata

Cita dan Rasa yang Terlambat

ZR

Zenith Ramadhan

Yang Tersisa di Meja Makan

Mulai membaca

Pagi itu, Cita terlambat bangun, tetapi anak-anaknya sudah rapi dan wangi. Bu Dian, mertua Cita memandikan mereka. "Wah adik sedang makan, disuapin Eyang..." sapa Cita pada anak keduanya. Merasa bersalah, Cita berbisik pada mertuanya, "Maaf ya Bu, Cita semalam ada kerjaan sampai jam 4.30 baru selesai. Mau lanjut bangun malah keleyengan."

"Gapapa, Nduk. Sing penting kamu sehat, anak-anak aman ada Eyang. Mas Adi juga lagi antar Ibang ke sekolah, sekalian berangkat kerja," Bu Dian menenangkan menantunya yang merasa bersalah, "Sarapan dulu, Cit, Ibu sudah masak sup." "Iya Bu," Cita bergegas mandi dan menyantap sarapannya. Ia memperhatikan anak dan mertuanya dari meja makan.

Sarapan Adik hampir selesai. Tak mau kehilangan kesempatan, Cita berkata, "Alat makannya biar Cita aja yang nyuci, Bu. Cita hari ini libur." Bu Dian tersenyum paham. Ia meninggalkan alat makan si kecil di tempat cucian piring. Kemudian kembali memomong cucu keduanya. Cita mencuci piring dengan cepat agar tidak terlalu merepotkan mertuanya. Ia bergegas menghampiri anak ke-duanya dan membujuk mertuanya yang sudah tidak muda lagi itu untuk beristirahat.

Cita sebenarnya sudah melihat ekspresi lelah di wajah mertuanya. Cita sangat ingin sekali merekrut seorang pengasuh yang bisa dipercaya, tetapi mertuanya bersikeras tidak ingin membiarkan orang lain mengasuh cucunya, "Khawatir kalo anak diasuh orang tuh, kita aja kadang ga sabar sama anak kita, apalagi orang lain. Udah banyak kasus ... ," ujar Bu Dian.

Terkadang Cita berpikir, apakah seharusnya ia berhenti bekerja dan fokus menjadi ibu rumah tangga? Akan tetapi, ia sadar bahwa keluarganya masih membutuhkan sokongannya, begitu pula suaminya. Mereka adalah anak-anak yang menjadi penyokong dana keluarga besar masing-masing. Mereka sepakat bahwa penghasilan dari dua kepala dapat membantu mengangkat perekonomian kedua keluarga besar mereka.

Sebagai akibatnya, Cita tidak dapat menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Di sisi lain, mereka semua tidak mau mengambil resiko yang tidak diharapkan dari menitipkan anak kepada orang yayasan ataupun asisten lainnya.

Waktu makan siang telah tiba, Cita mengetuk pintu kamar mertuanya, "tok tok...Bu, makan siang dulu Bu," Bu Dian hanya menjawab singkat dari dalam kamar, "iya," tanpa membuka pintu. Kecurigaan kedua Cita muncul, tetapi ia tetap berpikir mungkin ibunya sedang memikirkan keluarga di kampung halaman atau memang sedang sangat lelah. Untuk memastikan, Cita mengetuk pintu sekali lagi, "Ibu baik-baik aja kah?" "Aman, Nduk," Jawabnya singkat. Cita tetap merasa ada yang janggal. Ia bahkan sempat berpikir apa ibunya marah karena ia bangun terlambat dan anak-anak sempat terbengkalai selama ia ketiduran di pagi hari ini? Ataukah ada kesalahan lain yang tanpa Cita sadari sudah menyakiti mertuanya? Cita tidak tahu pasti jawabannya. Sedang Bu Dian masih mengaku tidak ada masalah.

Cita mengirim pesan pada suaminya, "Mas, maaf aku tadi bangun kesiangan. Ibu marah kah Mas?" Adi membalas, "Kayaknya ngga, tadi pagi aku mau bangunin kamu, tapi justru ibu bilang, 'Jangan dibangunkan, kasian sudah kerja semalaman, anak-anak biar sama ibu dulu' gitu kata Ibu. Makanya aku ga bangunin kamu. Ada sesuatu yang terjadi di rumah?"

"Ngga sih Mas, cuma Ibu dr jam 10 belum keluar kamar. barusan aku ingetin untuk makan siang tapi Ibu belum ke luar kamar juga. Aku khawatir. Apa ibu sakit Mas?" "Coba kamu tanya Ibu, aku bentar lagi harus presentasi ni." Adi mengakhiri percakapan. Cita memutuskan untuk menunggu sebentar lagi, barangkali mertuanya segera keluar. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Cita berniat untuk mengetuk kembali pintu kamar Bu Dian, tetapi pintunya terbuka lebih dulu. Bu Dian keluar dari kamarnya langsung menuju kamar mandi.

Cita tak sempat melihat wajah beliau karena posisinya membelakangi kamar Bu Dian. Cita melanjutkan mengetik pada keyboardnya, sedang anak-anaknya sedang bermain dengan mobil-mobilannya. "Nyalang...yang..." si kecil bergumam sambil melirik ke arah kamar mandi. Cita tersadar, "Ibu terlalu lama di kamar mandi" Cita mengedor pintu kamar mandi, "Bu? Ibu?" Bu Dian tak kunjung menjawab. Cita menelpon Adi dalam kekalutan, tapi Adi tak kunjung mengangkat telepon. Anak-anak mulai menangis dan keadaan cukup kacau saat Cita mulai panik. Menunggu Adi terlalu lama, pikirnya. Akhirnya ia mendobrak pintu kamar mandi itu sekuat tenaga. Tangisan anak-anak semakin riuh, dan Cita menjerit sejadi-jadinya, "Ibuuuu . . ." Hari itu, Cita tak hanya terlambat bangun dan melewatkan pagi. Ia melewatkan momen terakhir ibu mertuanya.

Bab selanjutnya

05 - Gulali yang Bersiul

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Yang Tersisa di Meja Makan.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 03 / 8
Yang Tersisa di Meja Makan
02

Secangkir Kopi yang Menjadi Jelly

453 kata / Tersedia

04

Cita dan Rasa yang Terlambat

666 kata / Sedang dibaca

05

Gulali yang Bersiul

473 kata / Tersedia