Lindayanti
Trio Minus
Mulai membaca
Semua mata tertuju ke satu arah, pintu masuk kantin. Dari sana, berjalanlah sesosok makhluk Tuhan yang paling dihindari dosen karena sering mendebat tapi dipuja mahasiswi karena visualnya yang meresahkan.
Samuel Adrian.
Mahasiswa Teknik Mesin yang legendaris. Jaket kulit hitam yang menjadi ciri khasnya tampak sedikit pudar di bagian siku, menambah kesan rebel. Rambutnya agak berantakan tertiup angin padahal dia berada di dalam ruangan, seolah-olah angin pun tunduk untuk memberikan efek slow motion padanya. Tatapan matanya tajam, setajam silet, yang bisa bikin lutut mahasiswi baru lemas seketika.
Dia berjalan lurus. Tegas. Mengabaikan tatapan memuja, takut, dan penasaran di sekitarnya. Sepatu boots-nya menimbulkan bunyi dok-dok yang mengintimidasi di lantai ubin kantin.
"Mampus," bisik Evelyn, wajahnya memucat drastis. Warna darah seolah tersedot habis dari pipinya. Dia buru-buru menyambar daftar menu kantin yang sudah lecek dan berminyak dari meja, lalu menutupi wajahnya.
"Ngapain lo sembunyi?" tanya Hanna heran, alisnya terangkat satu. Dia tidak terpengaruh oleh pesona Samuel, mungkin karena hatinya sudah beku atau seleranya memang seaneh itu.
"Itu Samuel! Dia pasti nyari gue buat nagih utang rasa!" desis Evelyn dari balik daftar menu.
"Utang rasa apaan?" Jessy ikut bingung, bakwan jagung di tangannya terlupakan.
Belum sempat Evelyn menjawab dan menjelaskan kerumitan hubungan absurd nya dengan Samuel, cowok itu sudah berdiri di samping meja nomor 4. Bayangannya menutupi meja mereka, menciptakan gerhana matahari lokal.
Aroma parfum maskulin yang kuat bercampur sedikit bau asap rokok dan aroma rempah menguar dari tubuhnya. Kombinasi yang aneh, tapi entah kenapa di tubuh Samuel, itu menjadi wangi yang memabukkan.
Samuel mengetuk meja pelan dengan jari telunjuknya.
Tok. Tok.
Evelyn perlahan menurunkan daftar menu, nyengir kaku seperti orang yang ketahuan mencuri mangga tetangga. "Eh, Samuel. Apa kabar? Cuaca cerah ya? Mataharinya bersinar terik, cocok buat jemur kasur."
Samuel tidak menjawab basa-basi sampah itu. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Dia merogoh saku jaket kulitnya yang dalam. Gerakannya pelan, membuat jantung Evelyn berdegup kencang. Apakah dia akan mengeluarkan surat cinta?
Samuel mengeluarkan sebuah benda yang membuat seisi kantin termasuk Jessy, Hanna, Pak Kumis, dan kucing kantin yang sedang lewat menganga tak percaya.
Sebuah toples kaca kecil.
Toples itu berisi cairan merah pekat dengan tekstur kasar. Dan yang paling absurd, di atas tutup toples itu, direkatkan dengan selotip bening secara asal-asalan, ada setangkai bunga mawar merah yang sudah agak layu, kepalanya terkulai sedih.
"Buat lo," kata Samuel. Suaranya serak-serak basah yang seksi, jenis suara yang cocok untuk menjadi vokalis band rock atau pengisi suara iklan rokok.
Evelyn menelan ludah, jakun imajinernya naik turun. "I-ini apa, Sam?"
"Sambal terasi," jawab Samuel santai.
Hening lagi. Kali ini hening karena kebingungan massal.
"Gue baru ulek tadi pagi sebelum berangkat. Cabainya gue petik sendiri dari kebun nenek gue. Terasi nya asli Cirebon. Pedesnya pas, kayak mulut lo kalau lagi ngomel." Samuel menyodorkan toples itu lebih dekat ke wajah Evelyn. "Mawarnya bonus. Biar romantis dikit. Kata Google cewek suka bunga."
Hanna menepuk jidatnya keras. Plak.
Jessy menahan tawa sampai wajahnya merah padam, pipinya menggembung seperti ikan buntal yang hampir meledak.
"Makasih... ya?" Evelyn menerima toples itu dengan tangan gemetar. Toplesnya masih terasa sedikit hangat. Astaga, ini benar-benar fresh from the ulekan.
"Dimakan. Awas kalau dikasih ke orang lain," ancam Samuel, matanya menyipit sedikit, memberikan tatapan mengintimidasi yang anehnya justru membuat beberapa mahasiswi di meja sebelah memekik tertahan.
Lalu, dia mengedipkan sebelah matanya. Wink.
Tanpa babibu lagi, Samuel berbalik badan. Jaket kulitnya berdesir. Dia berjalan pergi meninggalkan meja nomor 4, sama kerennya saat dia datang, meninggalkan jejak aroma terasi samar yang tertinggal di udara.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik setelah punggung Samuel menghilang di balik pintu kantin...
"HAHAHA!" Tawa Jessy meledak. Dia memukul meja berkali-kali, tidak peduli orang-orang menatap mereka. "Gila! Romantis banget sih temen gue! Dikasih sambal terasi! Fix, bentar lagi lo jadi Duta Cabai Kampus! Ratu Ulekan!"
Evelyn menatap toples sambal di tangannya dengan tatapan nanar. Bunga mawar layu di atas tutup toples itu seolah mengejek nasib percintaannya. Tapi, perlahan sudut bibirnya sedikit terangkat.
Masalahnya satu, Evelyn tahu sambal buatan Samuel itu enak banget. Tiada tanding. Dan sialnya, Samuel tahu kelemahan Evelyn adalah makanan pedas. Cowok itu tahu persis cara menyogok lambung sekaligus hati Evelyn.
"Kayaknya gue emang harus ruqyah," gumam Evelyn pasrah, menimang toples itu. "Gimana bisa gue deg-degan dikasih sambal terasi? Standar gue serendah ini ya?"
"Tenang," kata Hanna sambil menepuk bahu Evelyn, wajahnya kembali datar namun matanya menyiratkan geli. "Setidaknya dia bisa masak. Itu skill bertahan hidup yang penting. Coba bandingin sama Hansen."
Jessy langsung berhenti tertawa, tertarik dengan topik baru. "Kenapa lagi si anak sultan itu?"
Hanna menghela napas, menunjuk tas tote bag kanvasnya yang tergeletak di kursi. "Kemarin dia ngasih gue kipas princess warna pink. Yang ada tombolnya terus baling-balingnya nyala lampu kelap-kelip itu lho."
"Hah? Buat apa?" tanya Evelyn tak percaya.
"Katanya gue sering kepanasan kalau nunggu dosen di koridor. Dia bilang, Hann, ini biar kamu adem dan tetep shining shimmering splendid. Gue mau marah tapi dia ngasihnya sambil senyum bangga banget."
Tawa Jessy pecah lagi, kali ini lebih keras sampai dia tersedak sisa bakwan. "Sumpah! Hansen tuh kadang otaknya ketinggalan di brankas bapaknya ya? Kipas princess?!"
"Kita beneran Trio Minus," simpul Jessy akhirnya, sambil menyeka air mata di sudut matanya karena kebanyakan ketawa. Dia memandang kedua sahabatnya dengan tatapan sayang. "Crush nya juga minus semua kewarasannya. Yang satu dingin kayak kulkas, yang satu preman dapur ulekan, yang satu lagi bocah terjebak di tubuh orang kaya."
"Udah, ayo cabut. Kita ada kelas Bu Ratna lima menit lagi," ajak Hanna sambil membereskan buku-bukunya. "Kalau telat, bisa-bisa kita disuruh ngejelasin kurva indiferen di depan kelas."
Mereka bertiga bangkit. Evelyn buru-buru memasukkan toples sambal terasi itu ke dalam tasnya, membungkusnya dengan tisu berlapis-lapis agar baunya tidak menyebar ke seluruh ruang kuliah.
Perjalanan dari kantin menuju gedung perkuliahan adalah sebuah perjuangan tersendiri. Bukan karena jauhnya, tapi karena efek serangan Samuel tadi masih terasa. Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengan mereka senyum-senyum penuh arti ke arah Evelyn.
"Cieee, yang dapet sambal cinta," goda seorang teman seangkatan mereka saat berpapasan di tangga.
Evelyn hanya bisa meringis. "Diem lu!”