CeritaGW
Buku / Bab
Bab 01813 kata

Definisi Minus

L

Lindayanti

Trio Minus

Mulai membaca

Jika ada penghargaan untuk kelompok wanita paling absurd di muka bumi, pialanya pasti sudah bertengger manis di lemari kaca markas besar Trio Minus. Bukan piala emas murni atau perak berkilau, melainkan piala dari kaleng kerupuk bekas yang dicat semprot warna emas luntur merepresentasikan kehidupan mereka terlihat berkilau dari jauh, tapi isinya zonk begitu didekati.

Nama Trio Minus sendiri bukan julukan yang diberikan oleh orang lain, melainkan sebuah gelar kebangsawanan yang mereka sematkan sendiri pada suatu sore yang mendung, tepat setelah mereka bertiga gagal total dalam ujian semester Statistik. Filosofinya sederhana. Jessy minus rasa malu, Evelyn minus kepekaan terhadap bahaya, dan Hanna minus gairah hidup


Markas besar itu sebenarnya hanyalah meja nomor 4 di kantin kampus yang letaknya strategis dekat kipas angin dinding yang berputar dengan bunyi cit-cit-cit berirama, dan, yang paling krusial, dekat penjual gorengan Pak Kumis. Posisi ini memungkinkan mereka untuk memantau pergerakan seluruh populasi kampus sambil mengunyah tahu isi yang masih panas.

Siang itu, matahari Jakarta sedang terik-teriknya, seolah-olah ada dua matahari yang bersinar tepat di atas gedung Fakultas Ekonomi. Namun, panasnya cuaca tidak menghalangi Jessy untuk melakukan ritual hariannya.

"Gue rasa gue kena santet," celetuk Jessy Mighuel sambil mengunyah bakwan jagung dengan agresif.

Bunyi kriuk terdengar nyaring, bersaing dengan suara riuh mahasiswa lain. Remah-remah gorengan berterbangan sedikit, mendarat di atas meja formika yang sudah penuh goresan.

Hanna Alinskie, anggota tertua sekaligus pemegang tahta si paling waras walau status ini sering diperdebatkan, terutama saat dia mulai berbicara dengan tanaman hias di kostnya, hanya melirik dari balik buku tebal berjudul Pengantar Makro-ekonomi Edisi Ke-8. Tatapannya datar, jenis tatapan yang sudah terlatih menghadapi drama queen sekelas Jessy selama tiga tahun terakhir.

"Santet apa? Santet online?" tanya Hanna tanpa minat, membalik halaman bukunya.

"Bukan!" Jessy menggebrak meja pelan, cukup untuk membuat botol saus sambal bergetar. "Masa tadi pagi gue ngaca, terus gue ngerasa gue cantik banget? Itu nggak wajar, kan? Pasti ada yang salah sama mata gue. Atau jangan-jangan cermin di kost gue itu portal ke dimensi lain di mana gue adalah Miss Universe?"

Evelyn Sharma, yang duduk di sebelah Jessy, menghela napas panjang. Dia gadis yang terlihat paling kalem dengan rambut hitam lurus sepinggang dan kacamata baca berbingkai tipis. Penampilannya menipu banyak orang. Dosen sering mengira dia mahasiswi teladan, padahal dialah otak di balik ide-ide bolos kuliah demi mengejar diskon flash sale di mall sebelah kampus.

"Jess, itu namanya narsis, bukan santet," ujar Evelyn sambil memijat pelipisnya. "Lagian lo emang cantik, cuma kelakuan lo aja yang bikin cowok ilfeel. Lo itu ibarat lukisan Monalisa, tapi kalau lo versi Monalisa bisa kayang sambil makan cilok."

"Bener," sahut Hanna datar, matanya masih tertuju pada grafik kurva permintaan dan penawaran. "Lo diem aja cantik. Begitu ngomong, aura preman pasarnya keluar. Lo inget minggu lalu pas lo nawar harga fotokopi skripsi kakak tingkat? Abang fotokopinya sampai mau nangis."

Jessy mendelik, matanya membulat sempurna. Dia meletakkan sisa bakwan jagungnya dengan dramatis. "Heh! Gue ini happy virus tau! Ceria! Menyenangkan! Membawa kebahagiaan bagi semesta! Bukan preman!"

"Virus mah penyakit," gumam Evelyn pelan, lebih kepada dirinya sendiri, sambil mengaduk es teh manisnya yang es batunya sudah mencair sepenuhnya.

"Bodo amat! Eh, ngomong-ngomong soal penyakit..." Jessy mendekatkan wajahnya ke tengah meja, menurunkan volume suaranya seolah hendak membocorkan rahasia negara. "Gue liat si kulkas dua pintu tadi pagi."

Hanna akhirnya menutup bukunya. Dia tahu, kalau Jessy sudah masuk mode gosip, belajar adalah hal yang mustahil. "Saga?"

"Iya, Saga Reynaldi! Siapa lagi cowok yang mukanya kayak tembok?" Jessy menggerutu, wajahnya cemberut namun matanya berbinar antusias. Saga Reynaldi adalah anomali di kampus ini. Mahasiswa Arsitektur semester akhir, tampan, tinggi, jenius, tapi dinginnya melebihi AC ruang server.

"Ceritain detailnya," pancing Evelyn, yang diam-diam juga menikmati kisah cinta sepihak Jessy yang tragis namun komedi itu.

Jessy menarik napas panjang. "Jadi gini, tadi pagi gue sengaja lewat depan Gedung Arsi. Gue udah pake outfit terbaik gue, kemeja flanel yang gue setrika tiga kali bolak-balik. Terus gue liat dia lagi jalan sambil bawa tabung gambar. Gue sapa dong dengan senyum Pepsodent, Hai Saga! Lo tau dia ngapain?"

Jessy memberi jeda dramatis.

"Dia cuma ngangguk dikit terus jalan lagi. Dikit banget ngangguk nya, kalau gue kedip pasti kelewatan momennya. Sombong banget tuh orang! Padahal gue udah latihan senyum di depan kaca sampe pipi gue kram!"

"Mungkin dia nggak denger," kata Evelyn mencoba positif, meski dia tahu kemungkinan besar Saga memang mendengar tapi memilih untuk menghemat energi.

"Dia denger, Lyn! Kupingnya kan ada dua, masih nempel sempurna! Jarak kita cuma dua meter! Gue bahkan bisa nyium wangi parfumnya, wangi kayu-kayuan mahal gitu, bukan wangi minyak telon kayak lo berdua!"

"Heh, sembarangan," protes Hanna.

Di tengah perdebatan tidak penting tentang kualitas pendengaran Saga dan aroma tubuh itu, tiba-tiba atmosfer di kantin berubah. Suasana yang tadinya riuh rendah oleh suara denting sendok, teriakan pesanan soto ayam, dan tawa mahasiswa, mendadak senyap.

Hening.

Benar-benar hening, seperti ada tombol mute raksasa yang ditekan serentak oleh Tuhan. Bahkan Pak Kumis berhenti membalik tempe mendoan nya.

Bab selanjutnya

02 - Sambal Cinta ala Samuel

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Trio Minus.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 01 / 2
Trio Minus
01

Definisi Minus

813 kata / Sedang dibaca

02

Sambal Cinta ala Samuel

989 kata / Tersedia