Lindayanti
Trio Minus
Mulai membaca
Jika ada benda yang seharusnya dilarang masuk ke dalam ruang kuliah ber-AC selain durian dan rokok yang masih menyala, benda itu adalah toples kaca bekas selai srikaya yang kini beralih fungsi menjadi wadah sambal terasi buatan Samuel Adrian.
Evelyn Sharma duduk di barisan paling belakang ruang kelas D-304. Dosen Pengantar Manajemen, Pak Daniel, sedang berapi-api menjelaskan tentang analisis SWOT di depan sana. Namun, konsentrasi Evelyn terpecah belah bukan karena materi kuliah yang membosankan, melainkan karena benda keramat di dalam tas tote bag kanvas miliknya.
Meskipun tutup toples itu sudah diputar sekuat tenaga mungkin sekuat Samuel saat mencekik leher ayam aroma tajam terasi bakar dan bawang putih goreng tetap saja mencari celah untuk keluar. Baunya samar, tapi bagi hidung sensitif Evelyn, rasanya seperti ada pabrik terasi mini yang sedang beroperasi di bawah mejanya.
"Psst, Lyn," bisik Jessy yang duduk di sebelahnya sambil mencoret-coret buku catatan dengan gambar-gambar abstrak tak bermakna. "Gue nyium bau surga dunia."
Evelyn melotot dari balik kacamata bacanya. "Diem, Jes. Gue lagi parno ini."
"Parno kenapa? Takut Pak Daniel minta? Tenang aja, Pak Daniel kan punya asam lambung, nggak bakal doyan sambal si Samuel," balas Jessy santai, volumenya sedikit terlalu keras untuk ukuran bisikan.
Hanna, yang duduk di sisi kiri Evelyn, menggeser sedikit sikunya. "Masalahnya bukan Pak Daniel minta, Jes. Masalahnya, satu ruangan ini mulai sadar ada bau aneh. Tuh, liat si Clara di depan."
Evelyn mengikuti arah pandang Hanna. Benar saja, Clara, si mahasiswi teladan yang duduk di barisan depan, terlihat kembang kempis hidungnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan wajah bingung, mencari sumber aroma yang merusak konsentrasi akademisnya.
"Mati gue," rintih Evelyn, menenggelamkan wajahnya ke meja. "Kenapa sih hidup gue harus berurusan sama cowok yang love language-nya ngasih bumbu dapur?"
"Itu unik, Lyn," komentar Hanna datar, matanya tetap fokus ke papan tulis meski tangannya sibuk memutar pulpen. "Di saat cowok lain sibuk beli cokelat Valrhona atau bunga baby breath, Samuel memilih melestarikan kearifan lokal. Harusnya lo bangga. Lo satu-satunya cewek di kampus ini yang di apelin pake cabai rawit setan."
"Gue nggak butuh rasa bangga, gue butuh harga diri!" desis Evelyn frustrasi. "Tadi di kantin aja gue udah diketawain satu angkatan gara-gara mawar layu di atas toples itu. Sekarang kalau ketahuan gue bawa sambal ke kelas, reputasi gue sebagai mahasiswi low profile hancur lebur."
"Reputasi lo aman, selama lo nggak tiba-tiba ngeluarin nasi hangat sama lalapan di sini," timpal Jessy, lalu terkekeh pelan. "Tapi sumpah, Lyn, kalau lo nggak mau sambalnya, buat gue aja. Gue tau Samuel itu badboy cap kapak, tapi kalau urusan dapur, gue akui tangannya ajaib. Sambal buatan dia minggu lalu yang dikasih ke lo? Gila, itu masterpiece."
Evelyn terdiam. Sialnya, Jessy benar.
Samuel Adrian mungkin punya reputasi sebagai cowok berandalan kampus. Dia sering telat, jaket kulitnya lebih sering terlihat di parkiran daripada di perpustakaan, dan tatapan matanya yang tajam sering bikin adik tingkat gemetar ketakutan. Tapi, ada satu fakta absurd yang hanya diketahui Evelyn dan sayangnya kini diketahui Trio Minus. Samuel adalah dewa masakan.
Lidah Evelyn tanpa sadar mengecap. Dia ingat rasa sambal minggu lalu. Pedas yang menyengat, gurih terasi yang pas, dan sensasi minyak bawang yang meledak di mulut. Itu bukan sekadar sambal, itu adalah seni.
"Gue... gue bakal balikin toplesnya nanti," gumam Evelyn, mencoba menyangkal nafsunya sendiri.
"Halah, munafik," cibir Jessy. "Muka lo aja udah kayak orang ngidam."
Kelas berakhir dua jam kemudian dengan penderitaan batin Evelyn yang maksimal. Begitu Pak Bambang keluar ruangan, Evelyn langsung menyambar tasnya, berniat kabur secepat kilat sebelum ada yang bertanya tentang bau terasi itu.
"Kita mau ke mana abis ini?" tanya Jessy sambil merenggangkan otot-ototnya yang kaku. "Mall? Karaoke? Atau nangkep Saga buat gue interogasi kenapa dia nggak reply story gue padahal dia liat?"
"Gue mau ke perpus," jawab Hanna singkat. "Mau balikin buku sejarah arsitektur."
"Lo, Lyn?"
"Gue mau pulang," kata Evelyn cepat. "Mau mengamankan barang bukti." Dia menepuk tasnya.
"Yaelah, baru jam dua siang. Main dulu kali ke kosan gue," bujuk Jessy.
Namun, belum sempat Evelyn menolak lagi, langkah mereka terhenti tepat di lobi gedung fakultas. Suasana di sana mendadak ramai. Beberapa mahasiswi bergerombol sambil berbisik-bisik histeris, sementara para mahasiswa cowok menyingkir dengan wajah segan.
Di tengah lobi, bersandar dengan pose yang seolah-olah sedang pemotretan majalah otomotif, berdiri Samuel Adrian.
Dia mengenakan kaos hitam polos yang mencetak jelas otot lengannya, dipadukan dengan celana jins sobek di lutut dan sepatu boots kulit. Helm full face mahalnya diletakkan di atas meja satpam yang anehnya, Pak Satpam diam saja dan malah senyum-senyum sungkan.
Mata tajam Samuel memindai kerumunan orang yang keluar dari kelas, seperti elang mencari mangsa. Dan ketika matanya bertemu dengan mata Evelyn, sudut bibirnya terangkat sedikit. Sangat sedikit, tapi efeknya membuat beberapa cewek di radius lima meter menahan napas.
"Mampus," bisik Evelyn lagi. Hari ini kata mampus sepertinya jadi mantra favoritnya.
"Panjang umur," celetuk Hanna. "Pangeran Sambal lo udah nungguin."
Samuel menegakkan tubuhnya dan berjalan membelah kerumunan. Langkahnya santai, namun memiliki intimidasi alami yang membuat orang-orang otomatis memberi jalan. Dia berhenti tepat satu meter di depan Trio Minus.
"Siang, Tante Hanna, Tante Jessy," sapa Samuel dengan nada mengejek namun sopan.
"Heh! Muka gue masih kenceng gini lo panggil Tante!" protes Jessy tidak terima, tapi Samuel mengabaikannya dan langsung memusatkan perhatian penuh pada Evelyn.
"Gimana?" tanya Samuel langsung. Suaranya berat dan sedikit serak, jenis suara yang cocok untuk jadi vokalis band rock atau pengisi suara iklan rokok.
Evelyn memeluk tasnya erat-erat di depan dada, menjadikannya tameng. "Gimana apanya?"
"Sambalnya. Udah dicoba?"
Evelyn melirik ke kiri dan kanan. Puluhan pasang mata sedang memperhatikan mereka. Ada tatapan iri, ada tatapan bingung, dan ada tatapan geli. Evelyn merasa pipinya mulai memanas. Sisi kalem nya sedang diuji habis-habisan. Jika ini di tempat sepi dan hanya ada Trio Minus, mungkin Evelyn sudah menjambak rambut Samuel karena membuatnya malu.
"Belum, Sam. Kan gue baru kelar kelas," jawab Evelyn dengan suara ditekan seminimal mungkin. "Lagian, ngapain lo nunggu di sini? Lo nggak ada kelas?"
"Bolos," jawab Samuel enteng, seolah bolos adalah mata kuliah wajib. "Dosennya ngebosenin. Lebih seru nungguin lo."
Terdengar suara "Ciyeee" serempak dari Jessy dan beberapa mahasiswa yang menguping. Wajah Evelyn kini resmi semerah tomat busuk.
"Sam, please," desis Evelyn. "Orang-orang liatin."
Samuel menaikkan sebelah alisnya. Dia menoleh ke sekeliling dengan tatapan garang. "Apa liat-liat? Bubar!"
Ajaib.
Dalam hitungan detik, kerumunan itu langsung pura-pura sibuk. Ada yang tiba-tiba menelepon tembok, ada yang lari ke toilet, ada yang mendadak buta arah.
Samuel kembali menatap Evelyn. "Udah sepi. Jadi, lo mau pulang?"
"Iya."
"Gue anter."
"Nggak usah! Gue bawa motor sendiri," tolak Evelyn cepat. Dia memang membawa motor matic kesayangannya, 'Si Pinky', yang terparkir manis di belakang gedung.
"Motor lo bannya kempes," kata Samuel datar.
Evelyn melongo. "Hah? Tadi pagi masih baik-baik aja!"
"Tadi gue cek. Kempes dua-duanya. Kayaknya kena paku. Atau mungkin takdir yang nyuruh lo pulang bareng gue."
Evelyn memicingkan mata curiga. "Lo yang gembosin, ya?"
Samuel meletakkan tangan di dada, memasang wajah tersinggung yang sangat tidak meyakinkan.
"Jahat banget tuduhan lo, Lyn. Gue ini pecinta kedamaian dan pelindung wanita. Mana mungkin gue ngerusak properti orang? Gue cuma kebetulan lewat, liat motor pink norak itu kempes, terus sebagai teman yang baik, gue inisiatif nungguin pemiliknya."
"Motor gue nggak norak!"
"Warnanya pink stabilo, Lyn. Itu motor apa spidol highlighter?"
Jessy menyemburkan tawa di belakang, sementara Hanna hanya menggelengkan kepala prihatin.
"Udah, sana gih," dorong Hanna pelan pada bahu Evelyn. "Daripada lo dorong motor sampai bengkel depan, mending lo nebeng Samuel. Biar motor lo nanti anak-anak cowok kelas kita yang urus, atau nanti gue telepon bengkel langganan buat ambil."
Evelyn menatap kedua sahabatnya dengan tatapan pengkhianatan. "Kalian tega ngejual gue ke preman ini?"
"Bukan ngejual, tapi memanfaatkan sumber daya yang ada," koreksi Jessy bijak. "Lumayan, hemat bensin."
Evelyn menghela napas panjang, tanda menyerah. Berdebat dengan Samuel itu seperti bicara dengan tembok beton, keras dan nggak bakal menang. Apalagi ditambah dukungan dari dua sahabatnya yang laknat ini.
"Oke," kata Evelyn ketus. "Tapi gue nggak mau ngebut. Kalau lo ngebut, gue lompat."
Samuel tersenyum miring. Senyum kemenangan yang menyebalkan tapi sialnya sangat tampan. "Siap, Kanjeng Ratu. Gue bakal jalan sehalus siput."
Samuel meraih helm full face cadangan yang entah sejak kapan dia bawa di tangan kirinya. Dia menyodorkannya pada Evelyn.
"Pake. Ini helm baru, belum pernah dipake cewek lain. Baunya masih bau toko, bukan bau shampo mantan."
Evelyn menyambar helm itu dengan kasar. "Bawel."