CeritaGW
Buku / Bab
Bab 02416 kata

Two Weeks of Silence

FA

Forever Alone

There is no us

Mulai membaca

Chapter 2 - Two Weeks of Silence

Malam-malam di Dubai belakangan ini punya pola yang sama: aku pulang kerja, makan seadanya, terus duduk di sofa sambil scroll HP tanpa tujuan jelas. Kadang berhenti di satu chat yang udah lama nggak aktif, cuma buat baca ulang.

Ada satu potongan ingatan yang selalu nempel dari malam war room Desember itu — bukan cuma suaranya yang tenang di tengah krisis, tapi juga foto kecil buram di kotak Teams yang entah kenapa bikin aku sadar, buat pertama kalinya, kalau Lizzy cantik. Tapi itu bukan bagian yang paling sering aku inget.

Yang lebih sering muncul justru bukan malam itu sendiri, tapi minggu-minggu setelahnya — pas kita berdua diem-dieman lagi.

Setelah war room itu selesai, semuanya balik normal. Atau, lebih tepatnya, balik pura-pura normal. Rapat mingguan tetep jalan, email tetep formal, poin per poin kayak biasa. Tapi chat personal yang sempet kebuka malam itu — nggak pernah dibuka lagi. Bukan karena canggung doang. Aku rasa kita berdua sama-sama sadar ada sesuatu yang mungkin lebih aman kalau nggak diusik.

Dua minggu berlalu kayak gitu.

Terus, satu malam — aku lupa alasannya, mungkin karena kerjaan kelar lebih cepet dari biasa, atau mungkin aku emang udah nggak tahan — aku buka lagi chat itu. Udah lama banget sejak terakhir kali aku ngetik apa pun di ruang obrolan itu, dan malam itu, entah kenapa, sepinya kerasa kayak undangan.

Aku: masih melek?

Balasannya cepet — tanda kalau di seberang sana, orangnya juga belum siap tidur.

Lizzy: masih. kenapa mas?

Aku: iseng aja. katanya kamu emang orang malam

Lizzy: dulu

Aku: dulu tapi masih online jam segini 😏

Lizzy: kebiasaan buruk emang susah ilang

Aku: berarti masih sama dong

Lizzy: masih

Aku: kamu juga ternyata

Hening sebentar. Tiga titik muncul, ilang, muncul lagi — kayak ada yang mau diomongin tapi ditahan di tengah jalan.

Lizzy: kebiasaan yang bagus kadang emang harus diulang

Aku baca kalimat itu dua kali, terus ketawa sendiri di sofa.

Obrolan lanjut ke hal-hal kecil — kopi, film, apa aja yang entah kenapa berasa penting malam itu. Di luar, hujan tipis mulai turun, nyapu kaca jendela pelan-pelan.

Aku natap layar lama. Aku tau aku nggak lagi ngejar apa-apa. Tapi ada sesuatu di dalam diri aku yang mulai hidup lagi, pelan-pelan, kayak lampu yang baru dinyalain habis mati lama.

Malam itu jadi yang pertama dari banyak malam serupa. Aku nggak tau ke mana ini bakal ngebawa kita — waktu itu, aku cuma tau satu hal: sepi yang tadinya berat, sekarang punya suara buat diajak ngobrol lagi.

Bab selanjutnya

03 - Fiction and Fire

Lanjutkan ke bab berikutnya dari There is no us.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 02 / 20
There is no us
01

Static in Bright Noon

2.526 kata / Tersedia

02

Two Weeks of Silence

416 kata / Sedang dibaca

03

Fiction and Fire

2.333 kata / Tersedia