Forever Alone
There is no us
Mulai membaca
Chapter 2 - Two Weeks of Silence
Malam-malam di Dubai belakangan ini punya pola yang sama: aku pulang kerja, makan seadanya, terus duduk di sofa sambil scroll HP tanpa tujuan jelas. Kadang berhenti di satu chat yang udah lama nggak aktif, cuma buat baca ulang.
Ada satu potongan ingatan yang selalu nempel dari malam war room Desember itu — bukan cuma suaranya yang tenang di tengah krisis, tapi juga foto kecil buram di kotak Teams yang entah kenapa bikin aku sadar, buat pertama kalinya, kalau Lizzy cantik. Tapi itu bukan bagian yang paling sering aku inget.
Yang lebih sering muncul justru bukan malam itu sendiri, tapi minggu-minggu setelahnya — pas kita berdua diem-dieman lagi.
Setelah war room itu selesai, semuanya balik normal. Atau, lebih tepatnya, balik pura-pura normal. Rapat mingguan tetep jalan, email tetep formal, poin per poin kayak biasa. Tapi chat personal yang sempet kebuka malam itu — nggak pernah dibuka lagi. Bukan karena canggung doang. Aku rasa kita berdua sama-sama sadar ada sesuatu yang mungkin lebih aman kalau nggak diusik.
Dua minggu berlalu kayak gitu.
Terus, satu malam — aku lupa alasannya, mungkin karena kerjaan kelar lebih cepet dari biasa, atau mungkin aku emang udah nggak tahan — aku buka lagi chat itu. Udah lama banget sejak terakhir kali aku ngetik apa pun di ruang obrolan itu, dan malam itu, entah kenapa, sepinya kerasa kayak undangan.
Aku: masih melek?
Balasannya cepet — tanda kalau di seberang sana, orangnya juga belum siap tidur.
Lizzy: masih. kenapa mas?
Aku: iseng aja. katanya kamu emang orang malam
Lizzy: dulu
Aku: dulu tapi masih online jam segini 😏
Lizzy: kebiasaan buruk emang susah ilang
Aku: berarti masih sama dong
Lizzy: masih
Aku: kamu juga ternyata
Hening sebentar. Tiga titik muncul, ilang, muncul lagi — kayak ada yang mau diomongin tapi ditahan di tengah jalan.
Lizzy: kebiasaan yang bagus kadang emang harus diulang
Aku baca kalimat itu dua kali, terus ketawa sendiri di sofa.
Obrolan lanjut ke hal-hal kecil — kopi, film, apa aja yang entah kenapa berasa penting malam itu. Di luar, hujan tipis mulai turun, nyapu kaca jendela pelan-pelan.
Aku natap layar lama. Aku tau aku nggak lagi ngejar apa-apa. Tapi ada sesuatu di dalam diri aku yang mulai hidup lagi, pelan-pelan, kayak lampu yang baru dinyalain habis mati lama.
Malam itu jadi yang pertama dari banyak malam serupa. Aku nggak tau ke mana ini bakal ngebawa kita — waktu itu, aku cuma tau satu hal: sepi yang tadinya berat, sekarang punya suara buat diajak ngobrol lagi.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari There is no us.