Forever Alone
There is no us
Mulai membaca
Chapter 1 — Static in Bright Noon
Siang di Dubai bukan sekadar panas. Ia disiplin. Matahari menggantung tepat di atas garis kaca gedung, dan dari lantai dua puluh, cahayanya menembus tirai tipis, menoreh garis putih di lantai marmer.
AC menyusun dengungnya sendiri — hidup, jeda, hidup lagi. Di sela itu, detak jam dinding berjalan pelan-pelan, seperti penjaga yang terlalu setia sama aturan.
Aku duduk di sofa abu-abu, punggung tegak, tapi bahu udah nggak kuat pura-pura. Ponsel di telapak tanganku berat — bukan karena logam dan kacanya, tapi karena apa yang aku harapkan keluar dari sana. Aku sentuh layar. 12:17.
Bukan 12:12. Bukan 11:11 yang orang suka kejar buat sensasi kebetulan. 12:17 — ganjil, nggak simetris, tapi lebih dalam nancepnya. Muncul pas aku nggak siap, kayak orang ngetuk pintu jam kerja tanpa pernah jelasin maksud kedatangannya.
Tiga puluh hari sejak pesan terakhir. Tiga puluh hari sejak suaranya hilang dari panggilan video, ninggalin layar kosong yang jadi cermin. Sejak itu, apartemen ini berasa beku — bukan dingin AC, tapi dingin yang datang dari dalam dada, dari ruang yang harusnya diisi suara, tawa, jeda-jeda kecil yang cuma dua orang yang ngerti.
Aku taruh ponsel di meja kopi. Kopi di sampingnya udah berhenti ngepul dari beberapa jam lalu, nyisain cincin tipis di bibir cangkir. Laporan kerja numpuk di sisi meja — tabel, grafik, tanda tangan yang menunggu. Dunia itu tertib. Bisa dihitung. Nggak kayak satu hal yang aku tunggu, yang nggak bisa dipanggil pake formula apa pun.
Aku berdiri, jalan ke jendela. Di bawah sana, Sheikh Zayed Road nyusun arus mobil kayak baris kalimat panjang tanpa titik. Kota ini bergerak dengan kepastian. Penuh jadwal.
Dubai ngasih aku karier yang jauh lebih besar dari yang pernah aku bayangin waktu masih di Jakarta. Tapi di siang-siang kosong kayak ini, kesuksesan itu berasa kayak apartemen ini sendiri — rapi, mahal, dan sepi.
Di balik kaca ini, hidupku berasa kayak halaman yang kejepit — nggak geser, nggak juga ketutup.
Aku balik ke sofa, ambil ponsel lagi. Masih 12:17. Kayak noda yang nggak mau hilang.
"Kenapa sih kamu," gumamku pelan. Suaraku jatuh, ketelen dengung AC.
Aku merem. Ingatan kerja cepat — bukan adegan besar, tapi detail-detail kecil yang paling nyakitin: cara dia nunduk pas ketawa, jeda dua detik sebelum jawab, kayak lagi nyusun kalimat di kepala; bayangan rambut nyapu setengah wajahnya pas nengok; kata "nanti" yang isinya lebih banyak janji dari yang seharusnya.
Ada kebiasaan lain yang aku coba hentiin, tapi gagal terus: buka aplikasi, ketik namanya di kolom pencarian, terus batal sebelum sempet klik. Udah berapa kali dalam sebulan ini aku lakuin itu, aku nggak mau ngitung. Kalau aku ngitung, itu artinya aku ngaku ke diri sendiri bahwa aku masih nungguin dengan cara yang paling nggak sehat.
Kadang, di detik sebelum aku batalin ketikan itu, ada pikiran lain yang lewat cepet — bukan soal dia, tapi soal aku. Kayak aku pengen dia tau, walau cuma sekali, seberapa besar ini sebenernya. Terus pikiran itu aku tutup lagi secepat munculnya, karena ngakuin itu berarti ngakuin sesuatu yang lebih berat: bahwa mungkin yang aku kejar bukan dia, tapi cara buat akhirnya bisa berenti.
Satu bulan tanpa kabar itu angka yang bisa dicatet. Yang nggak bisa dicatet itu gimana tiap pagi aku coba alihin pandangan, dan gimana tiap siang angka 12:17 manggil lagi kayak alarm yang nggak pernah aku pasang.
Tik. Tok. Tik. Tok. Jam dinding itu ritmis, objektif, nggak milih pihak.
Kadang, orang yang paling tepat datang di waktu yang salah.
Aku benci kalimat itu karena akurat. Karena akurasi kadang lebih kejam dari kebohongan yang manis.
Ponsel bergetar. Sekali. Pendek.
Aku nengok — refleks yang aku takutin sekaligus aku tunggu. Sepersekian detik, dunia kayak diputer volumenya ke bawah. AC merendah. Jam dinding berhenti kedengeran. Jalan raya ngecil. Cuma ada satu hal: cahaya kecil di sudut layar yang baru hidup.
Aku buka kunci layar.
Bukan namanya. Tentu aja bukan.
[PMO Scheduler] Emergency Ops War Room — 18:30 GST (Teams link attached)
Aku menatap lebih lama dari yang perlu. Ruangan darurat. Pukul 18:30. Tautan rapat.
Dan entah kenapa — mungkin karena kata "war room" itu — kepalaku mundur sendiri. Jauh. Ke malam lain, di kota lain, di war room lain. _____________________
Jakarta. Desember 2023, seminggu sebelum libur panjang.
Waktu itu aku udah kenal Lizzy cukup lama — bukan orang asing. Dia PIC dari vendor yang pegang aplikasi self-service kita, dan aku manager di sisi operator yang megang project itu dari awal. Setahun lebih kita kerja bareng: rapat mingguan tiap Senin pagi, review progress tiap akhir bulan, email panjang penuh angka SLA yang dia selalu bales rapi, poin per poin, nggak pernah ada yang kelewat.
Formal. Rapi. Nggak ada yang aneh. Dia manggil aku "Mas Soka" dari hari pertama, dan nggak pernah berubah. Aku manggil dia "Lizzy" — nama lengkap, bukan singkatan, bukan panggilan sayang, cuma nama yang aku ucapin tiap kali giliran dia ngomong di rapat. Begitu meeting selesai, kita balik ke laptop masing-masing, dan itu aja.
Sampai malam itu.
Jam sepuluh lebih, HP-ku mulai bergetar nggak berhenti. Bukan satu notifikasi — banjir. Grup kerja "Self-Service Prod Support" tiba-tiba hidup, satu pesan nyusul pesan lain lebih cepat dari yang bisa aku baca.
Andi (NOC): mohon perhatian, self-service down total sejak 22:14, semua transaksi gagal Rina (CS): komplain udah masuk dari semua channel, mulai rame di sosmed juga Budi (Infra): dari sisi jaringan kita normal, kemungkinan dari aplikasi [atasanku]: Mas Soka, tolong join war room sekarang, ini udah eskalasi
Aku masih di kamar, belum ganti baju tidur, laptop setengah tertutup di meja kerja kecil di sudut. Sempat ada satu detik aku mikir, ah, biarin dulu, toh ini bukan jam kerja, seminggu lagi libur. Tapi detik berikutnya aku udah klik link Teams yang numpuk di chat.
Begitu masuk, suaranya udah ramai — orang-orang ngomong bersautan, ada yang minta orang lain diem dulu, ada yang masih nyoba ngejelasin sambil ngetik di layar lain. Kamera hampir semua orang mati. Cuma suara, dan suara-suara itu semuanya kedengeran capek dan panik dalam kadar yang beda-beda.
"Halo, ini Soka. Tolong, satu-satu. Siapa yang bisa summary situasinya?"
Hening sebentar. Terus suara Andi dari NOC, buru-buru.
"Down total dari jam sepuluh lebih empat belas, Mas. Semua request ke self-service timeout, nggak ada yang lolos."
"Dari sisi kita udah cek?" tanyaku.
"Udah, infrastruktur kita normal. Kita curiga dari sisi aplikasi."
Ada suara lain masuk, lebih tegas, lebih dari atas — atasanku, yang kedengeran udah ditelepon direksi sebelum ini. "Ini udah eskalasi ke direksi ya. Butuh ETA, bukan curiga-curiga. Jam segini downtime, besok pagi bisa jadi berita."
Aku diem sebentar, coba nahan nada biar nggak ikut kebawa panik orang lain. "Oke, kita kasih waktu tim vendor cek dulu. Lizzy, kamu di line?"
"Ada, Mas." Suaranya beda dari biasanya. Nggak ada basa-basi kayak di rapat mingguan — langsung, cepat, tapi ada getar kecil yang ketahan. "Tim aku lagi trace log sekarang. Kelihatannya bukan dari core aplikasi, tapi ada indikasi masalah di payment gateway kita."
"Berapa lama?"
"Belum bisa janji, Mas. Tapi kita nggak berhenti sampai ketemu."
Di background, aku denger dia ngomong cepat ke orang lain — nyuruh cek satu server, minta seseorang tarik log jam sepuluh ke atas. Suaranya nggak kacau, walau cepat. Aku suka itu, entah kenapa — di tengah semua orang lain mulai saling nyalahin pelan-pelan, dia tetap yang paling fokus ke masalah, bukan ke siapa yang salah.
Setengah jam pertama berlalu dengan dugaan yang salah. Tim NOC sempat teriak di chat, "ketemu, ini masalahnya di cache server," dan sempat ada jeda lega selama tiga menit sebelum Lizzy balik ngomong, pelan tapi jujur.
"Mas, itu bukan penyebabnya. Cache-nya emang error, tapi errornya muncul karena hal lain di belakangnya. Kita masih gali."
Atasanku mendesah keras di line, cukup keras buat kedengeran semua orang. "Berarti dari tadi kita buang waktu?"
"Nggak buang-buang waktu, Pak," Lizzy menjawab cepat, tetap tenang. "Itu satu kemungkinan yang udah kita coret. Sekarang tinggal lebih sedikit yang harus dicek."
Aku nggak tau kenapa, tapi aku langsung nyaut sebelum atasanku sempat bales lagi. "Lizzy bener. Kita kasih waktu lagi lima belas menit," kataku, setengah ke atasanku, setengah ke semua orang di call. "Kalau belum ketemu juga, kita eskalasi opsi rollback penuh."
Ada jeda kecil di line. Terus suara Lizzy, lebih pelan, hampir kayak cuma buat aku denger. "Siap, Mas. Makasih."
Lima belas menit itu berasa lebih panjang dari biasanya. Aku dengerin suara ketikan di background line-nya, sesekali suara dia gumam sendiri — "bukan ini... coba yang satu lagi... eh, tunggu—" — kayak lagi ngomong sama diri sendiri, lupa mic-nya masih nyala. Sekali dia sempet ketawa kecil, capek, ke arah timnya, "udah jam segini masih salah mulu ya kita," dan entah kenapa aku ikut senyum sendiri di depan laptop, di kamar yang gelap, meskipun kamera aku mati dan nggak ada yang liat.
Jam dua belas kurang, dia balik lagi ke line, suaranya sedikit lega.
"Mas, ketemu. Ada config yang ke-push salah pas deployment sore tadi, nyangkut ke modul payment. Kita lagi siapin rollback ke versi sebelumnya."
"Berapa lama sampai stabil?"
"Kalau lancar, lima belas menit lagi."
"Oke. Lakuin. Aku tungguin di sini."
Dan bener aja. Jam setengah satu pagi, satu per satu notifikasi di grup berhenti muncul. Grafik yang tadi merah di semua dashboard, pelan-pelan balik hijau, satu demi satu, kayak lampu kota yang nyala lagi setelah mati listrik.
"Udah stabil, Mas Soka. Kita tetap monitor sampai pagi, jaga-jaga," kata Lizzy, di akhir call, suaranya masih formal tapi ada sisa capek yang nggak bisa disembunyiin lagi.
"Oke. Makasih ya, kamu dan tim udah kerja keras malem-malem gini, apalagi mepet libur."
"Namanya juga kerjaan, Mas."
Satu-satu orang keluar dari call. Atasanku bilang makasih singkat, langsung menutup call. Andi sama Rina sempet nulis "terima kasih semua" di chat sebelum ikut left. Sampai akhirnya cuma tinggal aku dan Lizzy yang masih di line, sama-sama diem, sama-sama nggak buru-buru nutup panggilan.
"Mas masih di sana?" tanyanya, agak ragu.
"Masih. Cuma mastiin bener-bener stabil aja."
"Makasih ya, Mas, tadi udah bantuin nahan Pak—" dia berhenti, kayak nggak enak nyebut nama atasanku langsung.
"Nggak apa-apa. Itu emang kerjaan aku juga."
Dia ketawa kecil, capek tapi tulus. "Ya udah, aku tutup dulu ya, Mas. Selamat istirahat."
"Kamu juga. Istirahat, jangan sampai sakit mepet libur gini."
Call ditutup. Aku duduk sebentar di kegelapan kamar, laptop masih menyala, adrenalin belum turun sepenuhnya. Terus HP-ku bunyi lagi — bukan di grup kerja kali ini, tapi chat personal, nomor yang aku save dari kartu nama dia setahun lalu dan nggak pernah aku pake buat ngobrol di luar kerjaan.
Lizzy: Mas, masih bangun?
Aku liat itu agak lama sebelum bales. Nggak biasa dia chat personal di luar jam kerja, apalagi jam segini.
Aku: masih. baru aja tutup laptop. kamu gimana, masih standby, Liz?
Lizzy: masih dikit, tapi kayaknya udah aman. capek banget mas hehe
Aku: kerja bagus tadi. dari semua orang di call, kamu yang paling tenang
Lizzy: hehe keliatan panik ya sebenernya
Lizzy: cuma nggak enak aja keliatan panik di depan klien
Aku senyum sendiri di kamar gelap, ngeliat layar itu.
Aku: nggak keliatan kok, Liz. tenang beneran dari luar
Lizzy: makasih ya mas, udah bantu jaga suasana pas tadi rame banget, apalagi pas atasan mas mulai naik nada
Aku: ya iyalah, ini project aku juga, bukan cuma project kamu
Lizzy: hehe iya juga sih
Ada jeda beberapa menit. Aku hampir naruh HP, mikir dia udah tidur. Terus muncul lagi.
Lizzy: eh mas, kalau boleh tau, biasanya kalau lagi war room gitu, mas beneran setenang itu atau cuma di depan aja?
Aku mikir sebentar sebelum jawab. Pertanyaan itu kecil, tapi entah kenapa berasa personal — bukan basa-basi kerja lagi.
Aku: jujur? dalem hati deg-degan juga. tapi kalau kelihatan panik, orang lain ikut panik
Lizzy: sama dong berarti kita berdua
Lizzy: cuma sama-sama pinter nyembunyiin
Aku ketawa sendiri baca itu. Kecil, tapi beneran ketawa, bukan senyum tipis kayak biasanya kalau baca chat kerja.
Aku: kayaknya iya
Lizzy: kalo gitu kapan-kapan kalo ada war room lagi, kabarin aku duluan mas, biar nggak kaget
Aku: emang mau war room lagi?
Lizzy: enggaklah hahaha maksudnya kalo kejadian lagi
Aku: oke siap. tapi mudah-mudahan nggak kejadian lagi sampe taun depan
Lizzy: aamiin banget mas
Lizzy: oiya, met libur ya, semoga minggu depan udah tenang pas cuti, nggak ada war room susulan
Aku: kamu juga, Liz. istirahat, jangan mikirin kerjaan mulu
Lizzy: siap mas 🙏
Percakapan berhenti di situ. Aku taruh HP di meja, tapi nggak langsung tidur. Aneh — biasanya obrolan kerja kayak gini nggak nempel di kepala lebih dari semenit. Tapi malam itu, aku masih mikirin nada suaranya pas bilang "sama-sama pinter nyembunyiin", cara dia tetap fokus pas semua orang lain mulai kehilangan kepala, dan satu emoji tangan yang entah kenapa bikin aku senyum lagi sebelum akhirnya merem.
Aku ini orang yang biasanya ngukur segala sesuatu pake logika — SLA, root cause, timeline. Tapi malam itu, ada satu variabel yang nggak bisa aku hitung, dan aku nggak tau mau taruh di kolom mana.
Sejak malam itu, kata "war room" nggak pernah lagi cuma berarti insiden aplikasi buat aku. Ada sesuatu yang nempel di kata itu — satu malam di bulan Desember, satu suara yang tetap tenang waktu semua orang lain nggak, dan satu obrolan personal yang nggak pernah kita ulang lagi setelahnya, tapi juga nggak pernah bener-bener aku lupain.
Suara notifikasi kedua menarik aku balik ke Dubai, ke sofa abu-abu, ke siang yang masih sama teriknya.
Aku liat jam di layar. 12:19. Angka 12:17 udah lewat tanpa aku sadar — dan buat pertama kalinya sebulan ini, aku nggak nyesel kelewatan.
Kadang, orang yang paling tepat datang di waktu yang salah.
Kalimat itu masih ada di kepalaku, tapi nadanya beda sekarang — bukan vonis, cuma pengingat yang tenang.
Sore ini ada rapat. War room, katanya. Bukan meeting biasa. Aku nggak tau siapa aja yang bakal diundang jam 18:30 nanti — bisa siapa aja, bisa nggak ada dia sama sekali. Tapi entah kenapa, buat pertama kalinya setelah sebulan, kemungkinan kecil itu — kemungkinan ketemu lagi di kotak kecil layar itu — berasa kayak sesuatu yang bisa aku taro di meja tanpa bikin hati retak.
Bukan buat mulai lagi. Aku udah nggak segila itu buat percaya itu masih mungkin. Cuma satu hal yang aku pengen, kalau kesempatan itu beneran dateng: satu pertanyaan yang aku simpen sejak Agustus, yang belum pernah aku dapet jawabannya. Kenapa dia hilang tanpa bilang apa-apa. Aku nggak butuh dia balik. Aku cuma butuh tahu — biar aku bisa berhenti menunggu dengan alasan yang jelas, bukan cuma alasan yang aku karang sendiri.
Aku berdiri, matiin lampu tidur yang dari tadi nggak perlu-perlu amat nyala, dan biarin cahaya siang yang masuk dari jendela jadi satu-satunya penerangan di ruangan.
Aku jalan ke kamar mandi. Ngaca sebentar — biasa aja, cuma mau cuci muka. Tapi tanganku udah lebih dulu ngerapiin rambut, benerin kerah kaos, kayak ada yang bakal ngeliat.
Aku berenti. Nurunin tangan.
Ini rapat kerja. Kemungkinan besar cuma kotak-kotak kamera orang kantor, dan salah satunya belum tentu dia.
Tapi aku nggak matiin niat itu. Aku cuma pura-pura nggak sadar aku lagi ngelakuinnya.
Buat pertama kalinya sejak tiga puluh hari lalu, aku nunggu sesuatu yang bukan 12:17.
Dan buat pertama kalinya juga, aku ngaku ke diri sendiri: satu pertanyaan yang aku bilang tadi, cuma nama yang lebih sopan buat sesuatu yang jauh lebih sederhana, jauh lebih memalukan buat diakuin.
Aku masih berharap dia ada di sana.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari There is no us.