Forever Alone
There is no us
Mulai membaca
Chapter 3 — Fiction and Fire
Malam-malam kayak gitu — chat sampe larut, ngomongin hal-hal kecil yang berasa besar — jadi rutinitas baru kita berdua. Nggak ada yang bilang ini "resmi" apa pun, tapi keduanya juga nggak berhenti.
Sampai suatu malam, chat kita ambil arah yang beda.
Lizzy: tadi aku nulis sesuatu. random banget sih
Aku ngelirik layar, jariku berhenti sebentar di atas keyboard.
Aku: tentang apa?
Lizzy: fiksi. tapi mungkin nggak sepenuhnya
Beberapa detik kemudian, pesan-pesan masuk satu-satu, kayak naskah yang disusun tengah malam.
Lizzy: tentang dua orang yang tersesat di hutan, nyari arah di bawah cahaya bulan
Lizzy: mereka ngobrol, saling natap, tapi nggak nyentuh
Lizzy: cuma diam yang berasa padat di antara mereka
Aku bacanya pelan-pelan. Ada ritme di tulisan Lizzy yang aku kenal — lembut tapi entah kenapa berbahaya, kayak api kecil yang nyala di tangan dan nunggu angin buat nyebar.
Lizzy: dia jalan duluan, tapi tetep mastiin jaraknya nggak kejauhan
Lizzy: ceweknya nggak banyak ngomong. tapi tiap kali cowoknya berenti, dia ikut berenti
Lizzy: keduanya tau, kalau ngomong terlalu keras, hutan bakal denger
Lizzy: jadi mereka pake sunyi buat ngobrol
Aku diem. Aku tau, ini bukan sekadar cerita fiksi biasa.
Lizzy: self control aman kan?
Aku ketawa kecil, ngetik pelan.
Aku: aman. cuma fokus
Lizzy: WKWKWK fokus katanya 😂
Aku: PG-13 aja ya
Lizzy: deal. aku moderator rating-nya
Aku: moderatornya malah nggak netral 😏
Lizzy: profesional tapi manusiawi
Aku: alasan klasik
Tiga titik muncul, ilang, muncul lagi. Tiap kali itu terjadi, dadaku ikut tegang — kayak tiap jeda itu tarikan napas di antara kita berdua.
Terus satu baris muncul. Kali ini bukan obrolan — adegan.
Lizzy: before I could say anything, you slide your hand down my back. just lingering there, between my shirt and my spine. you don't say a word. but I can feel you thinking.
Aku nelen ludah. Layar ponsel berasa kelewat terang buat malam yang tiba-tiba sunyi.
Aku: after this aku bakal nyimak tanpa komentar
Lizzy: WHY?? 🤣🤣🤣
Aku: fokus
Lizzy: WHAHAHA dasar
Lizzy: oke lanjut, tapi kalo deg-degan tanggung sendiri ya
Aku: noted. disclaimer diterima
Lizzy: good. so now... she turns around. slowly.
Aku: and?
Lizzy: she smiles. like she knows something he doesn't
Hening. Kali ini bukan jeda kosong — tapi detik di mana ada yang mulai bergeser di antara kita.
Aku: kamu nulis kayak gini karena inget sesuatu, atau seseorang?
Lizzy: mungkin. atau mungkin cuma imajinasi yang kelewat kenal kenyataan
Aku natap layar lama, jariku gerak lagi, lebih hati-hati kali ini.
Aku: kamu sadar nggak, cerita ini udah lebih jujur dari obrolan kita?
Lizzy: heh?
Aku: nggak apa-apa. lanjut aja
Lizzy: oke. tapi PG-13 tetep ya
Aku: selalu. self control aman
Balasannya cuma satu emoji senyum. Dan kadang, diam aja udah cukup buat ngelanjutin.
Coffee and Confession
Dua hari kemudian, dunia kayak sengaja mempertemukan kita.
Nggak direncanain, nggak ada janjian — cuma kebetulan kecil yang berasa kelewat pas buat disebut kebetulan.
Kafe itu ada di lantai atas mal di sisi barat kota, dikelilingi kaca tinggi yang mantulin langit sore yang mulai pudar. Bau mentega sama kopi memenuhi udara; suara spatula dari dapur kedengeran kayak irama yang nenangin.
Aku udah duduk deket dinding kaca, natap lalu lintas di bawah yang bergerak pelan kayak arus sungai lampu. Aku genggam cangkir kopi, coba nyamarin gugup pake keheningan.
Pas pintu kaca kebuka, waktu berasa berenti.
Lizzy jalan masuk — rambut diiket setengah, blouse putih longgar nangkep cahaya sore, jeans biru muda, tote bag krem nggantung di bahu. Dia bawa laptop, senyum tipis di wajahnya — senyum yang kayaknya dia sendiri nggak sadar, tapi cukup buat ngubah udara di sekitarnya.
"Udah lama, mas?"
Aku buru-buru negakin badan, naruh cangkir. "Baru aja."
Kita ngobrolin kerjaan — rollout, bug kecil yang masih bandel di staging. Tapi tiap kalimat kedengeran lebih pelan dari seharusnya. Mata kita sering ketemu — kelamaan buat disebut kebetulan.
Lizzy akhirnya natap aku, alis keangkat dikit. "Mas nggak buka laptop?"
"Nanti," jawabku. "Ada yang mau aku omongin dulu."
Lizzy nutup laptopnya pelan, jarinya berenti di touchpad. Tatapannya berubah, lebih serius.
"Oke... I'm listening."
Aku natap cangkir sebentar, terus negakin punggung. Suara di tenggorokanku kerasa lebih berat dari biasanya.
"Aku tau kita nggak pernah ngomongin ini," kataku pelan. "Tapi aku juga nggak mau pura-pura nggak tau."
Lizzy natap lama, tapi diem. Nunggu kalimat berikutnya.
"Aku nyaman, Liz," lanjutku, natap matanya langsung. "Sama kamu. Lebih dari seharusnya."
Jeda panjang nggantung di udara. Cuma bunyi spatula dari dapur yang kedengeran di antara kita.
Lizzy akhirnya bicara, suaranya rendah tapi tenang. "Mas sadar nggak, ini rumit banget?"
Aku senyum tipis. "Iya. Tapi buat pertama kali... aku nggak takut rumit."
Lizzy nunduk sebentar, natap sisa buih di cangkirnya. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Jadi ini semacam... pengakuan?"
Aku geleng pelan. "Lebih kayak izin," kataku lembut. "Kalau nanti aku mulai sayang, aku nggak mau itu salah."
Hening nyelimutin meja kita. Lizzy nggak langsung jawab — cuma buang napas pelan, natap aku dengan mata yang udah nggak sama.
Beberapa saat setelah kita pisah, aku masih natap layar ponsel. Satu notifikasi baru muncul.
Lizzy: you really are something, hyosoka
Aku bales cepet, sambil senyum kecil.
Aku: hopefully not a mistake
Lizzy: we'll see
Kita berbagi tawa ringan lewat chat, tapi kita berdua tau — garis yang selama ini samar akhirnya geser. Mungkin nggak banyak, tapi cukup buat ngubah segalanya.
Lines Between Calm and Chaos
Malam-malam setelah itu kerasa beda.
Chat kita punya ritme baru — lebih pelan, lebih hati-hati, tapi juga lebih jujur. Nggak ada lagi formalitas; cuma dua orang yang lagi nyari cara biar tetep deket tanpa kehilangan kendali.
Suatu malam, di antara notifikasi yang sepi, Lizzy nulis pelan.
Lizzy: kamu sadar nggak sih, chat kita tuh kayak lagu yang nggak punya ending
Aku yang lagi sandaran di sofa, senyum kecil bacanya.
Aku: berarti bagus dong. berarti enak didenger
Lizzy: iya, tapi...
Aku: tapi apa?
Lizzy: tapi biasanya lagu kayak gitu tentang orang yang nggak boleh disuka
Aku berenti sebentar, natap layar lebih lama dari yang perlu. Aku ngetik pelan.
Aku: selama lagunya masih muter, nggak apa-apa kan?
Lizzy: hmm... modus halus detected 😏
Aku: observer
Lizzy: sama aja. tapi aku nggak nyuruh berenti juga
Kita sama-sama diem beberapa menit, biarin obrolan nggantung di udara kayak nada terakhir yang belum bener-bener selesai.
Terus notifikasi muncul lagi.
Lizzy: aku kepikiran satu hal
Aku: apa?
Lizzy: kita ini aneh nggak sih?
Aku ketawa pendek, bales tanpa ragu.
Aku: dikit. tapi anehnya nyaman
Lizzy: iya ya. mungkin karena kita tau kapan harus berenti
Aku: atau karena kita nggak pernah berani mulai
Balasan itu nggantung lama di layar. Tiga titik muncul, ilang, muncul lagi — kayak Lizzy nulis sesuatu, terus dihapus.
Akhirnya, satu kalimat muncul — pelan, jujur, nyaris bisik.
Lizzy: no touchy, sexually
Aku senyum samar, ngetik cepet.
Aku: noted
Lizzy: sweet touch is ok tho
Aku ngerutin kening, nulis pelan.
Aku: sweet?
Lizzy: you know. yang hangat tapi nggak bikin dosa
Aku natap layar lama. Napasku turun setengah. Aku tau, obrolan ini udah bukan soal fiksi lagi — dan bukan sekadar soal batas.
Itu pengakuan diem-diem, kalau di balik semua candaan, kita lagi berdiri di tepi sesuatu yang nyata.
Aku ngetik pelan, nyaris kayak doa.
Aku: kadang batas itu justru yang bikin kita tetep di sini
Lizzy: iya. dan mungkin, itu juga yang bikin aku masih tenang
Malam makin larut. Nggak ada pesan lagi setelah itu — cuma satu centang abu-abu yang tetep di sana sampe pagi.
Tapi di dalam hati kita berdua, ada yang udah geser: batas bukan lagi garis larangan, tapi cara paling lembut buat tetep saling meluk — tanpa bener-bener nyentuh.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari There is no us.