Forever Alone
There is no us
Mulai membaca
Chapter 4 — The Wish
Beberapa hari setelah malam batas itu, obrolan kita berubah jadi lebih tenang. Nggak ada lagi kalimat modus-modusan, cuma percakapan yang pelan-pelan jadi tempat istirahat.
Suatu malam, Lizzy nulis lebih larut dari biasanya. Notifikasinya muncul pas aku baru aja matiin lampu kamar; cahaya layar nerangin separuh wajahku sendiri kayak rahasia yang minta ruang.
Lizzy nulis pelan, ada jeda di antara tiap kalimatnya.
Lizzy: kalo misalnya aku nanyanya kelewat detail, atau kayak cross boundaries... kamu bakal bilang, kan mas?
Lizzy: maksudnya, hal-hal kayak gini kan pasti cukup sensitif
Aku bacanya pelan, bibirku bentuk senyum kecil yang nggak sampe ke mata. Aku ngetik tanpa ragu.
Aku: hey
Aku: buat kamu, aku kayak buku yang kebuka
Aku: tanya aja apa yang kamu perlu tau
Tiga titik muncul lama, ilang, muncul lagi — kayak napas yang coba tenang sebelum ngomong.
Terus pertanyaan itu dateng. Sederhana, tapi bikin dada goyang.
Lizzy: why you love me?
Aku kepaku. Pertanyaan itu kecil, tapi di bawahnya ngalir sesuatu yang dalem — mungkin ragu, mungkin keberanian yang nunggu dibenerin.
Aku ngetik pelan.
Aku: susah
Aku: aku kayaknya pernah coba jawab ini sebelumnya deh, iya kan?
Lizzy: bener. giliran aku sekarang
Layar hidup lagi. Pesan-pesan masuk satu-satu — bukan paragraf, tapi denyut perasaan yang terurai kayak puisi.
Lizzy: you show me your true self, bad or good you lay it all down.
Lizzy: you are smart, talented writer, good at things I never knew someone could have all at once (socially, technically, etc).
Lizzy: you manage to make me laugh, smile, teary, flattered, mad, kezel, excited and just let me be the crazy person I am.
Lizzy: you understand and try to ensure me even though it must be tiring to repeat the things you've said before all over again.
Lizzy: can be straightforward, can deliver a soft blow.
Lizzy: can be serious, can be funny. you have a good placement on when it occurs. be who I needed you to be in that moment in time.
Lizzy: a fighter, you fight on what you believe.
Lizzy: and above all, I love how you love me.
Kalimat-kalimat itu nggak lari; mereka dateng dan duduk — kayak seseorang yang dateng buat tinggal.
Aku natap layar lama, dadaku sesek sekaligus hangat. Dunia tiba-tiba ngecil — cuma ada cahaya dari pesan itu.
Aku ngetik pelan.
Aku: wow
Aku: aku bingung. nggak bisa ngomong apa-apa
Jeda panjang. Aku nambahin lagi, kali ini napasnya lebih berat.
Aku: baru kali ini aku tau ada yang look up to me segitunya
Lizzy: and the best part — it was you
Terus baris kecil itu muncul, pelan tapi ngegetarin.
Aku: damn... 2016 kamu di mana?
Aku ketawa pendek, coba ketawain berat di dada.
Lizzy: kuliah. semester satu 😅
Aku: tetep nggak boleh nikahin kamu sih umur segitu
Aku: tapi aku bakal nunggu kamu lulus
Aku ketawa lebih keras, ngetik cepet.
Lizzy: yesshh
Hening turun di antara kita — tapi kali ini bukan jarak, tapi ruang aman yang akhirnya kita temuin.
Beberapa detik kemudian, aku ngetik lagi, kayak bisikan di antara digit.
Aku: pun sekarang aku masih nunggu kamu
Aku: sayang, makasih ya
Aku: those words... they mean the world to me
Balasannya dateng beberapa detik kemudian — lembut, kayak orang yang nulis sambil senyum.
Lizzy: makasih juga, sayang
Lizzy: aku serius sama tiap kata itu
Lizzy: I really adore you
Hening yang tersisa setelahnya bukan lagi kekosongan, tapi semacam ruang hangat, tempat dua hati istirahat sebentar sebelum dunia balik muter.
Pesan terakhir malam itu muncul, singkat tapi lembut.
Lizzy: thank you for making it easy to breathe
Aku natap layar beberapa detik sebelum bales.
Aku: aku nggak akan buru-buru apa-apa
Aku: kamu aman di sini
Nggak ada balesan lagi malam itu. Tapi buat pertama kalinya sejak lama, hening berasa kayak jawaban terbaik.
Last Name
Beberapa hari setelah malam wish itu, obrolan kita balik ringan — soal cuaca, kerjaan, film, hal-hal kecil yang biasanya lewat gitu aja.
Tapi sekarang, tiap obrolan berasa punya ruang di antara barisnya. Kita udah nggak berusaha bikin semuanya keliatan biasa. Yang tersisa cuma keintiman yang tumbuh diem-diem, tanpa definisi.
Sampe suatu malam, di sela candaan yang keliatan nggak penting, Lizzy nulis pelan. Kata-katanya dateng kayak embusan napas di ruang yang sepi.
Lizzy: boleh aku tanya sesuatu yang agak aneh?
Aku natap layar, ujung bibirku keangkat dikit.
Aku: tergantung. aneh yang lucu, atau aneh yang bikin aku mikir semalaman?
Lizzy jawab cepet, kayak udah nyiapin jauh sebelum diketik.
Lizzy: will I take over your last name?
Aku berhenti. Mataku natap layar lama — kayak seseorang yang baru dipanggil dengan cara paling lembut dan asing sekaligus.
Aku: Kamu yakin mau? Namaku kepanjangan
Lizzy: coba tulis. aku penasaran
Aku hela napas kecil. Jarang banget aku nulis namaku sendiri lengkap — cuma dikit orang yang tau artinya.
Nama Hyosoka artinya bayangan bunga yang mekar di salju — simbol dari sesuatu yang tetep hidup meski di musim terdingin. Hoshikawa, sungai bintang, nama keluarga yang aku warisin — tanda tentang sesuatu yang ngalir tanpa henti, bahkan di gelap.
Aku senyum kecil, ngetik pelan, kayak tiap huruf itu langkah kecil menuju sesuatu yang rapuh tapi berharga.
Aku: nama panjang aku Hyosoka Hoshikawa
Lizzy: Hyosoka?
Lizzy: artinya apa?
Aku: bayangan bunga yang mekar di salju
Aku: tetep hidup bahkan pas semuanya membeku
Lizzy: indah
Lizzy: jadi nama aku bakal jadi...
Aku natap layar sejenak, jariku gerak pelan.
Aku: Elizabeth Warren Hoshikawa
Ada jeda di layar. Balasan muncul beberapa detik kemudian — satu emoji senyum, diikuti deretan tangis kecil kayak tawa yang ketahan.
Lizzy: kedengerannya indah. panjang banget 😭 tapi hangat
Aku menatap layarku lama, senyum kecil di sudut bibirku nggak bisa disembunyiin. Aku tau — beberapa nama bukan sekadar rangkaian huruf, tapi cara paling lembut buat mastiin seseorang tetep hidup di dunia orang lain.
Aku ngetik lagi, kali ini lebih pelan, kayak takut kata-kataku mecahin udara.
Aku: ada satu lagi
Lizzy: apa?
Aku: Hanami Elise Hoshikawa
Balasan dateng — satu kalimat pendek, tapi kayak bikin udara di sekelilingku ikut ngelambat.
Lizzy: who is she?
Aku menatap pesan itu lama sebelum nulis, menahan napas sebelum akhirnya biarin ngalir.
Aku: mungkin... anak kita, di dunia yang nggak pernah sempet kita datangin
Balasan Lizzy muncul pelan, kayak seseorang yang nulis sambil nahan getar di ujung jari.
Lizzy: you already have a name for her?
Aku natap layar, terus ngetik dengan ritme pelan, tiap baris kayak potongan doa.
Aku: Hanami artinya ngeliat bunga mekar — cinta yang singkat tapi indah
Aku: Elise artinya janji yang lembut dan tulus
Aku: dan Hoshikawa... sungai bintang
Lizzy: jadi?
Aku narik napas pelan. Aku nulis hati-hati, kayak tiap kata nuntut kesetiaan sama perasaan yang kelewat halus buat dijelasin.
Aku: janji yang mekar di bawah sungai bintang
Aku: cinta yang mungkin cuma sekejap, tapi ninggalin cahaya abadi
Satu pesan muncul, terakhir malam itu. Tulisannya tenang, tapi kayak nyentuh sesuatu yang nggak bisa dijelasin.
Lizzy: then let's keep her there
Lizzy: so she stays beautiful
Setelah itu, layar pelan-pelan meredup, ninggalin dua nama yang nggak pernah tercatat di dunia nyata — tapi pernah idup di antara baris pesan yang nggak sempet dihapus.
Dubai, Agustus 2025
Malam netes pelan dari jendela apartemen lantai dua puluh. Cahaya kota mantul di kaca, bentuk urat-urat waktu — semuanya masih gerak, kecuali aku.
Aku duduk di tepi ranjang, ponsel di tangan, layar nyala samar. Riwayat pesan udah lama berenti di satu titik. Tapi tiap kali aku scroll ke atas, obrolan itu masih di sana — baris demi baris, tanpa sempet kehapus.
Aku bacanya bukan buat ngerti, tapi buat inget.
"Elizabeth Warren Hoshikawa."
"Hanami Elise Hoshikawa."
Senyum kecil muncul di wajahku — bukan senyum bahagia, tapi pengakuan: bahwa semua itu nyata, pernah ada, dan nggak akan pernah keulang.
Aku natap keluar jendela. Lampu-lampu Dubai berpendar kayak serpihan bintang yang jatuh ke bumi. Aku hela napas pelan, terus bisik nyaris tanpa suara.
"We really did, didn't we?"
Angin gurun nyelinap dari celah jendela, bawa sisa panas hari yang belum padam. Cahaya kota nari di mataku yang mulai buram — dan di luar sana, malam Dubai terus berkilau, kayak bintang-bintang di atas sana masih nyimpen cerita yang cuma kita berdua yang tau.
Hanami. Elise. Hoshikawa.
Hanami adalah ngeliat bunga mekar — cinta yang idup di musimnya, nerima kalau indah kadang berarti sementara. Elise adalah janji yang diucap pelan — tulus, bening, dan rapuh. Hoshikawa adalah sungai bintang — aliran cahaya yang nggak pernah bener-bener padam.
Kalo digabung, mungkin artinya gini: janji yang mekar di bawah sungai bintang. Cinta yang lahir dari keindahan sesaat, tapi ninggalin cahaya abadi.
Karena kita nggak pernah bener-bener memilikinya, tapi kita pernah berdiri tepat di tepinya. Dan buat malam-malam kayak ini, itu udah cukup.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari There is no us.