CeritaGW
Buku / Bab
Bab 052.869 kata

Lift Without Floors

FA

Forever Alone

There is no us

Mulai membaca

Chapter 5 — Lift Without Floors

Februari dateng kayak lift yang nggak berenti di lantai yang kita mau — naik terus, ngelewatin angka demi angka, bikin perut kosong. Aku sama Lizzy natap lampu indikator itu kayak anak kecil yang nungguin pintu kebuka ke dunia yang belum tentu ada.

Hari-hari berasa kayak ulangan tanpa jeda. Kantor, rapat, laporan, tidur, bangun — ulang lagi. Tapi di sela rutinitas itu, ada ruang kecil yang mulai tumbuh: percakapan yang belum selesai, tawa yang nggantung, kalimat yang kelewat hangat buat disebut profesional.

Kita tau batasnya, tapi tetep jalan di tepinya.

Between Calm and Collapse

Lampu jalan menetes cahaya di aspal basah. Langit Jakarta masih oranye, kayak bara yang enggan padam.

Di kamar kecilku, gitar akustik ngalun pelan dari speaker meja kerja — lagu lama, Your Guardian Angel, volumenya rendah, hampir ketelen dengung malam, kayak emang cuma buat nenangin ruangan, bukan buat didenger.

Ponselku bunyi. Nomor Lizzy.

Nada sambung berdering sekali, dua kali, terus klik.

"Liz?"

"..."

"Hey, kamu di mana?"

"Di luar. Lagi jalan ke halte."

"Kantormu?"

"Iya."

Suaranya capek, hampir ketelen bising kota. Terus satu kalimat jatuh kayak hujan pertama abis kemarau.

"Aku capek, Soka."

Aku nunduk, nahan napas. "Aku tau."

"Mereka semua kayak udah kompak, nyerbu pelan-pelan. Nunggu aku salah ngomong dikit aja. Berasa kayak ruangan tiba-tiba kehabisan udara."

Hening. Cuma suara motor lewat, langkah sepatu kena trotoar basah.

"Aku keluar ruangan, terus nangis di toilet."

"..."

"Lucu ya. Aku bahkan harus izin ke diri sendiri buat nangis."

Aku natap pantulan lampu kota di kaca jendela. Aku tau, apa pun yang aku bilang sekarang cuma bakal kedengeran dangkal. Jadi aku diem, biarin suaraku sandaran ke sisi lain keheningan.

"Liz..."

"Hm?"

"Besok Sabtu, kan?"

"Iya."

"Jangan mikirin kerjaan dulu. Tidur aja. Besok kamu bikin itinerary Jepangmu, yang kamu bilang mau solo trip itu."

Lizzy ketawa kecil di sela napas berat.

"Itinerary?"

"Iya. Kyoto, Osaka, Tokyo — terserah. Tulis aja, biar otakmu mikirin hal-hal yang indah."

"Kamu nyuruh aku healing?"

"Enggak."

"Terus apa?"

"Aku cuma mau ngingetin kalau dunia masih punya sudut yang nggak kejam."

Angin malam kedengeran lewat mikrofon. Lizzy narik napas panjang.

"Kamu nggak marah aku nangis?"

"Enggak."

"Kamu nggak kecewa aku nggak kuat?"

"Aku malah lega kamu masih bisa nangis."

"Kenapa?"

"Karena berarti kamu belum mati rasa."

Lizzy ketawa pelan, nunduk. Cahaya halte mantul lembut di wajahnya — walau aku cuma bisa ngebayanginnya lewat suara.

"Kamu selalu punya cara aneh buat bikin aku berenti ngerasa sendirian."

Aku natap layar yang mulai berembun karena pantulan cahaya kota.

"Aku tau aku nggak bisa nyelametin semuanya, tapi kalau aku berenti dengerin kamu, aku nggak tau lagi buat apa aku di sini."

Lizzy hela napas panjang, ketawain sesuatu yang sebenernya nyakitin.

"Lucu ya. Kamu dateng pas aku udah rusak dengan rapi. Kadang aku benci mikir gini, tapi kalo aja kamu dateng dikit lebih cepet... mungkin kamu masih sempet kenal bagian aku yang belum serumit ini buat kamu cintai."

Aku diem lama, terus suaraku keluar pelan.

"Tapi aku tetep dateng, kan?"

Lizzy senyum kecil — aku bisa denger dari cara dia narik napas.

"Iya. Dan itu justru bikin semuanya makin susah buat nggak jatuh."

Hening lagi. Suara kendaraan menjauh, cuma sisa gitar akustik yang nggantung di udara.

"Aku nggak tau apa yang bakal kejadian nanti," kataku nyaris berbisik. "Tapi yang aku tau — aku nggak akan biarin kamu jatuh sendirian."

"Soka?"

"Ya?"

"Jangan jadi baik banget, ya."

"Kenapa?"

"Karena tiap kali kamu kayak gini, aku makin susah berenti nyari kamu."

Tawa kita nyatu di ujung malam — pelan, rapuh, tapi nyata.

The Countermove

Panggilan putus; nada sibuk ketelen dengung kota. Aku natap foto Lizzy di layar ponsel lama-lama — sampe batas antara sayang dan marah berasa tipis.

Keputusan itu nggak dateng sebagai ledakan. Dateng sebagai sistem — rapi, dingin, nggak ngasih ruang buat perasaan.

Aku buka laptop. Dashboard project vendor muncul, deretan task berkedip di layar. Satu-satu issue yang ngendep di backlog aku geser ke prioritas tertinggi. Waktu penyelesaian: dipangkas. SLA: diaktifin ulang. Audit log: dinyalain lagi.

Tiap klik kedengeran tegas, kayak langkah sepatu di lantai marmer ruang sidang.

Terus aku nulis email baru — singkat, datar, tanpa nada personal.

Subject: Immediate: Contractual escalation — require corrective plan within 24h To: Vendor Ops, Head of Engineering CC: Executive Management

Isinya bukan emosi, tapi angka: waktu kejadian, log error, ticket, timestamp. Aku nggak nulis nama siapa pun. Tapi aku tau dampaknya. Begitu email itu sampe, nggak ada lagi tempat buat sembunyi di balik jargon.

Aku tutup dengan satu kalimat:

"Accountability required. No further delay."

Klik.

Aku tau, besok pagi kantor Lizzy bakal berguncang. Tapi bukan Lizzy yang bakal terguncang — sistem yang selama ini bikin dia nahan nangis di toilet.

Terus bagian halusnya dimulai. Aku buka chat pribadi sama dua orang: satu senior dev, satu account manager. Pesanku pendek:

"We need immediate root-cause analysis. Prepare rollback and ownership map. I expect update in 3 hours."

Nggak ada emoji. Nggak ada basa-basi. Cuma instruksi.

Aku telepon satu nomor lain di kantor vendor. Suara di seberang masih santai — belum tau malam itu bakal jadi ujian.

"Jaga meeting pagi. Saya ikut call. No excuses."

Sunyi sebentar, terus kedengeran, "Siap."

Langkah-langkah itu bukan tindakan brutal. Prosedural. Tapi prosedur pun bisa setajam senjata kalo diarahin ke tempat yang salah.

Aku tau: nyorot proses berarti maksa mereka yang biasa sembunyi di ambiguitas buat buka log, rekam commit, paparin timeline. Dan pas data dibaca di ruang rapat yang bener, kebohongan bakal punya bau.

Ada ruang kecil buat rasa bersalah di dadaku. Aku sadar: malam ini aku lagi nekan rekan-rekan Lizzy sendiri — orang-orang yang besok bakal nyapa aku di pantry. Aku berasa kayak hakim yang mukul palu tanpa sidang publik. Tapi satu kata terus muter di kepalaku: protect.

Aku siapin folder bukti — commit log, timeline, riwayat deploy — dan nandain satu titik penting: perubahan yang dianggap bermasalah ternyata udah lolos QA internal client yang belum disinkronin. Aku tau siapa yang skip job demi efisiensi palsu. Semuanya aku arsipin rapi — amunisi buat ngelindungin yang bener.

Pesan terakhir aku kirim ke lead engineer yang aku percaya:

"Be on call 08:30. Present real timeline. No sugarcoating."

Laptop ditutup. Tanganku berasa ringan dan berat sekaligus.

Efek domino udah jalan: meeting darurat, audit, pergeseran peran, ego yang luka. Tapi emang gitu sistem kerja pas seseorang mutusin cukup sudah.

Aku berdiri di depan jendela. Jakarta berdenyut di bawah sana — kayak jantung besar yang nolak berenti. Aku mikirin Lizzy di halte, dengan mata basah dan suara capek: aku nggak kuat.

Semua perintah itu aku kirim bukan buat ngehukum, tapi buat mastiin satu hal: dia nggak jatuh sendirian.

Sebelum matiin lampu meja, aku buka notes kecil di ponselku: "Besok — confirm itinerary chat. Buy time for her to breathe."

Aku nulis daftar kecil: kedai kopi hangat, taman sunyi, kuil dengan sakura pertama. Hal-hal yang nggak ada hubungannya sama kerjaan, tapi segalanya sama jaga seseorang biar tetep utuh.

Sebelum tidur, aku kirim satu pesan terakhir. "Tulis itinerary-mu jam 10. Aku bantu sisanya. Tidur dulu."

Pesan terkirim. Tiga titik muncul. Read.

Caffeine & Consolation

Yang kejadian di ruang rapat itu, aku tau ceritanya belakangan — dari Lizzy sendiri, pas dia udah bisa ngomonginnya sambil ketawa pahit. Tapi malam itu, sebelum aku tau detailnya, yang aku tau cuma ini: paginya, dunia kerja Lizzy berubah jadi ruang sidang kecil.

Katanya, meeting mulai dengan satu orang nyeletuk datar. "Client udah raise escalation ke level atas. Katanya kita nggak punya corrective plan."

"Kita udah buat," jawab Lizzy. "Draft-nya aku kirim semalam."

"Tapi belum disetujui."

"Karena belum sempet direview," jawabnya tenang.

Orang itu ketawa kecil, nada dingin. "Kamu sempet bikin itinerary Jepang, tapi nggak sempet review dokumen internal?"

Beberapa orang ikut ketawa pendek — bukan karena lucu, tapi karena aman.

Terus, kata Lizzy, ada yang nyeletuk lagi soal audit log, dan kalimatnya berenti di tengah — tapi semua orang tau arah tudingannya.

Lizzy nutup laptopnya pelan. "Kalo mau bahas tanggung jawab, bahas pake data. Aku bisa tunjukin log yang kalian ubah tanpa validasi QA."

Ruangan langsung senyap.

Terus satu suara masuk, rendah tapi jelas: "Client siapa, sih?"

"Hyosoka," jawab seseorang lirih.

Katanya, nama itu ngambang di udara kayak not gitar yang jatuh di antara sunyi. Ada yang nyeletuk sinis soal "orang dalem yang terlalu lembek". Lizzy — masih kata dia sendiri pas certain — cuma jawab tenang: "Aku di sini bukan buat ngebela mereka. Aku ngebela hasil kerja kalian. Biar nggak keliatan asal-asalan di depan board mereka."

Meeting bubar tanpa hasil. Tapi siang itu, HP-nya bunyi — satu pesan dari aku.

"Done. Mereka gak bisa nyalahin kamu lagi."

Dia cerita, dia berenti di depan lift lama, natap layar itu, dan buat pertama kalinya pagi itu, ngebolehin air matanya jatuh tanpa suara.

Beberapa jam kemudian, langit udah condong ke sore. Pesan baru masuk di ponselnya — bagian ini emang di layarku sendiri, jadi aku inget persis.

Aku: jangan mikirin kantor dulu. kalo udah sampe tokyo nanti, kirim foto cherry blossom pertama yang kamu liat

Lizzy: kamu emang suka ngatur ya

Aku: profesional deformation

Aku: tapi kali ini nggak pro. cuma deformation

Lizzy: soka, tadi rapat chaos. tapi setidaknya mereka mulai dengerin aku

Aku: berarti sistemnya mulai sadar mana yang salah

Lizzy: atau mungkin... karena kamu

Aku nggak langsung bales. Tapi aku tau — nggak semua hal perlu dijawab pake kata-kata. Kadang, kehadiran cukup berasa di sela jeda.

Bab selanjutnya

06 - Tokyo Transit

Lanjutkan ke bab berikutnya dari There is no us.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 05 / 20
There is no us
04

The Wish and The Last Name

2.698 kata / Tersedia

05

Lift Without Floors

2.869 kata / Sedang dibaca

06

Tokyo Transit

1.495 kata / Tersedia