CeritaGW
Buku / Bab
Bab 101.564 kata

The Weight of Sundays

FA

Forever Alone

There is no us

Mulai membaca

Chapter 10 — The Weight of Sundays

Dubai tengah malam itu menipu. Kota ini nggak pernah bener-bener tidur; ia cuma pura-pura. Dari lantai dua puluh, jalan tol berkelip kayak urat nadi yang nggak pernah cape. AC berdengung rendah; udara gurun nekan dari balik kaca, dingin yang nggak pernah tuntas.

Jam digital di meja kerjaku mahat angka 00:17 — angka yang dulu berarti ada pesan, sekarang cuma cahaya putih yang kelewat bersih buat hati yang kusut.

Ponsel di tangan. Nggak ada unggahan baru. Story disembunyiin. Chat: arsip — tanpa "typing...", tanpa tiga titik penyelamat hari.

Dia ngapus jejaknya, bukan peristiwanya.

Aku nggak marah. Mungkin karena marah butuh objek, sementara yang aku punya cuma ketiadaan yang rapi.

Sejak itu, akhir pekan jadi musim yang ngalahin kita. Senin pagi ngajarin kita cara nyindir tanpa nyebut nama. Dia ngabisin Sabtu-Minggu sama seseorang yang punya izin resmi ada di sisinya. Aku ngabisin Sabtu-Minggu sama versi diriku yang lebih buruk dari hari-hari biasa.

Cemburu berasa kayak jarum jam yang muter lambat, nusuk pelan-pelan, sementara detik-detik berisik terus ngitung tanpa henti — kayak mau bilang selalu ada seseorang lain di sisinya. Dan tiap kali Minggu berakhir, dunia berasa lebih rapi, tapi hatiku enggak.

Dulu, di monitor, 12:17 itu sandi kecil kita buat kabur dari dunia: voice note dua puluh tiga detik, foto absurd, satu baris "breathe." Sekarang 12:17 cuma jam; konteksnya ilang.

"OT lagi, Mas Soka?" tanya satpam di lobi, setengah bercanda.

Aku senyum kecil. "Iya, Pak. Biar target nggak ketinggalan."

Padahal yang ketinggalan cuma aku sendiri.

Sore itu, ponselku bergetar. Satu pesan pendek: Kopi sore?

Dua kata sederhana yang nyalain lagi sesuatu yang hampir padam.

Dia dateng dengan cardigan abu, rambut diiket seadanya, wajah dikit capek tapi tetep hangat.

"Kamu baik-baik aja?" tanyaku pelan.

Dia natap ke luar jendela. "Ngga tau. Kayaknya baik, tapi capek."

"Capek sama apa?"

"Sama yang harusnya cukup tapi rasanya kurang."

Aku natap tangannya yang meluk cangkir. "Kamu tau kan, aku di sini aja."

Dia senyum samar. "Itu justru masalahnya, Sok. Kamu selalu ada."

Hening. Kita ngabisin dua menit mandangin hal-hal yang nggak berbahaya: traffic, vendor telat, kucing hitam di tikungan deket masjid.

"Kadang aku ngerasa bersalah pas Minggu," katanya akhirnya.

"Karena kamu bahagia?"

Dia geleng. "Karena aku nggak tau harus sedih di mana."

Sejak hari itu, tawa berkurang, jeda nambah. Bukan dingin — disiplin. Kita nyebutnya Sunday Rule: kalo belum bisa baik, setidaknya jangan jadi buruk.

Malamnya, voice note dateng.

"Aku bukan menjauh karena nggak sayang, Sok. Aku cuma takut kalo deket, kita jadi orang yang nggak kita hormati."

Aku muterin rekaman itu tiga kali. Empat. Lima.

Dia pernah cerita soal gereja kecil deket rumahnya. "Minggu pagi, aku duduk di bangku pojok kanan, dua baris dari belakang. Cahayanya jatuh persis di pipi," katanya waktu itu. "Berasa tenang... tapi berat."

Tiap kali jam nunjukin 09:00 Minggu, aku bisa bayangin dia di sana — jari nyentuh rosario, mata merem, bibir gerak tanpa suara.

Di sisi lain kota, aku biasain diri sama musholla basement kantor: karpet ijo, mihrab pucat, lampu neon yang kelewat terang buat hati yang gelap. Kening nempel di sajadah, kalimat tercekat di tenggorokan.

"Kalau ini salah, ya Allah, biar aku aja yang nanggung. Jauhin dia dari rasa yang buruk."

Kita berdoa di tempat beda, sama Tuhan yang sama, dengan permintaan yang nggak bisa dikabulin bareng.

Mei dateng tanpa aba-aba. Inbox punya cara aneh nandain takdir: bukan dengan suara, tapi lampu kecil di pojok layar. Subjeknya sederhana: Project Overseas – Initial Offer. Aku baca baris pertama, terus tutup tab itu.

Malam ulang tahunku dateng kayak hal yang lupa dijadwalin. Dapur kecil. Bau bawang tumis naik dari panci.

"Selamat ulang tahun, Soka." Dia naruh mangkuk di meja. Mie panjang umur, katanya. Tradisi yang dia pelajarin buat seseorang yang nggak satu iman sama dia.

"Too salty?" tanyanya ragu.

"Pas," jawabku.

Dia ketawa kecil. "Kamu selalu bilang pas, padahal sering enggak."

"Aku takut kalo aku bilang asin, kamu berenti masak buat aku."

Dia natap aku lama, lembut. "Sok..."

Beberapa malam kemudian, aku nyerahin map transparan berisi surat "Dubai" itu.

"Jangan pergi dulu," katanya akhirnya.

"Aku belum pergi," jawabku.

"Tapi kamu udah setengahnya di sana."

"Kadang aku pengen waktu berenti di titik ini aja," katanya pelan. "Biar kita nggak harus milih siapa yang bener."

"Kalo waktu berenti, kita nggak akan tumbuh," jawabku.

"Setidaknya nggak luka."

"Liz," bisikku, nyaris tanpa suara, "kamu pernah bahagia nggak sama aku?"

Dia nunduk. "Pernah. Tapi terlalu sadar."

"Akan apa?"

"Akan kita."

Kalimat itu nggantung lama di udara.

Setahun lewat kayak satu tab yang nggak pernah aku tutup. Dia nggak nge-block aku; dia cuma ilang dengan tata krama. Aku nggak nyari tanda lagi. Aku belajar baca ketiadaan sebagai tanda itu sendiri.

Tiap Minggu sejak itu, aku nyebut hari itu dengan nama barunya — hari buat jujur sama apa yang harus diselametin dari kita.

Jam tetep 00:17. Kali ini aku nggak nunggu. Aku nutup layar, biarin malam nutup aku pelan-pelan, tanpa madamin apa pun.

Cahaya biru di layar meredup, tapi bekasnya masih nempel kayak bayangan seseorang yang baru aja berpamitan. Di pojok layar, satu ikon kecil sempet berkedip: 6-Month Review Reminder.

Bab selanjutnya

11 - Letter From June

Lanjutkan ke bab berikutnya dari There is no us.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 10 / 20
There is no us
09

The Quiet Joy

2.855 kata / Tersedia

10

The Weight of Sundays

1.564 kata / Sedang dibaca

11

Letter From June

2.480 kata / Tersedia