CeritaGW
Buku / Bab
Bab 092.855 kata

The Quiet Joy

FA

Forever Alone

There is no us

Mulai membaca

Chapter 9 — The Quiet Joy

Malam di Dubai turun kayak layar tipis yang dilipat rapi di tepi jendela. Kota masih mantulin dirinya di kaca — garis jalan, lampu taksi, bayangan menara yang jalan lambat di dinding apartemen. Aku duduk diem, nggak ada yang mendesak, nggak ada yang perlu diselametin. Tapi ada satu garis tipis yang narik aku ke masa yang nggak terlalu jauh: sore-sore yang memperlambat napas, panggilan yang neduhin ruangan tanpa harus banyak kata, dan kebiasaan ngakhirin hari dengan kalimat sederhana yang nolak usia.

Sebelum sunyi jadi rumah, ia sempet jadi tempat singgah yang paling hangat.

Jakarta natap aku dengan mata basah yang ceria waktu itu. Kita lagi baik-baik aja — dengan definisi yang kita gubah berdua. Nggak janji apa-apa, tapi nggak nepis apa pun yang dateng dengan jujur.

Siang hari, kita sibuk masing-masing. Malam bawa ritme lain. Aku sering jalan muter sebelum pulang, ngelewatin deretan kedai yang lampunya bersuara pelan. Kadang aku duduk sebentar, minjem meja buat naruh telepon yang ngantar suara yang aku tunggu.

"Kamu udah makan?" suaranya kedengeran tipis di seberang, kayak selimut.

"Belum. Kamu?"

"Aku juga belum."

Ada jeda kecil yang selalu baik, terus tawa ringan.

"Kenapa kita selalu ketemu di pertanyaan itu?" tanyanya.

"Mungkin karena itu satu-satunya hal yang bisa kita selesain hari ini," jawabku.

Minggu itu, dia mulai nulis lagi. Bukan sesuatu yang pengen dipajang. Kalimat-kalimat kecil yang lahir dari benda keseharian: sendok yang jatuh dengan suara halus, bayangan pohon yang nempel di tembok, garis cahaya di lantai gereja yang menua tepat waktu. Dia kirim sepotong ke aku tanpa judul.

"Jangan dikomentari," tulisnya. "Aku cuma pengen kamu ngeliatnya ada."

Aku bacanya tiga kali. Terus bales, "Ada."

Sore-sore lain bau roti, aspal panas, kertas basah. Kita ketemu sesekali, dengan jam yang nggak berlebihan — dua jam yang jujur lebih baik daripada lima jam yang minjem sesuatu milik orang lain. Kita duduk deket jendela, mesen hal-hal yang sabar, ngobrolin bagian-bagian kecil dari hidup yang justru bikin hidup bertahan: cara nyimpen bawang biar nggak cepet bau, posisi masang kabel biar nggak kesandung, hafalan ayat yang dia ulang di bangku panjang.

"Aku sering ke gereja belakangan," katanya suatu sore.

"Aku tau," jawabku. "Suaranya nyelinap ke panggilanmu."

"Bangku panjangnya melatih punggung," dia senyum kecil. "Melatih hati juga, ternyata."

"Caranya?"

"Dengan ngebiarin dia melengkung tanpa ngerasa salah."

Aku ngangguk, terus biarin kalimat itu duduk di meja di antara kita.

Malam minggunya, dia kirim foto halaman buku doa, buram, kayak diambil sambil jalan. "Aku suka kalimat di baris ketiga," tulisnya. "Bunyinya nggak nagih." Aku nggak nanya isinya. Aku cuma nulis, "Aku ngerti." Dan buat pertama kalinya setelah lama, aku bener-bener ngerti sesuatu: kita bisa jalan bersebelahan di trotoar yang sama tanpa mastiin bakal sampe di pintu yang sama.

Kita masih nutup hari dengan kalimat yang sama — tiga kata yang paling gampang dan paling berharga: "Hati-hati ya." Ngulang kalimat itu nggak nuain; ia malah bentuk otot kecil di bawah tulang rusuk: otot nerima. Otot ngelepasin tanpa ngerusak.

Benih retak nggak dateng sebagai ledakan. Ia dateng sebagai kebiasaan yang pelan-pelan pindah rumah: panggilan geser lima menit, pesan dibales pas pagi, cerita yang biasanya kekirim seketika kini nunggu malem buat dikasih bantal. Aku liat tanda-tandanya kayak orang liat kabut — bukan sebagai ancaman, tapi sebagai cuaca.

Suatu malam yang lembut, kita ngomongin hal kecil-kecil yang sebenernya besar.

"Kamu pernah nggak," dia berbisik, "ngerasa Tuhan sengaja lambatin sehari biar kamu bisa ngejar diri kamu sendiri?"

"Pernah," kataku. "Sering. Biasanya hari itu nggak minta difoto."

"Bener," dia ketawa pendek. "Cukup disimpen di punggung."

Kita berkali-kali negrentiin diri sebelum berlebihan. Ngerti batas itu bentuk kelembutan. Kita jadi orang yang kita hormati, kayak pernah kita sepakatin. Dan jalan ini, entah gimana, bikin aku bisa mandangin dia lebih lama tanpa takut ngilangin apa pun.

Suatu malam, dia diem lama.

"Kamu masih dengerin aku, nggak?" suaranya nyaris kayak napas.

"Tentu, masih," kataku pelan. "Mana mungkin aku nggak di sini."

Dia ketawa kecil — pendek, lega, tapi nyisain jarak di ujungnya.

"Kalau suatu hari aku milih jalan yang nggak bisa kita bagi," katanya, "kamu bakal marah?"

Aku natap langit-langit yang nggak bertulisan. "Aku nggak bisa marah sama sesuatu yang emang bener."

Dia narik napas panjang. "Kalau bener, itu berarti kita harus ngakhirin kisah kita lebih cepet?"

Aku diem sebentar sebelum jawab. "Aku nggak tau soal akhir," kataku pelan. "Tapi malem ini, kita masih di halaman yang sama."

Dia ketawa kecil lagi — bukan karena lucu, tapi karena lega denger sesuatu yang belum selesai disebut selesai. "Baiklah," katanya akhirnya.

Waktu ngupas kita pelan-pelan. Dia makin sering ke gereja, duduk di bangku panjang yang bikin punggungnya lurus tapi hatinya melengkung. Kita masih saling telepon, masih saling nutup hari dengan "hati-hati ya," tapi ada dinding baru yang tumbuh kayak jamur: nggak kedengeran, nggak keliatan jelas, tapi ngubah bau ruangan. Jamur itu milih tempat paling lembab di antara kita, yaitu jeda. Kita nggak bencinya. Kita nyediain kursi buat dia, minta dia duduk sopan, terus belajar ngomong pelan di hadapannya.

Sejak itu, aku jalan lebih sering. Ada jembatan penyeberangan yang nunjukin lampu-lampu bentuk huruf yang nggak pernah jadi kata. Ada warung kecil yang cuma jual air mineral dan permen mint, tapi tiap malem nyalain lampu neon kayak panggung. Ada halte bus yang aku suka karena atapnya kependekan buat orang tinggi, maksa seseorang buat dikit nunduk — gestur kecil yang bikin siapa pun keliatan lebih baik.

Dia makin tekun sama rutinitasnya: gereja, kerja, nulis, istirahat. Di panggilan larut, suaranya kadang jernih banget. Aku jadi penonton yang nggak bosen. Di hari-hari lain, suaranya rendah — bukan karena sedih, lebih kayak sisa sore di belakang tenggorokan. Di hari-hari itu, aku yang cerita — soal mesin kopi kantor yang bunyi kayak kereta mainan, soal sup ayam yang gagal karena aku lupa matiin api, soal tukang ojek yang hafal jam pulangku meski aku nggak pernah kasih nomor.

Suatu Sabtu, kita sempet ketemu. Hujan udah dateng sebelum kita duduk. Kita nggak ngomongin jarak, nggak juga meriksa kalender. Kita mandangin kue yang akhirnya kita bagi diem-diem jadi dua bagian yang nggak sama rata, dan nggak ngeperjuangin sisi mana yang lebih gede.

"Kamu bahagia nggak?" tanyaku tanpa rencana.

Dia natap kue dua detik, baru natap aku. "Aku damai," katanya. "Dan damai itu ngandung bahagia di dalemnya, kayak gula di teh."

"Tehmu nggak terlalu manis," godaku.

"Karena aku pengen ngerasain airnya," katanya. "Bukan cuma gulanya."

Kita ketawa. Setelah itu, kita ngomongin hal-hal yang bikin hidup bisa ditinggalin: cara nolak undangan dengan kalimat yang nggak nyakitin, cara milih kata "nanti" tanpa jadi kabur, cara naruh punggung di kursi biar besok nggak benci.

Sebelum pisah, kita berdiri di pintu yang kesempitan buat dua orang. Kita saling ngasih jalan berulang-ulang, kayak anak-anak sopan yang kebingungan. Akhirnya aku melangkah duluan. Aku noleh sebentar. Dia ngangkat tangan, gerakan universal yang megang banyak bahasa: jaga dirimu.

Minggu-minggu setelahnya, ritme yang kita pelihara ngeraskan tulangnya. Di satu perjalanan pulang, di pesawat aku merem, tapi tetep terjaga. Ada momen ketika awan di luar jendela numpuk kayak buku putih. Aku bayangin nulis namanya di punggung salah satu buku itu. Terus biarin huruf-hurufnya dibaca angin.

Kita tetep saling sapa, saling kirim benda kecil — foto cangkir, potongan tulisan, jendela pada pukul yang sama tapi di kota yang beda. Kita pelihara kebiasaan tuker "hati-hati ya," karena nggak ada kalimat lain yang lebih bener buat situasi di mana dua orang berusaha nggak jadi yang paling penting, sambil diem-diem tetep mengutamain yang lain.

Di sepertiga malem, kadang aku kebangun. Kamar di Dubai punya cara sendiri bikin orang kejaga dengan alasan yang susah ditulis. Aku jalan ke jendela, liat kota yang nggak ngerasa bersalah buat tetep kerja. Aku mikirin kemungkinan-kemungkinan kecil yang dulu kita titipin ke kursi, meja, atau lampu. Terus mikirin hal yang lebih kecil lagi: kita pernah sepakatin definisi "cukup" dengan puasa kata yang panjang.

Suatu sore di Jakarta, aku berdiri beberapa langkah dari halte bus. Atap logamnya natap aku, licin, dingin, jujur. Aku ngerasain sesuatu yang jalan dari tumit ke tengkuk — sejenis kabar yang belum jadi kejadian. Aku merem sebentar. Aku tau: bakal ada suatu hari, entah kapan, ketika kita berdiri kelewat deket di bawah atap kayak itu, dan dunia maksa kita namain jarak tanpa nyalahin siapa pun.

Aku buka mata. Hari itu belum hari itu. Aku nyimpen kabar itu di saku, berdiri lebih lama dari yang perlu, terus melangkah.

Malem kembali nutup Dubai tanpa ngerusak riasannya. Aku matiin lampu kerja, nyalain lampu kecil di sudut, terus duduk di lantai, sandaran ke sisi tempat tidur. Aku buka arsip percakapan, gulir seperlunya, terus berenti. Nggak ada yang perlu ditambahin. Nggak ada yang perlu dihapus.

Kebahagiaan yang kita simpen di bab ini nggak teriak. Ia nggak butuh tepuk tangan, nggak maksa pelukan, nggak janjiin akhir. Ia cuma duduk, rapi, dengan baju yang sesuai cuaca. Kalau ia ngomong, mungkin gini: "Aku di sini secukupnya."

Aku ngucapin tiga kata yang paling setia ngakhirin hari, entah kedengeran atau enggak, entah sampe atau enggak: "Hati-hati, ya."

Terus senyap yang baik nutup malem — senyap yang nggak nagih apa-apa dan nggak nunda apa-apa.

Bab selanjutnya

10 - The Weight of Sundays

Lanjutkan ke bab berikutnya dari There is no us.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 09 / 20
There is no us
08

The Small Heists We Commit

1.139 kata / Tersedia

09

The Quiet Joy

2.855 kata / Sedang dibaca

10

The Weight of Sundays

1.564 kata / Tersedia