CeritaGW
Buku / Bab
Bab 112.480 kata

Letter From June

FA

Forever Alone

There is no us

Mulai membaca

Chapter 11 — Letter From June

Cahaya biru di layar belum bener-bener padam. Kursor masih berkedip pelan, sabar dan sedikit kejam, nunggu keputusan yang nggak juga tiba. Di pojok kanan bawah, ikon kecil yang sama tetep nyala: 6-Month Review Reminder.

Aku geser kursi mendeket. Satu napas panjang. Klik pertama buka halaman yang persis kayak yang aku bayangin: alamat pengirim sama, subjek yang ngulang kayak lagu yang nggak mau selesai — Following up your previous correspondence regarding Project Overseas — 6 Month Review.

Suara AC apartemen memudar pelan. Dengung kota Dubai di bawah sana melebur jadi gema jauh. Dan dalam hitungan napas, cahaya neon gurun itu geser pelan jadi sinar putih Jakarta: lebih lembap, lebih bising, lebih jujur.

Di antara semua itu, Juni dateng bawa amplop tipis: Dubai. Tawaran kerja yang rapi, gaji yang memikat, masa depan yang terang. Kita duduk berhadapan di sebuah kafe yang kelewat terang buat berita yang kelewat gelap.

Dia geser cangkir kopinya sampe uapnya berlayar pelan ke arahku. "Kapan kamu terima ini?" tanyanya, suaranya datar tapi ujungnya goyah.

"Tadi pagi," jawabku. "Mereka minta jawaban sebelum akhir bulan."

"Dan kamu... belum jawab?"

"Belum," kataku. "Aku masih di sini."

Dia ngangguk pelan, semacam lega yang nggak pengen ketauan. "Dubai," katanya lirih. "Kedengeran jauh banget."

"Jaraknya cuma tujuh jam penerbangan," ujarku.

"Bukan jaraknya yang bikin takut," balasnya, kali ini lebih pelan. "Tapi waktu yang ilang di antaranya."

Aku natap dia lama. "Kalau aku pergi, kamu marah?" tanyaku akhirnya.

Dia ketawa pendek. "Kalau aku marah, kamu batal berangkat?"

"Entahlah," kataku jujur.

"Berarti jangan aku jawab," ucapnya, malingin wajah.

Sendok dari meja sebelah mukul piring — ting, ting, ting — ritme kecil yang maku percakapan kita di tempat.

Dia balik natap aku. "Kamu keliatan tenang," katanya.

"Aku nggak tenang," bantahku pelan.

"Matamu tenang." Dia condongin tubuh. "Tenang itu bahaya, Sok. Tenang itu tanda kamu udah menyerah tanpa sadar."

"Aku nggak menyerah." Aku atur napas. "Aku cuma belajar nyebut kehilangan dengan nama yang lebih sopan."

"Kayak apa?"

"Takdir," kataku.

Dia nahan napas sepersekian detik. "Kalau suatu hari kamu berubah pikiran," katanya, "jangan kasih tau aku."

"Kenapa?"

"Supaya aku nggak perlu pura-pura setuju."

Waktu beranjak, kafe jadi lebih tenang. Aku natap amplop itu, terus buka lagi lipatannya.

"Jangan pergi dulu," katanya.

Dia ngucapinnya pelan banget, hampir cuma sehembus udara. Tapi aku dengerin dengan seluruh diriku. Itu bukan perintah. Bukan permintaan. Itu doa.

Aku tutup amplop. "Kalau aku bilang iya," ucapku, "aku bilang iya buat siapa?"

Dia geleng pelan. "Mungkin bukan buat aku. Mungkin buat sesuatu yang lebih jernih dari kita."

"Kejernihan itu bahaya," kataku.

"Kadang," ujarnya, "kejernihan cuma cara lain dari kehilangan."

Sore itu, aku nolak tawaran itu. Bukan karena aku yakin. Tapi karena aku masih pengen satu bulan lagi bareng dia. Demi satu siang lagi. Demi satu tawa lagi. Aku tulis email di malam hari: "Terima kasih atas tawarannya. Untuk saat ini saya harus menolak." Tanganku gemeteran pas nekan send, tapi gemetar itu berasa kayak harga diri yang nggak bisa dinegosiasikan.

Pagi berikutnya, dia dateng bawa dua gelas kopi. "Kamu yakin?" tanyanya sambil dorong salah satunya ke arahku.

"Aku nggak yakin," jawabku. "Tapi aku tenang."

"Tenang itu bahaya," dia ingetin aku lagi.

"Mungkin," kataku. "Tapi kalau 'menyerah' artinya berenti ngelawan sesuatu yang emang nggak bisa dimenangin, mungkin aku milih itu."

"Kamu orang paling sabar yang aku kenal," katanya.

"Aku bukan sabar." Aku naruh cangkir di meja. "Aku cuma nggak pengen kita berubah jadi orang yang nggak kita hormati."

Dia natap aku lama. "Kalau nanti semuanya berubah," katanya tiba-tiba, "kamu boleh benci aku."

"Aku nggak akan benci kamu," jawabku, kelewat cepet.

"Kalau kamu nggak benci, kamu nggak selesai," ucapnya, setengah bercanda, setengah berdoa.

"Itu bukan caraku selesai," kataku.

Dia ngangguk. "Caramu apa?"

"Diam." Aku diem sebentar. "Disiplin."

Dia senyum kecil. "Kamu dan disiplinmu. Kita bukan tragedi, ya?"

"Kita bukan tragedi," kataku, mbalikin senyumnya. "Kita disiplin."

Kata itu nggantung di udara kayak bau hujan yang nggak kunjung turun. Kita nggak peluk-pelukan. Nggak salaman. Kita cuma duduk dikit lebih lama dari yang semestinya.

Klik kecil dari laptop ngembaliin aku ke pagi Dubai. Cahaya matahari nembus tirai tipis. Aku masih duduk di kursi yang sama, tapi berasa kayak baru balik dari perjalanan jauh.

Kubuka lampiran mereka. Suratnya identik. Posisi sama. Deskripsi kerjaan sama. Yang beda cuma aku — dan cara mataku sekarang baca baris-baris yang dulu bikin aku gemeteran. Aku senyum kecil, bukan karena lucu, tapi karena akhirnya ngerti sesuatu yang harusnya udah aku paham sejak awal: yang dulu aku tolak demi cinta, sekarang dateng lagi justru karena cinta itu udah selesai nampakin bentuknya. Bukan menghilang. Selesai.

Ada ingatan lain yang nepuk bahuku: malam ketika aku nulis pesan yang nggak pernah kekirim ke dia — pesan yang aku hapus sebelum sempet dibaca keras-keras. "Aku menolak tawaran itu," begitu kalimat pertamanya. "Demi kamu. Demi satu bulan lagi. Demi satu siang lagi. Demi satu tawa lagi."

Jam dinding nunjukin 05:06. Azan subuh dari masjid kecil di bawah sana nyusup pelan lewat celah jendela yang kurang rapet.

Aku bangkit, jalan ke dapur kecil, nuang air ke cangkir yang masih nyisain bau kopi dari semalem. Aku buka jendela dikit — udara gurun masuk, kering, nggak romantis, tapi jujur.

"Apakah kamu akan membalas?" tanya diriku yang lain, yang suaranya masih niruin ritme napasnya di kafe setahun lalu.

"Aku nggak perlu ngebales apa pun," jawabku diem-diem. "Yang perlu aku lakuin cuma ngakuin — kali ini tanpa alasan, tanpa drama, tanpa nyalahin siapa-siapa."

Kursor berkedip. Aku ngetik dua kata: Still thinking. Terus aku hapus. Aku ngetik lagi: Thank you for the follow up. Kalimat itu berenti di sana.

Aku tutup compose. Nggak ada yang perlu aku bilang saat ini. Beberapa surat emang ditulis bukan buat dikirim, tapi buat negasin bahwa kita pernah punya alasan buat diam.

Aku natap pantulan wajahku di kaca jendela. Mata itu masih sama, tapi nadanya udah geser satu nada ke bawah — lebih hangat, lebih rendah, lebih deket ke tanah. Aku nggak lagi nyari siapa yang bener. Aku nggak lagi nyiapin kalimat pembelaan.

Aku ambil ponsel, buka arsip chat yang udah nggak nge-update dirinya. Ada pesan singkat di paling atas, dengan tanggal yang nggak bisa diubah. Aku baca nama kontaknya dan berenti di sana. Aku nggak perlu nekan apa pun.

"Kalau kita ulang lagi, kamu bakal ngelarang aku pergi, nggak?" Pertanyaan itu ngelintas, bukan buat dijawab, tapi buat didenger.

"Aku nggak akan tanya lagi," jawab sisi lain kepalaku. "Kita udah maknain kata 'cukup' dengan cara yang baik."

Aku senyum kecil. "Makasih udah nahan aku dulu," kataku dalam hati, dan buat pertama kalinya kalimat itu keluar tanpa nyakitin tenggorokan. "Sekarang aku bisa jalan lagi."

Aku balik duduk. Aku buka lagi email HR. Aku baca pelan dari awal. Nggak ada yang berubah di sana. Yang berubah cuma cara kata-kata itu nyentuh tubuhku.

Jari telunjukku gerak lagi ke trackpad. Aku ngetik pelan: Thanks for following up. I appreciate the consideration. I'll revert once I finish my internal review.

Sebelum nekan send, aku tutup mata satu detik. Ada bayangan amplop tipis yang balik ngelintas, ada meja kafe yang kelewat terang buat berita yang kelewat gelap, ada bibir yang ngucap, "Jangan pergi dulu," bukan buat ngiket aku, tapi buat ngizinin aku ngerti batas yang lain kali nggak perlu aku coba lewatin.

Aku buka mata, ngangguk kecil ke diri sendiri, terus nekan send.

Suara "woosh" yang kecil banget memudar di kamar. Itu aja. Nggak ada yang meledak. Nggak ada yang runtuh.

"Aku menolak tawaran itu dulu," kataku pelan, "demi satu bulan lagi. Demi satu siang lagi. Demi satu tawa lagi." Kalimat itu sekarang kedengeran kayak ucapan terima kasih ke versi diriku yang pernah berdiri di persimpangan yang sama. "Dan sekarang aku nerima kalau beberapa penundaan bukan buat nyelametin cerita, tapi buat nyelametin cara kita ngingetnya."

Aku senyum. Aku nggak nengok ke belakang. Pintu aku buka setengah, cahaya koridor masuk. Aku melangkah.

Dunia, kayak biasa, ngelanjutin dirinya sendiri. Dan kali ini, aku ikut jalan — tanpa buru-buru, tanpa kata-kata yang perlu dibuktiin.

Bab selanjutnya

12 - The Last Stop

Lanjutkan ke bab berikutnya dari There is no us.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 11 / 20
There is no us
10

The Weight of Sundays

1.564 kata / Tersedia

11

Letter From June

2.480 kata / Sedang dibaca

12

The Last Stop

2.275 kata / Tersedia