Forever Alone
There is no us
Mulai membaca
Chapter 8 — The Small Heists We Commit
Di meja meeting yang dingin, pas presentasi melenceng dan suara sombong masuk dari sela angka, Lizzy berhenti memedihkan diri. Dia buka dashboard kecil yang aku siapin: ownership map yang jernih, timeline yang nggak bisa disulap kata-kata.
Pas seseorang nyindir, "kamu kelewat teoretis," dia balikin layar dan nunjuk log:
"Ini faktanya. Yang teoretis itu asumsi."
Hening turun bukan karena takut, tapi karena data punya gravitasi.
Di sisi lain, aku belajar nahan kebiasaanku nyelametin kelewat cepat. Protect nggak lagi berarti bawa pedang ke tiap ruangan. Kadang protect berarti nganterin payung, naruhnya di ambang pintu, terus mundur sebelum hujan selesai.
Malam-malam tertentu kita nyolong waktu. Bukan jam penuh — cukup 17 menit di parkiran, 23 menit di drive-thru yang kosong, 9 menit di depan minimarket yang lampunya selalu kelewat putih. Percakapan pendek yang nyelametin hari dari berubah total menjadi hari yang buruk.
"Kalau nanti kamu tiba-tiba capek," kataku suatu malam, "kita bikin daftar lima hal kecil yang masih bisa bikin ketawa."
"Contohnya?" tanya Lizzy, condongin badannya dikit.
Aku senyum. "Kayak barista yang nggak bisa eja namamu... atau lift yang nyangkut di lantai tujuh padahal kamu pencet dua. Orang yang ngomong 'by the way' padahal nggak ada jalan memutar juga bisa, sih."
Lizzy ikut ketawa. "Atau kamu — yang suka pura-pura galak."
Aku bales cepet, "Dan kamu, yang suka pura-pura kuat."
Tawa kita nyatu, pelan. Bukan tawa yang bikin dunia lebih adil, tapi cukup buat bikin bahu berasa lebih ringan.
Suatu sore, kita mampir ke minimarket beli air sebelum balik kerja. Tanganku penuh — laptop, map dokumen — jadi aku sodorin kartu debit ke Lizzy.
"PIN-nya dua-dua-nol-delapan," kataku, nggak mikir dua kali.
Dia bayar, terus pas jalan keluar, dia nanya, setengah bercanda. "Itu tanggal apa sih? Ulang tahun kamu bukan, aku hafal."
"Kebiasaan lama," jawabku pendek. Aku nggak nambahin apa-apa lagi.
Dia diem sebentar. Aku bisa liat dia mau nanya lebih jauh, tapi milih nggak. "Oke," katanya, dengan nada sedikit lebih pelan dari sebelumnya.
Aku nggak sadar itu ngeganggu dia sampai beberapa hari kemudian, pas dia nyeletuk — setengah bercanda, tapi nggak sepenuhnya. "Kamu tau kan, aku pengen jadi bagian dari angka-angka penting kamu. Bukan cuma numpang di kartu debit doang."
Aku ketawa waktu itu, kirain dia cuma gemesin. Aku baru ngerti belakangan — jauh belakangan — kalau itu bukan lucu-lucuan doang.
"Kalau kita punya peta," kata Lizzy suatu malam, "aku mau ada simbol kecil di sudutnya. Kayak kompas, tapi bukan arah. Lebih kayak pengingat."
"Pengingat apa?"
"Kalau ragu, pilih yang bikin hati tetap manusia."
Malam itu aku gambar kompas aneh di notes — empat arah bukan N, E, S, W, tapi Warmth, Truth, Boundary, Return. Di bawahnya, aku nulis:
Password musim ini: pulang bukan selalu ke tempat, kadang ke diri sendiri.
Lizzy motret halaman itu.
"Kalau suatu saat aku lupa," katanya, "kirimin ini lagi."
"Kalau suatu saat aku takut," balasku, "ingetin aku kalau takut nggak selalu berarti mundur."
"Deal."
Kita nggak namain ini cinta. Nama kelewat sempit buat nampung semua dinding yang harus kita hormatin. Tapi di sela garis batas, tumbuh taman kecil yang kita rawat pake cara-cara kecil: check-in jujur, doa yang nggak minta apa-apa, dan keberanian ngaku hari yang buruk tanpa nyalahin siapa pun.
Di kafe yang sama, seminggu kemudian, hujan dateng lebih deras. Kilat motong langit kayak highlight marker di buku pelajaran. Lizzy buka ponsel, nunjukin catatan — judulnya Lightning Round. Daftar pertanyaan cepat.
"Main?" dia ngangkat alis.
"Main," jawabku.
"Hal termanis minggu ini?"
"Dua anak magang yang saling dorong pintu karena sama-sama salah sisi."
"Hal paling bodoh yang kamu pikirin?"
"Kalau bunga bisa baca, mereka mungkin iri sama orang yang kita sayang."
"Hal yang bikin kamu pengen ngilang?"
"Kalimat: 'sudah saya bilang dari dulu' dengan wajah puas."
Kita nyelesain dua puluh pertanyaan. Nggak ada yang penting, tapi beberapa bikin kita berdua diem lebih lama dari seharusnya — terutama pas pertanyaan nomor tujuh belas muncul:
'Apa yang bikin kamu bertahan walau nggak punya jaminan akhir?'
"Because some people are worth the uncertainty," jawabku pelan.
Lizzy nggak ketawa. Nggak juga nangis. Dia cuma ngangguk — gerakan kecil yang rasanya besar.
Ada satu malam ketika semuanya jatuh: sistem down, vendor defensif, board meeting maju mendadak. Dunia bawa palu, siap mukul apa pun yang keliatan paling gampang dipukul.
Lizzy nulis: "Aku di tangga darurat. Lima menit."
Aku ngetik: "Aku dengerin."
Empat menit hening. Terus satu kalimat muncul: "Aku masih ngerasa sendirian, Soka. Tapi kali ini... sendirian yang nggak sesepi dulu."
Balasanku nggak dateng dalam kata-kata. Aku rekam suara kota dari jendelaku — motor jauh, hujan ngiris talang, adzan Isya yang ketelen angin. Kekirim sebagai voice note tiga puluh detik.
Di tangga darurat, Lizzy muterin audio itu dua kali. Tiga kali. Terus berdiri.
Pas dia balik ke ruang rapat, dunia nggak berubah. Tapi langkahnya nggak gemetar.
Kadang, yang nahan kita bukan janji besar — tapi bukti kecil kalau ada tempat kita bisa pulang sebentar, meski cuma di telinga.
Dan di antara segala bising kota, kita nemuin cara baru buat diem bareng — tanpa harus ada di ruangan yang sama.
Malam berakhir di parkiran yang udah setengah gelap. Lampu-lampu tiang jaraknya kelewat jauh; sisanya keisi bayangan yang jinak.
"Kamu mau aku anter?" tanyaku.
"Enggak usah. Aku bisa," jawab Lizzy.
"Baik."
"Kamu tetep pulang lewat jalan yang sama?"
"Ya. Tapi aku bakal pelan di tikungan deket masjid. Di situ biasanya ada kucing hitam kecil."
"Kamu hafal semuanya."
"Yang bisa kuhafal, ya."
Lizzy natap aku sejenak, terus raih buku catatanku. Di halaman kosong paling belakang, dia nulis beberapa baris pake huruf miring rapi:
Keep smiling through it all. I'm always by your side, holding your hands. Cheering you up. Whatever you face, you got this. Remember the 5s — also, never stop writing, ok?
Dia nutup buku itu dan nyerahin balik.
"Kalau nanti kamu lupa gimana caranya kuat, baca ini aja," katanya lembut. "Anggep aja aku yang nulisnya ulang, tiap kali."
"Terima kasih."
"Jangan jadi baik banget," Lizzy nambahin, senyum. "Tapi... tetaplah baik."
Hujan udah tinggal sisa. Udara bau tanah dan kopi yang mendingin. Kita berdiri sebentar, kayak penonton yang enggan bangkit pas kredit film udah jalan.
"Besok?" tanyaku.
"Besok," jawab Lizzy. "Bukan buat nyelesain apa-apa. Cuma buat mastiin kita tetep manusia."
Kita berpamitan. Mesin mobil nyala. Ponselku bergetar — sebuah foto masuk: secangkir kopi di ambang jendela, sisa hujan nempel di kacanya kayak not balok.
Caption: "Fun & Games, versi kita."
Di perjalanan pulang, aku ngelewatin tikungan deket masjid pelan-pelan. Kucing hitam kecil itu emang ada, duduk di bawah payung plastik, natap hujan yang udah hampir berenti.
Dan di kepalaku, satu kalimat nutup hari kayak VO di akhir film:
Beberapa cinta nggak minta jawaban. Ia minta ruang — biar yang patah nggak makin rusak, dan yang utuh tetep hangat. Dan kalau besok badai dateng lagi, kita udah nyiapin payung, bukan karena yakin langit bakal baik, tapi karena kita milih tetep manusia — bareng, tanpa ngelanggar apa pun.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari There is no us.