CeritaGW
Buku / Bab
Bab 122.275 kata

The Last Stop

FA

Forever Alone

There is no us

Mulai membaca

Chapter 12 — The Last Stop

Malam di Dubai menua lebih cepat dari siang. Dari jendela apartemen, aku liat bayanganku sendiri berdiri di dalam ruangan; siluet yang nggak lagi aku kenal.

Udara gurun ngantar sisa panas sore. Tapi di sela embusannya, ada sesuatu yang nggak berasal dari sini — bau yang bangunin bagian waktu yang udah lama tidur. Hujan. Bukan hujan Dubai yang jarang, tapi hujan yang aku kenal sejak lama. Jakarta, Maret, malam ketika langit turun kelewat rendah.

Ruang tamu perlahan memudar. Dan tanpa berasa, aku udah berdiri lagi di bawah kanopi tipis halte bus Kuningan, malam itu. Asal mula retak yang nggak bikin suara.

Aku masih inget suaranya waktu itu — lirih, tapi cukup kuat buat nahan langkahku. "Jangan pergi dulu," katanya.

Setelah Juli, waktu jalan tanpa garis tepi. Kita masih ngomong, tentu aja. Tapi kalimat berubah fungsi. Dulu berjejal rencana, sekarang menyusut jadi pengingat makan, kabar macet, atau doa singkat yang nggak minta balasan.

Hujan tiba lebih dulu dari kita malam itu. Tipis, rapi, nggak mengancam. Aku jalan pelan dari sisi trotoar. Di perempatan, seorang pria jual payung lipat warna buah-buahan — mangga, jeruk, delima — tapi aku nggak berenti. Malam itu aku pengen ngerasain basahnya.

Dia dateng beberapa menit setelahku. Rambutnya basah, bukan berantakan — lebih kayak kacau yang udah ngerti gimana caranya tetep keliatan baik.

"Kamu nggak bawa payung?" tanyanya pas udah cukup deket.

"Pengen kena hujan," jawabku. "Biar besok nggak lupa rasanya."

Dia senyum sebentar, terus nepuk lengan jaketku. "Masih sama. Dingin yang sopan."

Kita berdiri bersebelahan. Bus dateng, berenti, pergi lagi. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Kita nggak gerak.

"Kamu makin sibuk?" tanyanya, natap lurus ke depan.

"Kamu juga," kataku.

Dia ngangguk. "Aku mulai bangun lebih pagi. Ada jam-jam ketika kota belum bangun, tapi doa udah."

"Kadang aku ngerasa kita kriminal," lanjutnya pelan, masih natap aspal. "Bukan karena apa yang kita lakuin, tapi karena apa yang kita rasain."

"Rasa salah itu... dari mana?" tanyaku hati-hati.

"Dari tempat yang bikin aku pengen jadi orang baik," jawabnya. "Dan anehnya, kamu juga dari tempat yang bikin kamu pengen jadi orang baik. Cuma jalannya nggak ketemu."

"Kamu inget kita pernah bercanda soal dunia paralel?" tanyaku.

Dia ketawa kecil, suara yang lebih rendah dari biasanya. "Di dunia itu kita bisa sarapan bareng tiap Minggu pagi," katanya. "Dan mungkin juga tiap hari — di mana kita nggak perlu berenti jadi 'kita'."

Dia narik napas panjang. Terus, tanpa nengok, dia bilang, "Andai dunia kita sama, Soka."

Kalimat itu jatuh di antara kita tanpa bikin bunyi.

"Dunia..." aku berenti, nyari kata yang nggak nyalahin siapa pun. "Mungkin dunia emang nggak bertugas nyeragamin, ya?"

"Mungkin tugasnya ngajarin kita nerima," balasnya.

"Apa nerima berarti berenti?" tanyaku.

"Bukan berenti pada yang bener," dia jawab pelan, "tapi berenti sebelum kita jadi salah."

"Aku nggak pengen nyesel," kataku akhirnya.

Dia noleh. "Kamu takut nyesel pergi atau tinggal?"

"Dua-duanya."

"Mungkin yang bisa kita pilih cuma jenis penyesalan yang lebih kita sanggupin," katanya. "Yang nggak bikin kita benci diri sendiri."

"Aku... belum siap liat kamu jadi orang lain," kataku pelan. "Padahal aku tau, aku yang sekarang bikin kamu harus jadi orang lain."

"Enggak," dia geleng, pelan. "Kamu nggak bikin aku jadi orang lain. Kamu ngingetin aku soal siapa aku."

Bus dateng lagi. Kita tetep berdiri.

"Kalau ada dunia lain," kataku, natap ke genangan, "aku pengen ketemu kamu lagi."

"Kalau ada," balasnya, "semoga di sana kita bisa ketawa tanpa harus ngitung siapa yang luka."

Hujan mereda nyaris tanpa disadari. Aku ngelirik jam tanganku. Dia juga natap jamnya. Kita ketawa kecil.

"Pulanglah," katanya. "Sebelum hujan pura-pura turun lagi."

"Kamu?" tanyaku.

"Aku juga." Dia meluk tas kecil di dadanya. "Makasih udah mau berdiri sama-sama."

"Makasih udah ngajakin berdiri di tempat yang tepat," balasku.

Dia ngulurin tangan, aku genggam. Genggaman yang nggak tau harus nahan atau lepas.

"Kamu kedinginan?" tanyanya, lebih sebagai cara mastiin aku masih ada.

"Dikit," kataku. "Tapi ini dingin yang bisa aku terima."

"Kamu masih inget, dulu kita pernah bilang pengen duduk di halte sampe bus terakhir?" katanya pelan.

"Aku inget," jawabku. "Kita pengen tau, apa dunia berubah setelah semua pilihan abis."

"Dan?" matanya gerak ke arahku sebentar. "Menurut kamu, dunia berubah?"

"Kayaknya enggak," kataku. "Mungkin cuma kita yang berubah."

"Waktu kecil," katanya tiba-tiba, "aku suka main ke terminal bus sama ayahku. Kami ngitung berapa banyak bus yang lewat. Aku selalu nungguin bus terakhir, karena berasa ada sesuatu yang selesai kalau bus terakhir itu akhirnya dateng."

"Terus?" tanyaku.

"Terus aku gede," dia senyum, tapi cuma setengah. "Dan aku ngerti, nggak semua yang selesai itu ngelegain."

"Aku kepikiran satu hal," katanya kemudian. "Kalau kita mulai dari awal — bukan nentang siapa pun — cuma... mulai dari awal. Dari yang kecil-kecil. Dari sarapan Minggu pagi. Dari doa yang nggak nyebut nama. Cuma itu."

"Aku pengen," kataku. "Bukan karena aku berani, tapi karena aku sayang."

Dia natap aku, tepat. "Dan kalau sayang ini, akhirnya, bikin kita ngelawan yang kita hormatin?" suaranya lembut, tapi di ujungnya ada tebing. "Kamu akan berenti, kan?"

Aku narik napas. "Kalau itu jawabannya, aku akan berenti," kataku. "Tapi izinin aku berdiri di sini sebentar lagi."

"Aku takut," kataku akhirnya. "Bukan pada pergi atau tinggal. Aku takut suatu saat aku bikin kamu benci bagian terbaik dari diri kamu sendiri."

Dia merem sesaat, terus buka lagi. "Aku juga takut. Takut suatu saat aku bikin kamu nganggep Tuhan sebagai musuh."

"Aku punya kelemahan," lanjutnya. "Kalau kamu tanya, aku akan milih kamu. Tiap kali. Itu sebabnya aku harus berenti sebelum aku bener-bener milih. Kamu ngerti, kan?"

"Aku ngerti," kataku.

"Terakhir kali," katanya, noleh ke aku. "Boleh aku minta satu hal?"

"Kamu boleh minta apa aja," jawabku. "Yang bisa."

"Kalau nanti kamu pergi," dia nahan kalimatnya, "jangan pergi karena benci. Pergi karena kamu sayang versi terbaik kita. Biarin dia tetep tinggal."

"Versi itu tinggal di kamu," kataku. "Dan tinggal di aku. Meskipun rumahnya bukan alamat yang sama."

Kita berdiri. Nggak ada pelukan. Dia ngulurin tangan. Aku genggam.

"Terima kasih," katanya.

"Terima kasih," balasku.

Bus dateng. Dia melangkah, terus di ambang pintu, dia noleh. "Aku pulang dulu," katanya.

"Aku tunggu kamu pulang," kataku, sadar kalimat itu nggak butuh jawab.

Pintu nutup. Bus gerak. Lampu belakangnya mantulin garis tipis di genangan, patah di sana-sini, terus ilang di belokan.

Langkahku mulai sendiri. Aku jalan tanpa buru-buru, bukan karena nggak mau cepet, tapi karena malam itu aku nggak pengen keliatan kayak lagi lari.

Teleponku bergetar sekali — bukan darinya. Kerjaan. Aku nggak bukanya.

Ketika sampe di rumah, aku duduk lagi di kursi yang sama yang kemarin nyimpen napas panjangku. Aku nggak nyalain musik. Malam itu nggak perlu lagu lain.

Di ambang tidur, aku coba inget sesuatu yang bisa disimpen tanpa nyakitin: bukan wajahnya, bukan kalimatnya — dua-duanya kelewat tajem dalam jarak deket. Aku milih hal yang paling sederhana: garis halus di tepi jendela bus pas dia belok, lampu kecil di dalem kabin yang nggak berkedip, gerak bibirnya ketika dia mau bilang sesuatu terus milih diem.

Aku merem. Nggak ada doa panjang malam itu. Cuma tiga kata pendek yang kita titipin satu sama lain sejak lama, yang ngandung semua yang nggak bisa kita minta: Jaga dirimu, ya.

Besok, hujan mungkin turun lagi. Atau enggak. Tapi malam itu — tepat malam itu — aku nerima bahwa ada bus yang emang bukan buat aku kejar, dan ada halte yang emang ditakdirin jadi perhentian terakhir dari sesuatu yang pernah kita sebut rumah.

Bab selanjutnya

13 - After the Rain

Lanjutkan ke bab berikutnya dari There is no us.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 12 / 20
There is no us
11

Letter From June

2.480 kata / Tersedia

12

The Last Stop

2.275 kata / Sedang dibaca

13

After the Rain

1.920 kata / Tersedia