CeritaGW
Buku / Bab
Bab 131.920 kata

After the Rain

FA

Forever Alone

There is no us

Mulai membaca

Chapter 13 — After the Rain

Hujan di Dubai nggak pernah bener-bener turun. Ia cuma lewat, ninggalin aroma samar di udara, cukup buat bikin aku inget kalau dunia pernah basah di suatu tempat lain.

Aku duduk di depan meja kerja. Laptop masih kebuka, email menumpuk, tapi mataku berenti di satu nama di daftar kotak masuk. Subjeknya pendek: Offer. Aku belum ngeklik-nya. Sejak kemarin, aku cuma natap huruf-huruf itu kayak natap jam pasir yang nolak berenti netes.

Beberapa minggu setelah malam di halte bus Kuningan, hari-hari kita jalan di tengah kabut yang tenang. Masih ada pesan, masih ada tanya kabar, tapi kalimatnya mulai jaga jarak; lembut, tapi nggak lagi meluk. Kadang kamu kirim foto langit sore dari jendela kantormu, aku bales dengan pemandangan hujan dari sisi lain kota. Nggak ada penjelasan, tapi kita berdua tau: itu cara paling aman buat bilang aku masih di sini, tapi nggak bisa mendeket.

Lalu pagi itu dateng. Satu notifikasi: Email baru dari HR — Dubai. Aku nggak bukanya. Sepanjang hari aku kerja kayak biasa, tapi semua berasa lebih berat satu lapis.

Sore menjelang, kamu nulis pesan pendek:

Kamu: kamu sempet minum teh sore?

Aku ngetik balesan, hapus tiga kali, terus akhirnya nulis:

Aku: belum. tapi aku tau tempat yang tenang

Beberapa jam kemudian, kita duduk di sana.

Kedai itu masih sama kayak terakhir kali: lampu kuning redup, aroma teh yang halus. Kamu dateng dengan rambut diiket sederhana, jaket tipis biru muda, wajah lelah tapi nggak hancur.

"Masih suka tempat ini?" tanyamu, natap sekeliling.

"Masih," jawabku. "Tempat yang nggak menuntut kita buat ngomong kelewat banyak."

Kamu senyum kecil. "Tempat yang bisa diem tanpa bikin canggung."

Kita duduk berhadapan. Pelayan bawa teh yang kamu pesen — chamomile, kayak biasa. Aku milih teh melati. Beberapa menit pertama jalan ringan: tanya kabar, cerita kerja, hal-hal kecil yang kita pake sebagai penyangga biar kalimat besar nggak jatuh kelewat cepet.

Kamu gulung ujung tisu di meja. "Aku baca tulisan kamu kemaren," katamu akhirnya.

"Yang mana?" tanyaku.

"Yang tentang 'tenang bukan berarti baik-baik aja'. Aku suka kalimat itu."

Hening berjalan sebentar, terus kamu ngomong, pelan, kayak seseorang yang ngetuk pintu yang udah lama kebuka tapi tetep minta izin:

"Kamu... udah buka email itu?"

Aku nunduk. "Belum," kataku pelan. "Tapi aku tau isinya. Dan kamu juga tau, kan?"

Kamu ngangguk perlahan. "Dari cara kamu nulis, aku bisa nebak. Aku cuma..." kamu berenti sebentar, "aku cuma berharap aku salah."

Aku senyum samar. "Aku juga berharap kamu salah," kataku. "Tapi mungkin kali ini, kita berdua harus bener."

Kamu hela napas pelan. "Aku udah coba kuat, Soka," katamu, mecah sunyi dengan nada yang kelewat lembut buat disebut tegas. "Tiap hari aku bilang ke diri sendiri: masih bisa. Masih boleh. Tapi tiap kali aku doa... wajah kamu tetep ikut duduk di sana."

Aku natap kamu. "Aku nggak mau bikin kamu ngerasa bersalah," kataku.

Kamu geleng pelan, senyum kecil di sudut bibir. "Aku nggak ngerasa bersalah. Aku cuma capek nyembunyiin yang nggak bisa disembunyiin."

Kamu natap keluar jendela sebentar, terus balik ke aku.

"Kalau akhirnya kamu harus pergi..."

Aku ngangguk, perlahan, nunggu sisa kalimat kamu.

"Pergi aja, Soka." Suaramu pecah di ujung, tapi masih lembut. "Aku nggak kuat lagi. Bukan karena kamu salah, tapi karena aku takut kalau aku terus di sini, aku malah jadi orang yang nggak baik buat kamu."

Aku nunduk, nahan napas.

Aku bisik, "Kalau gitu... aku bisa pergi tanpa penyesalan, ya?"

Kamu senyum kecil — lelah, tapi lembut. "Pergilah dengan hati yang penuh," katamu pelan. "Biar aku belajar kuat dari cara kamu nahan beban rindu... bukan ngelawan takdir kita."

Kita nggak berpelukan. Kita cuma duduk beberapa menit lagi.

"Boleh aku titip satu hal?" tanyamu tiba-tiba.

"Boleh," kataku. "Apa aja."

"Kalau nanti kamu ngerasa sepi," kamu natap aku lama. "Jangan dateng cuma buat minta aku jadi alasan. Aku pengen kamu dateng karena kamu udah berdamai sama diri kamu sendiri. Karena kalau belum... aku takut kehilangan kamu dua kali."

Aku nahan napas sejenak. "Aku janji," kataku. "Kalau aku dateng, itu karena aku tau — bukan karena aku lari."

Kamu ngangguk. "Terima kasih."

Ketika akhirnya kita berdiri, kamu benerin tali tasmu, aku naruh uang di bawah cangkir. Kita saling natap sebentar. "Jaga dirimu, ya," katamu. "Kamu juga," jawabku. Kamu senyum kecil, terus jalan lebih dulu keluar. Aku nungguin sampe langkahmu berenti di ujung trotoar sebelum ikut berdiri.

Malamnya, aku pulang dengan langkah yang nggak tau pengen cepet atau lambat. Di kaca toko yang udah gelap, bayanganku sendiri keliatan lebih tinggi dari biasanya.

Ketika akhirnya sampe rumah, aku nyalain lampu ruang tengah. Di atas meja, laptopku masih kebuka di layar email yang belum aku baca. Satu pesan baru masuk. Subjeknya sama: Offer — Dubai.

Aku tarik kursi, duduk, tapi nggak langsung buka. Cuma natap lama. Di kepala, masih ada wajahmu yang natap aku di kedai itu — tenang, lembut, dan pasrah.

Ada dorongan buat nulis sesuatu ke kamu. Aku ketik pelan: "Terima kasih untuk hari ini." Aku baca ulang, hapus, nulis lagi: "Aku akan baik-baik saja." Aku baca lagi, berasa egois. Terus aku tulis: "Semoga tidurmu nyenyak." Aku tatap tiga kata itu lama-lama, sadar betapa banyak hal yang pengen aku selipin di antaranya — maaf, terima kasih, tolong jangan sakit — terus aku hapus semuanya.

Aku naruh ponsel terbalik. Malam ini kita udah ngomong cukup.

Aku balik ke meja, nutup laptop. Mungkin besok aku bakal bukanya. Malam ini, biarin email itu nunggu.

Aku natap langit-langit kamar. Nggak ada doa panjang. Cuma satu kalimat kecil yang kita titipin di antara semua hal yang belum selesai:

Jaga dirimu, ya.

Aku matiin lampu utama, ninggalin lampu kecil di pojok nyala. Aku merem. Sekilas, aku balik liat kita duduk di kedai tadi: dua cangkir yang mendingin, dua orang yang jaga biar nggak ada yang tumpah.

Aku bangkit, ke kamar mandi, basuh wajah. Di cermin, mataku merah tipis di tepi. Aku ngangguk ke wajah sendiri.

Kota di luar makin pelan. Jempolku sempet ngetuk ikon email, berenti tepat di atasnya.

Nggak. Bukan sekarang.

Aku naruh ponsel lagi, matiin lampu kecil. Aku narik napas, hembusin pelan, biarin satu kalimat terakhir ngambang di udara, kalimat yang nggak butuh jawaban:

Kita akan baik-baik aja, dengan cara masing-masing.

Bab selanjutnya

14 - All is Lost (The Goodbye)

Lanjutkan ke bab berikutnya dari There is no us.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 13 / 20
There is no us
12

The Last Stop

2.275 kata / Tersedia

13

After the Rain

1.920 kata / Sedang dibaca

14

All is Lost (The Goodbye)

2.027 kata / Tersedia