CeritaGW
Buku / Bab
Bab 061.495 kata

Tokyo Transit

FA

Forever Alone

There is no us

Mulai membaca

Chapter 6 — Tokyo Transit

Beberapa hari sebelum dia berangkat, aku nawarin buat nganter ke bandara.

"Gak usah, Sok. Aku berangkat sendiri aja, nanti ribet," katanya di telepon.

Aku nggak maksa. Dari awal, Lizzy nggak pernah nyembunyiin siapa pun dari hidupnya. Aku tau soal Daniel — orang yang udah lebih dulu ada, orang yang pernah jadi rumah sebelum semua ini dimulai.

Hubungan kita nggak lahir dari kebohongan. Cuma dari waktu yang dateng kelewat telat.

Suara Lizzy waktu itu kedengeran ragu, kayak pengen santai tapi gagal.

"Lagipula... aku kayaknya nanti dianter doi ke bandara."

Hening turun di antara kita. Bukan rahasia baru. Bukan juga pengkhianatan. Cuma kejujuran yang nggak punya cara lembut buat diucapin.

"Oke," kataku pelan. "Hati-hati ya."

"Pasti. Thanks, sayang."

Kata terakhir itu jatuh kayak nada rendah di lagu sedih — nggak nyakitin, tapi bikin dada kaku.

Panggilan berakhir. Gemanya nggantung di udara, lebih tajem dari perdebatan mana pun.

Bukan karena aku cemburu. Tapi karena buat nyintai dengan bener, aku harus rela nggak jadi siapa-siapa.

Hari keberangkatannya sendiri, aku nggak tau detailnya — Lizzy nggak pernah certain, dan aku nggak pernah nanya. Yang aku tau cuma: paginya, satu pesawat berangkat ke Tokyo, dan orang yang aku tunggu kabarnya ada di dalamnya.

Malam pertama tanpa kabar berasa panjang. Biasanya pesan dari Lizzy dateng sebelum kopi pertamaku abis. Kali ini enggak.

Satu jam jadi dua. Dua jadi lima. Lima jadi seharian.

Aku natap layar ponsel yang gelap, coba nenangin diri pake logika: beda zona waktu, mungkin capek, mungkin sinyal. Tapi jauh di dalem, ada satu bisikan kecil yang nggak bisa diem:

Apa dia bener-bener sendiri di sana?

Pertanyaan itu bukan cemburu. Bukan curiga. Cuma bentuk kejujuran dari seseorang yang kehilangan pijakan.

Malam berikutnya, hujan turun tipis di luar jendela. Laptopku masih kebuka, tapi layarnya cuma mantulin wajah sendiri.

Di meja, peta Jepang masih nyala — Kyoto, Nara, Ueno, Arashiyama — nama-nama yang harusnya kita kunjungin berdua.

Tanganku berenti di satu baris catatan:

"Hanami — watching the flowers bloom."

Aku natap kata itu lama, terus nulis kalimat baru di bawahnya:

"Kalau nanti kamu liat sakura pertama, tolong pikirin aku sebentar aja."

Aku tutup laptop, tapi cahaya layarnya masih nempel di kaca jendela.

Di buku kecilku, aku nulis:

Kyoto. Nara. Tokyo. Liat bunga sakura di Ueno Park. Makan ramen favoritmu. Dan tolong... tidur yang cukup, Liz.

Tulisan itu bukan itinerary. Tapi mantra buat bertahan di antara jeda pesan yang nggak berbalas.

Hujan di luar jatuh lembut, garis-garisnya kayak kalimat yang belum selesai.

Hari berganti minggu. Waktu berasa kayak kalender yang dicabut tanpa suara.

Notifikasi ponsel tetep sepi — cuma pesan kerja dan berita acak yang nggak berarti apa-apa. Tapi tiap kali aku liat layar, mataku tetep nyari satu nama: Lizzy.

Malam ketujuh, akhirnya satu pesan masuk.

"Maaf, sinyal susah. Banyak yang harus diselesain di sini."

Kalimat itu aman. Dingin. Jauh. Kayak template yang ditulis biar nggak salah paham.

Aku nggak bales. Bukan karena marah. Tapi karena takut satu kata aja bisa ngerusak ruang kecil yang masih tersisa.

Aku natap langit-langit kamar. Cahaya lampu jatuh di wajahku kayak air.

Mungkin nanti, abis Jepang, abis semua ini selesai, kita bakal duduk lagi di meja yang sama. Dua cangkir kopi, dua orang yang pura-pura biasa. Mungkin.

Karena malam itu, satu hal pasti: aku kangen dia bukan karena jarak, tapi karena kebiasaan. Dan kebiasaan, kayak waktu, susah dihentiin.

Pagi berikutnya dateng dengan warna aneh — langit pucat, udara hangat, kayak seseorang yang maksa senyum abis malam panjang.

Udah dua minggu sejak pesawat itu berangkat. Dan satu hari sejak aku tau pesawat yang sama udah balik.

Nggak ada pesan "aku udah sampe." Tapi entah kenapa, aku tau. Dari jeda. Dari intuisi.

Seseorang yang pernah aku sayang lagi bernapas di udara yang sama. Dan jarak di antara kita sekarang lebih sunyi daripada ribuan kilometer yang pernah misahin kita.

Aku ngetik satu pesan. Hapus. Ngetik lagi. Hapus lagi.

Sampe akhirnya, jempolku berenti di satu kalimat sederhana:

"Kalau udah sempat, aku traktir kopi, ya."

Terus kekirim. Tanpa emoji. Tanpa konteks.

Kalimat yang, buat dua orang yang pernah berbagi dunia kecil, artinya lebih dari sekadar ajakan minum kopi.

Itu izin — buat mulai lagi, walau cuma sebentar.

Malam itu, sebelum tidur, aku natap layar sekali lagi. Masih tanpa balesan. Tapi dadaku nggak sesek.

Ada sesuatu yang hangat di tengah diam itu.

Kadang, cinta nggak ilang karena waktu. Ia cuma kehilangan bentuknya — berubah dari genggaman jadi jarak, dari kata jadi diam, dari kita jadi mungkin.

Dan di antara diam itu, masih ada sesuatu yang bergetar: rindu yang nggak berani manggil nama, tapi tetep hidup — dengan caranya sendiri.

Aku merem. Dan di ruang antara sadar dan mimpi, satu suara dateng lagi — lembut, jauh, tapi nyata:

"Semangat untuk hari ini."

Kalimat sederhana yang entah kenapa masih bisa bikin aku senyum.

Maret jalan pelan kayak jam yang nolak berdetak.

Bab selanjutnya

07 - Private Spaace

Lanjutkan ke bab berikutnya dari There is no us.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 06 / 20
There is no us
05

Lift Without Floors

2.869 kata / Tersedia

06

Tokyo Transit

1.495 kata / Sedang dibaca

07

Private Spaace

793 kata / Terkunci