Forever Alone
There is no us
Mulai membaca
Chapter 14 — All is Lost (The Goodbye)
Hujan nggak turun malam ini di Dubai. Langitnya kelewat bersih. Aku matiin lampu ruang tamu, biarin layar ponsel jadi satu-satunya cahaya. 12:17. Angka itu lagi.
Di kepala, ada dua kata yang jalan pelan tapi nggak pernah cape: selamat tinggal.
Aku duduk, natap bayanganku sendiri di kaca, dan tiba-tiba bau kertas basah dateng dari tempat yang jauh: Jakarta, April.
Di meja, ada map plastik bening. Di dalemnya, tiket pesawat terprint rapi, itinerary yang kayak udah nulis akhir sebelum awalnya selesai dinikmatin.
Koper berdiri di sudut kamar kayak anjing yang tau ia bakal ditinggal. Ritsletingnya kebuka setengah. Aku nunduk, ngelipet kaos satu-satu, memperlakukan kain kayak aku lagi ngerawat kenangan biar nggak kusut ketika dibawa jauh.
Di luar jendela, suara azan magrib mecah sore. Aku nyalain lampu kamar. Di kasur, ada sweter yang pernah aku pinjemin ke Lizzy dan balik dengan aroma yang bukan punyaku. Aku mendeket, nempelin hidung pelan. Aromanya tinggal sebagai garis tipis. Aku masukin ke koper tanpa dilipet — biarin kusut. Nggak semua hal harus rapi buat bisa disebut baik.
Ponsel bergetar singkat. Pesan dari HR: reminder medical check sebelum keberangkatan. Aku bales singkat. Oke, noted. Thank you.
Aku duduk di lantai, buka buku catatan. Ada beberapa halaman berisi kalimat yang nggak berani jadi paragraf. "Jika kita berpisah sebagai orang baik..." tulisku suatu malam. Terus aku kasih titik, garis, terus aku biarin kosong. Di halaman lain, ada daftar pendek yang konyol: charger, adaptor universal, obat lambung, vitamin, pena favorit, dompet kecil buat kartu metro. Aku ketawa tanpa suara. "Kartu metro," gumamku, seolah aku udah yakin bakal tinggal cukup lama di kota yang belum aku miliki peta rasanya.
Telepon berdering, suara Mama. "Sudah makan?" tanyanya, selalu mulai dari sana.
"Sudah," jawabku. Kami ngomong soal cuaca, soal tetangga, soal harga cabai yang naik. Terus pertanyaan yang diselipin kayak jarum kecil: "Kamu yakin?"
Aku narik napas. "Yakin," kataku. "Kali ini iya."
Mama diem sebentar. "Kalau begitu, pulanglah kalau capek. Pintu rumah nggak tau cara nolak kamu." Kami ketawa pelan.
Setelah telepon ditutup, aku berdiri lama natap pintu. Di meja, lampu belajar tetep nyala. Aku matiin. Kamar jadi lebih jujur ketika gelap.
Aku ambil map plastik lagi. Di sisi yang lain, ada paspor. Aku masukin ke saku ransel.
Pikiranku jalan ke jalan-jalan yang kami pernah lewatin. Toko roti dengan etalase kaca yang selalu berembun. Bangku taman yang catnya mulai ngelupas di sudut. Aku nggak nyesel. Tapi aku juga nggak menang.
Di meja rias, ada foto kecil. Bukan foto kami. Cuma foto jalanan dengan hujan yang tertahan di kaca mobil. Aku nggak bawa foto itu. Aku pengen biarin sesuatu tinggal buat njagain rumah ini ketika aku pergi.
Pukul sembilan lewat dua belas. Ponsel bergetar lagi. Pesan dari seorang temen: "Nanti kalau di Dubai, kirim foto ya." Aku bales: "Ya." Terus aku nambahin satu kata: "InsyaAllah."
Ada ketukan pelan di pintu. Tetangga sebelah nawarin kardus kosong. Aku senyum, nerima, berterima kasih. "Jadi selama ini kita tinggal di antara barang-barang yang mudah dipindahin," gumamku.
Malam makin turun. Aku narik koper ke tengah ruangan, nata ulang: kemeja di bawah, kaos di tengah, buku catatan diselipin di sisi, sepatu lari di kantung terpisah. Di atas semuanya, aku taro sweter itu. "Stay," kataku pelan. Padahal aku yang bakal pergi.
Pada akhirnya, aku cuma narik resleting dan denger bunyi yang bersih sekali.
Aku duduk di lantai, sandaran ke kasur, natap langit-langit. Aku inget sebuah kalimat: cinta itu nggak harus sampe, kadang cuma perlu tumbuh. Tapi kalau emang nggak sampe, gimana caranya berpamitan?
Ponsel nyala pelan. Ada pesan berumur tiga bulan yang nggak pernah aku hapus: "Jangan lupa makan." Aku ngetik balesan yang baru aku bayangin sekarang: "Aku akan pergi." Terus aku hapus. Terus aku tulis lagi: "Besok aku berangkat." Aku hapus lagi. Terus aku tutup ponsel, taruh terbalik. Beberapa kalimat emang lebih aman disimpen di dalem dada, bukan di aplikasi.
Aku bangkit, buka jendela sedikit lebih lebar. "Terima kasih," kataku pada kamar.
Aku kembaliin koper ke sudut, ikat tag kecil di pegangannya. Nama, nomor telepon, kota tujuan: Dubai.
Di meja, aku nulis satu paragraf baru di buku catatan — pendek:
"Aku nggak tau gimana cara orang lain ngakhirin sesuatu dengan anggun. Yang aku tau, aku memilih berjalan. Bukan karena berani, tapi karena tempat ini kelewat banyak nyimpen suara kamu, dan aku nggak pengen ngebenciinya suatu hari."
Aku tarik garis di bawahnya. Selesai.
Aku hitung lagi isi ranselku. Paspor, dompet, ponsel, charger, obat lambung, vitamin. Ada ruang kecil tersisa. Aku masukin pena.
Jam merangkak ke sepuluh malam. Aku mandi, air hangat jatuh dari shower. Di cermin yang berembun, aku tulis dengan telunjuk: April. Terus aku tulis lagi: selamat tinggal. Setelah itu aku biarin uap nelen huruf-hurufnya pelan.
Aku matiin semua lampu kecuali lampu kecil di meja. Aku duduk di kursi, natap pintu. "Nanti," kataku pada diri sendiri, "nanti kita akan ketemu sebentar." Aku nggak nyebut nama. Aku nggak nyebut tempat. Tapi di kepalaku, bayangan sebuah halte busway udah muncul kayak alamat yang nggak perlu ditulis.
Aku berbaring. Aku meluk udara di sebelah kiri, entah kenapa. Suara motor terakhir lewat. Aku bangun sebentar, ambil ponsel, ngetik satu kalimat: "Besok aku ada di halte jam delapan." Aku tambahin satu kata: "sebentar." Terus aku kirim.
Aku balik ke kasur. Mataku natap langit-langit. Aku merem. Dalam gelap yang nggak nakutin, aku bayangin dua kata yang tadi kayak nunggu di ambang pintu mulai jalan mendeket. Mereka nggak maksa, mereka nggak memohon. Mereka cuma bilang: waktunya.
...
Ketika aku buka mata lagi, aku udah di Dubai — balik ke cahaya layar ponsel yang kelewat putih, balik ke angka 12:17 yang berasa pinter.
Aku tuang air ke gelas, minum pelan. Di kepala, April masih berlangsung, kamar itu masih ada, koper itu masih nunggu. Aku buka buku catatan — yang ikut aku bawa — dan nemuin paragraf pendek semalem. Aku bacanya ulang, dan baru sekarang ngerti: aku nggak nyari akhir yang anggun. Aku cuma belajar jalan tanpa nginjek kata-kata yang pernah nyelametin aku.
Di kepala, halte busway itu nyalain lampunya. Aku liat kami berdua berdiri canggung, megang sesuatu yang nggak pengen jatuh. Malam nanti, pikirku. Malam nanti di April yang tinggal sedikit. Akan ada pelukan terakhir di sana, pelukan yang nggak pernah dikasih halte-halte sebelumnya.
Besok, halte. Pelukan terakhir. Setelah itu, kita belajar jadi dua titik yang nggak perlu garis buat tau bahwa pernah ada jarak yang diisi dengan baik.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari There is no us.