Forever Alone
There is no us
Mulai membaca
Chapter 15 — Dark Night of the Soul
Sore belum bener-bener jadi malam ketika aku duduk di bangku beton depan gedung itu — gedung yang pernah jadi awal dari macam-macam hal yang nggak tertulis di kontrak kerja. Di notifikasi ponsel, satu pesan terakhir yang aku baca tiga kali: "Aku otw."
Dia muncul dari sisi kiri, langkahnya cepet tapi nggak tergesa. Rambutnya diiket sederhana. Dia liat ke arahku, ngangkat tangan sebentar. Aku berdiri.
"Hai," katanya.
"Hai," jawabku.
Kita saling senyum. Nggak ada pelukan. Nggak ada formalitas baru.
"Aku bawain ini," katanya, nyerahin tas kecil itu. Aku nerima, megangnya kayak barang yang bakal ngejelasin sesuatu yang nggak bisa dijelasin.
Di dalem tas, ada sebotol vitamin, beberapa obat lambung, balsem kecil, dan — aku senyum — sebuah pulpen tinta gel hitam. Di bawah semuanya, ada amplop putih tipis: selembar kertas kecil dengan tulisan tangan miring, singkat kayak napas: Kalau sulit tidur, tulis apa aja. Nggak harus bagus. Yang penting hati tetep gerak.
Aku natap tulisan itu lama. "Terima kasih," kataku.
Dia ngangguk. "Bukan apa-apa. Cuma... bekal kecil."
Kita jalan ke arah kafe di seberang, bukan buat kopi, cuma buat tempat duduk yang tau cara diem. Kita duduk deket jendela.
"Penerbangan jam berapa?" tanyanya.
"Subuh," jawabku. "Check-in jam dua."
Dia ngangguk. "Masih ada waktu."
"Ada," kataku, meski kita berdua tau "ada" itu nggak panjang.
Kita ngomongin hal kecil. Soal cuaca Jakarta yang belakangan berubah cepet. Soal jalur bus yang sekarang pake nomor baru. Soal toko roti di ujung jalan yang ganti resep.
"Aku nggak tau harus bilang apa," katanya akhirnya, pelan.
"Nggak usah bilang apa-apa," jawabku. "Kita udah bilang kelewat banyak hal dengan cara lain."
Dia senyum kecil. "Kamu masih suka nulis jam dua belas lewat tujuh belas?"
Aku noleh ke jendela. "Kadang. Terakhir, angka itu lebih sering dateng daripada aku yang manggil."
"Kadang angka milih kita," katanya. "Biar tanggung jawabnya berasa lebih ringan."
Aku ketawa kecil. "Kedengeran kayak kamu yang nulis."
Dia geleng. "Kamu yang nulis. Aku cuma ngembaliin apa yang pernah kamu titipin."
"Jalan?" tanyaku.
"Yuk," katanya.
Kita berdiri. Aku bawa tas kecil pemberiannya di tangan kiri, ransel kosong di kanan. Kita nyeberang hati-hati.
"Aku pernah baca kalimat," katanya, natap ke depan, "bahwa beberapa orang dateng bukan buat tinggal, tapi buat nyadarin rumah yang udah kita punya."
"Rumah di mana?" tanyaku.
"Di dalem," jawabnya. "Di tempat yang nggak perlu alamat."
Kita sampe di halte busway. Suara pengeras kasih tau bus menuju Kuningan bakal dateng dalem dua menit.
Kita berdiri saling berhadapan.
"Aku titip satu hal," katanya.
"Apa?"
"Jangan salah paham sama hal-hal yang dulu kamu jaga," suaranya nyaris bisik. "Kalau suatu saat kamu ngerasa sepi... jangan dateng ke aku buat minta aku jadi alasan. Aku takut, aku bisa nolak kamu dengan cara yang bikin kamu salah paham sama hal-hal itu."
Aku natap dia lama. "Kalau aku dateng?"
"Datenglah sebagai seseorang yang udah tau arah pulang," katanya, matanya nggak lari.
Bus keliatan dari kejauhan. Di layar digital, angka rute nggulung. Satu menit.
"Terima kasih," kataku tiba-tiba. Bukan rapi, bukan hasil susunan kalimat yang dipikirin berhari-hari. Cuma dua kata yang akhirnya nemuin pintunya.
"Buat apa?" tanyanya.
"Buat hari-hari kecil yang bikin hari besar nggak nakutin," jawabku. "Buat cara kamu diem tapi bikin aku berani."
Dia nunduk sedikit. "Sama-sama," katanya.
Bus masuk pelan. Pintu cling kebuka. Satu baris kaki mulai melangkah.
"Aku peluk kamu," kataku.
Dia mendongak, dan nggak ada keberatan di matanya. Kita melangkah setengah langkah mendeket. Di halte yang selama ini jaga jarak — yang cuma mempertemukan kita dengan aman — kita batalin peraturan yang kita bikin sendiri. Kita berpelukan. Erat. Lama.
Aku ngerasain napasnya di bahu. Mataku merem. "Kamu akan baik-baik saja," katanya pelan, hampir tanpa suara.
"Kamu juga," balasku.
Dia ngangguk di antara jarak kita. Terus pelukan itu dilepas, bukan ditolak. Pelan. Dia mundur setengah langkah.
"Jaga diri," katanya.
"Kamu juga," jawabku.
Dia melangkah. Satu langkah. Dua. Kartu nempel di mesin. Beep. Dia noleh sebentar, cukup buat mastiin aku masih di sini. Terus masuk. Pintu nutup. Bus gerak.
Aku tetep berdiri di titik yang sama sampe bus berubah jadi garis di ujung jalan.
Aku nurunin tas kecil yang tadi dia kasih dan membukanya lagi. Masih vitamin, obat lambung, balsem, pulpen, dan secarik kertas itu. Aku ambil pulpennya, tutup tas, terus nulis di punggung tiket bus bekas yang aku temuin di saku: "Kita sudah sampai sejauh ini. Sisanya biar dunia yang menenangkan."
Aku jalan keluar halte. Ponselku bergetar sekali. Satu baris: Sampai rumah. Terima kasih untuk hari ini. Aku ngetik — nggak ada yang panjang — Terima kasih sudah datang. Aku taruh ponsel di saku.
Aku nyusurin trotoar balik ke arah stasiun kecil. Di sebuah sudut, aku berenti. Ada poster acara musik yang udah lewat, kertasnya memudar. Di bawah poster, seseorang nulis dengan spidol: Hati-hati pulang. Aku senyum kecil.
Aku angkat wajah ke langit. Nggak ada bintang. Cuma satu pesawat yang gerak lambat.
Di kamar, aku ngeluarin barang-barang dari tas kecil itu dan naruhnya di meja kayak nata altar kecil yang nggak nyembah apa pun selain ketenangan. Aku baca lagi catatan pendeknya. Aku nyelipin pulpen ke dalem buku dan nulis satu paragraf.
Di pintu apartemen, kunci berputar tanpa bunyi. Aku masuk. Koper udah berdiri di sudut, tegak kayak kalimat yang udah nerima titik. Aku naruh tas kecil itu di meja, nyalain lampu kuning, terus duduk.
Aku ambil ponsel, buka percakapan yang barusan berakhir, dan ngetik satu kalimat, rapi: Selamat ulang tahun lebih dulu. Terus aku hapus. Aku tulis lagi: Sampai bertemu pada hal-hal baik yang tidak perlu terlihat. Aku hapus lagi. Akhirnya, aku tutup ponsel. Beberapa bahasa emang lebih baik tinggal di hati.
Aku kurangi lampu sampe tinggal seperempat. Aku berbaring. Di antara detik dan napas, ada ruang kecil di mana pelukan terakhir tadi tinggal sebentar sebelum jadi baik-baik saja.
Besok pagi, aku bakal nutup pintu, ngangkat koper, dan jalan ke taksi. Di bandara, aku bakal liat papan informasi dan nyebutin namaku ke seseorang di balik komputer. Terus pesawat bakal ninggalin tanah kayak kalimat yang akhirnya berani melompati spasi. Dan suatu hari — nggak harus deket — aku bakal berdiri di depan sebuah gereja dengan kaca patri, hujan kecil, dan kata yang paling sederhana: "Congratulations."
Tapi malam ini belum ke sana. Malam ini cuma perlu tenang. Malam ini cuma perlu naruh kepala di bantal dan percaya pada sesuatu yang lebih tua dari rencana: bahwa beberapa cinta nggak berakhir — mereka cuma berganti bentuk.
"Terima kasih," ulangku sekali lagi. Terus aku merem, biarin dunia madamin lampunya sendiri.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari There is no us.