CeritaGW
Buku / Bab
Bab 02707 kata

The Sacrifice

L

Lindayanti

The Alpha Legacy

Mulai membaca

Tiba-tiba, suara mesin terdengar di luar. Raphael langsung menoleh ke jendela. Dua mobil hitam berhenti di ujung jalan, lampunya menyala sebentar, lalu padam.

“Dad,” katanya pelan, “mereka di sini.”

Davidson berdiri. “Kalian masuk ke ruang bawah tanah. Sekarang.”

“Tapi—” Evelyn protes.

“Sekarang!”

Raphael menarik tangan adiknya. “Go, Eve! Go!”

Mereka bertiga berlari ke ruang belakang, membuka pintu kayu tua yang menuju ruang bawah tanah sempit. Davidson berdiri di depan pintu, pistol di tangannya.

Langkah kaki berat terdengar dari luar rumah. Tiga… empat orang, mungkin lebih. Suara sepatu bot menghantam aspal basah.

Davidson menarik napas panjang. “Sudah lama…” gumamnya pelan, “aku tidak menatap wajah neraka.”

Pintu depan didobrak. Cahaya lampu senter menembus ruang tamu yang gelap.

“Davidson Claire!” suara berat dengan aksen Korea yang tebal. “Bos kami ingin berbicara.”

Davidson tidak menjawab. Ia berdiri di balik tembok, pistol terangkat.

Satu langkah lagi. Satu nafas.

Dor! Dor! Dor!

Tiga peluru menembus dinding kayu. Davidson membalas tembakan, dua pria jatuh. Sisanya berlindung di balik sofa.

Raphael, dari ruang bawah tanah, mendengar suara tembakan itu. Ia mengepalkan tangan, wajahnya tegang. “We can’t just wait here!”

Zayyan menahannya. “Dad said—”

“Damn the rules!” Raphael membuka pintu rahasia, keluar ke ruang tamu sambil membawa senjata.

“Raphael!” Evelyn berbisik keras.

Tapi kakaknya sudah lenyap di balik tangga.

Di ruang tamu, Raphael menembak dua pria yang tersisa. Suara peluru menggema di rumah sempit itu. Davidson menoleh, matanya marah sekaligus bangga.

“Who told you to come out?!”

Raphael menjawab sambil mengisi ulang peluru. “I’m not watching you die again, Dad.”

Davidson ingin membalas, tapi suara mesin lain terdengar. Mobil ketiga datang. Dari luar, seseorang melangkah keluar dengan jas hitam panjang. Wajahnya tertutup bayangan, tapi suaranya dingin.

“Davidson Claire…” katanya pelan. “It’s been a long time.”

Davidson menatap ke luar jendela, napasnya tercekat. Ia mengenali suara itu bahkan setelah dua puluh lima tahun.

“Samuel.”

Pria itu tersenyum tipis. “You still remember me.”

Samuel anak angkat Alphonso. Yang dulu dilatih oleh Davidson sendiri sebelum ia kabur dari dunia itu.

“Bos hanya ingin tahu,” kata Samuel lagi, “apakah rumor tentang anak-anakmu benar.”

Matanya menatap sekilas ke arah rumah, seolah tahu rahasia yang disembunyikan Davidson di ruang bawah tanah.

“Tell Alphonso,” Davidson berkata pelan, “kalau dia datang lagi, aku yang akan membunuhnya.”

Samuel tertawa pendek. “He said the same thing about you.”

Lalu ia menembak.

Peluru menembus kaca jendela. Davidson berguling ke lantai, membalas dengan dua tembakan cepat. Samuel menghindar, bersembunyi di balik mobil.

Raphael menarik ayahnya. “Dad, we have to move!”

“Ambil Evelyn dan Zayyan, keluar lewat belakang!”

“Tapi kau—”

“Go!”

Raphael menggertakkan gigi dan berlari ke ruang bawah tanah. Davidson tetap di tempat, menatap pintu yang setengah terbuka. Hujan masuk bersama bau mesiu.

Dari luar, suara Samuel terdengar. “You can’t protect them forever, old man.”

Davidson menatap kalung di lehernya, milik Geovanny lalu berbisik, “Selama aku masih bernafas.”

Ia keluar dari rumah, menembak ke arah mobil. Ledakan kecil terjadi; api menyambar sisi jalan. Namun, dari balik asap, Samuel muncul lagi, berdarah tapi masih berdiri.

“Not bad,” katanya dingin. “But you’re old now.”

Mereka berdua saling menatap. Dua generasi dari dunia yang sama, tapi kini berdiri di sisi berlawanan.

Tembakan terakhir bergema di antara hujan dan kilat malam Busan.

Raphael, Zayyan, dan Evelyn berlari melalui lorong belakang rumah. Dari jauh, cahaya api memantul di wajah mereka. Evelyn menoleh, matanya melebar.

“Dad…” suaranya pecah.

Raphael memegang bahunya kuat-kuat. “Don’t look back, Evelyn!”

Air mata mengalir di pipinya, bercampur hujan. Mereka terus berlari menembus gang-gang sempit, hingga suara sirene pelabuhan terdengar.

Ketika mereka berhenti di ujung dermaga, nafas mereka terengah. Raphael menatap adik dan saudaranya.

“Daddy won’t make it…” Zayyan berkata lirih.

Raphael tidak menjawab. Ia hanya menatap langit yang dipenuhi asap hitam. Di hatinya, kemarahan dan duka berpadu menjadi satu.

Evelyn menggenggam kalung perak di tangannya entah kapan Davidson memberikannya padanya. Huruf “G” kecil berkilau di bawah cahaya petir.

Ia menatap laut gelap di depannya, matanya dingin.

“Then we finish what he started.”

Raphael menatapnya. “What?”

Evelyn menoleh, wajahnya tidak lagi lembut seperti sebelumnya.

“Kita balas dendam,” katanya datar. “Sampai nama Alpha hilang dari muka bumi.”

Hujan turun semakin deras, menelan suara langkah mereka yang menjauh.

Di belakang, rumah tua itu terbakar.

Dan di dalam nyala api itu, bayangan Davidson Claire lenyap bersama masa lalu yang akhirnya menemukan mereka kembali.

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 02 / 2
The Alpha Legacy
01

The Return

854 kata / Tersedia

02

The Sacrifice

707 kata / Sedang dibaca