Lindayanti
The Alpha Legacy
Mulai membaca
Malam di Busan seperti lautan tinta.
Langit tanpa bintang, hanya ditemani gemerlap lampu pelabuhan yang bergetar di atas air hitam. Udara asin menusuk hidung, dingin dan lembap, membawa aroma besi karat, solar, dan kenangan yang tak mau mati.
Di rumah kecil di pinggiran pelabuhan Jagalchi, seorang pria berdiri di depan jendela tua yang kacanya buram oleh kabut. Davidson Claire, wajahnya keras seperti baja, tapi di matanya ada luka yang tak pernah sembuh. Tangannya memegang secangkir kopi hitam yang sudah dingin, uapnya lenyap bersama waktu.
“Raphael, tutup semua jendela,” katanya tanpa menoleh. Suaranya serak, berat oleh beban masa lalu.
Langkah kaki terdengar dari ruangan belakang. Raphael Claire, dua puluh delapan tahun, bahunya lebar, wajahnya tenang tapi menyimpan amarah yang nyaris meledak. Ia menutup tirai dengan gerakan cepat.
“Sudah, Dad.” jawabnya singkat.
Davidson mengangguk pelan. Ia menatap keluar lampu pelabuhan di kejauhan membentuk garis cahaya yang aneh, seperti sinyal. Ia sudah hafal kode itu.
Tiga kilatan cahaya berurutan dari arah kapal tua. Tanda yang sama seperti dua puluh lima tahun lalu, simbol Alpha.
Dadanya mengencang. Ia meletakkan cangkir, menatap pantulan dirinya di kaca. Wajahnya sudah berubah: uban menutupi sisi pelipis, bekas luka di bawah mata kanan seperti stempel masa lalu yang tak bisa dihapus.
“Zayyan,” panggilnya pelan.
Dari dapur, suara piring terdengar, lalu langkah tergesa. Zayyan Claire, dua puluh enam tahun, berambut hitam acak-acakan, mengenakan hoodie abu-abu, tangannya masih berlumuran minyak karena memperbaiki generator.
“Yes, Dad?”
Davidson menatapnya lama. “Ambilkan koper hitam di bawah tempat tidurku.”
Zayyan terdiam sebentar, menatap ayahnya dengan tatapan yang tak ingin mengerti. “Dad… jangan bilang...”
“Lakukan.” Nada Davidson tak bisa dibantah.
Zayyan menelan ludah, lalu berlari ke kamar.
Raphael melangkah mendekat. “Alpha?”
Davidson tidak menjawab. Ia hanya menatap ke luar, ke arah pelabuhan. Dari kejauhan, sebuah mobil hitam berhenti di ujung jalan, lampunya padam.
“Damn,” gumam Raphael. Tangannya otomatis meraih senjata kecil di pinggang. “Kita harus keluar dari sini sekarang.”
“Tidak.” Davidson mengangkat tangan. “Belum. Kita tidak akan lari lagi.”
Di ruang belakang, Evelyn Claire menutup laptopnya. Layar memantulkan wajah muda berumur dua puluh lima tahun, kulitnya pucat oleh cahaya biru, matanya tajam tapi lembut. Di layar sebelumnya, peta digital pelabuhan Busan masih terbuka—ia sedang melacak jalur pengiriman ilegal yang sering disebut ayahnya dulu.
Ia mendengar suara rendah dari ruang depan, kemudian langkah tergesa. Evelyn keluar dari kamarnya, menatap dua kakaknya dan ayah mereka dengan cemas.
“Ada apa ini? Kenapa kalian semua kelihatan tegang?”
Davidson menatapnya. Untuk sesaat, wajah keras itu melunak. Evelyn adalah satu-satunya yang membuat sisi manusiawinya tetap hidup.
“Kita harus bicara,” katanya pelan.
Evelyn mengerutkan dahi. “Tentang apa, Dad?”
Sebelum Davidson menjawab, Zayyan kembali dengan koper hitam di tangannya. Ia meletakkannya di meja. Davidson membuka resletingnya perlahan. Bunyi logam bergesekan, lalu terdengar denting familiar. Pistol, dokumen tua, dan sebuah kalung perak dengan inisial G.
Evelyn menatap benda itu lama. “G… Geovanny?”
Davidson menarik napas berat. “Ya. Ibumu.”
Ruangan seketika hening. Suara jam dinding terdengar seperti detak jantung yang memburu.
“Aku sudah berjanji untuk tidak membicarakannya,” lanjut Davidson, suaranya serak. “Tapi waktunya sudah habis. Mereka datang.”
“Alpha?” Raphael bertanya, matanya tajam.
Davidson menatapnya. “Ya. Alphonso tahu aku masih hidup.”
Nama itu membuat udara di ruangan menegang. Alphonso, nama yang hanya berbisik di antara bayangan dunia bawah Busan. Pemimpin geng Alpha. Orang yang pernah memerintah Davidson untuk membunuh, menyiksa, dan mencuri. Orang yang juga membunuh istrinya sendiri, Geovanny.
Evelyn menatap ayahnya, suaranya nyaris bergetar. “Kau bilang… dia sudah mati.”
“Aku berharap begitu,” jawab Davidson. “Tapi monster seperti dia tidak pernah benar-benar mati.”
Raphael mengepalkan tinju. “Lalu apa rencana kita?”
“Kita bertahan malam ini. Besok pagi kita tinggalkan kota.”
“Dan lari lagi?!” Raphael membentak. “Kita sudah bersembunyi dua puluh lima tahun, Dad. Sampai kapan?”
Davidson menatap anak sulungnya tajam. “Sampai kalian aman.”
“Tapi Alpha tidak akan berhenti,” timpal Zayyan. “Kau sendiri yang bilang, mereka tidak akan menyerah sebelum darah terakhir Claire mengering.”
Evelyn menatap koper itu lama, lalu berkata pelan, “Apa yang sebenarnya terjadi dulu?”
Davidson terdiam. Lalu, dengan gerakan pelan, ia duduk di kursi kayu tua. Tangannya menggenggam kalung Geovanny, matanya memandang jauh ke masa lalu.
“Dulu… aku adalah tangan kanan Alphonso,” katanya lirih. “Aku hidup dalam dunia yang hanya mengenal kekerasan dan uang. Aku pikir aku kebal terhadap rasa takut… sampai aku bertemu ibumu.”
Suara hujan mulai turun di luar. Setetes, dua tetes, sebelum akhirnya mengguyur jendela seperti tirai air.
Davidson melanjutkan, “Dia bukan bagian dari dunia kita. Seorang wanita yang menulis puisi, suka menanam bunga. Aku bertemu dengannya di pelabuhan, saat sedang menyelundupkan senjata untuk Alpha. Dia tersenyum padaku, dan untuk pertama kalinya aku merasa hidup.”
Ia berhenti sejenak, menatap lantai. “Alphonso tahu. Dan dia marah. Dalam dunia Alpha, cinta adalah kelemahan. Seorang pembunuh tidak boleh mencintai manusia. Itu aturan pertama.”
Raphael menunduk, rahangnya mengeras. Evelyn menahan napas.
“Ketika dia tahu aku menikahi ibumu diam-diam, dia menganggap ku pengkhianat. Suatu malam, dia datang dengan pasukannya. Saat kalian masih kecil. Dan untungnya kalian berada di rumah Grandpa.” Davidson menelan ludah, suaranya bergetar. “Dia membunuh ibumu di depan mataku.”
“God…” bisik Zayyan.
Evelyn menggigit bibir. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Davidson menatap ketiga anaknya. “Aku bersumpah untuk menjauhkan kalian dari dunia itu. Tapi sepertinya dunia itu kembali mencari kita.”
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari The Alpha Legacy.