CeritaGW
Buku / Bab
Bab 03931 kata

The Broker

L

Lindayanti

The Alpha Legacy

Mulai membaca

Hujan belum berhenti ketika pagi datang ke Busan. Langit berwarna abu-abu pekat, seperti lapisan debu yang menutupi seluruh kota. Di kejauhan, pelabuhan Jagalchi masih berasap. Api dari rumah tua keluarga Claire telah padam, tapi bau hangusnya tetap menyengat udara.

Di sebuah gudang tua di pinggiran distrik Yeongdo, Raphael, Zayyan, dan Evelyn bersembunyi di antara tumpukan peti kayu dan jaring ikan yang membusuk. Lampu neon berkedip lemah di atas kepala mereka, menambah kesan kelam.

Raphael duduk bersandar pada dinding, napasnya berat, senjata masih di tangan. Matanya kosong menatap lantai beton yang basah. Di depannya, Evelyn menunduk, memegangi kalung perak dengan huruf “G” yang kini berlumur darah ayahnya.

“Daddy nggak sempat keluar,” bisik Evelyn, suaranya nyaris patah.

Zayyan yang duduk di sudut ruangan menatap adiknya, tapi tak berkata apa pun. Wajahnya menegang, mata merah karena lelah dan kemarahan yang tak tersalurkan.

Raphael akhirnya bicara, suaranya pelan tapi tegas. “Kita nggak bisa diam di sini. Mereka pasti mencari kita ke seluruh Busan.”

“Lalu ke mana kita harus pergi?” Zayyan menatap kakaknya tajam. “Kau pikir masih ada tempat aman di kota ini?”

Raphael menatapnya balik. “Kau mau mati di sini?”

Pertengkaran itu hampir pecah, tapi Evelyn bangkit.

“Enough.” Ia menatap kedua kakaknya dengan mata yang berkaca. “Daddy udah meninggal. Tapi dia berkorban buat kita. Kalau kita Cuma saling menyalahkan, semua pengorbanannya sia-sia.”

Zayyan menghela napas berat. “Kau pikir aku nggak tahu itu, Eve? Tapi aku juga tahu satu hal, mereka nggak akan berhenti.”

Raphael berdiri, menatap ke luar jendela kecil yang menghadap ke laut. Kapal-kapal nelayan mulai bergerak pelan, suara mesin terdengar samar di tengah kabut.

“Mungkin memang waktunya kita berhenti lari.”

Evelyn menatap kakaknya, bingung. “Apa maksudmu?”

Raphael berbalik. “Kita serang balik.”

Zayyan tertawa pendek. “Serang balik? Dengan apa? Dengan pistol sisa dua peluru dan satu kalung perak?”

Raphael mendekat, menatap adiknya tajam. “Kau masih ingat kata Pa? ‘Jangan biarkan darah ibumu mengering tanpa balas.’ Dia udah kasih tahu kita caranya. Semua data tentang Alpha ada di tangannya dulu. Aku yakin, sebagian masih tersimpan di sistem pribadinya.”

Evelyn menatapnya ragu. “Kau pikir masih bisa diakses?”

Raphael mengangguk. “Dia pakai server offline, kode enkripsinya pakai nama kita bertiga. Aku nggak tahu pasti, tapi kalau kita bisa buka, kita bisa tahu semua yang Daddy sembunyikan, termasuk siapa yang membunuh Ibu.”

Zayyan mendengus. “Kita semua tahu siapa pembunuhnya.”

“Tidak,” Raphael menatapnya dalam. “Kita tahu namanya. Tapi tidak tahu kenapa. Dan itu perbedaan besar.”

***

Sementara itu, di markas besar geng Alpha, di pusat kota Busan, seorang pria berdiri di depan jendela tinggi yang menghadap ke laut. Jas hitamnya rapi, rambut peraknya tersisir ke belakang.

Alphonso. Tatapannya dingin seperti pisau baja, menembus kabut pagi yang menutupi pelabuhan.

Di belakangnya, Samuel berdiri diam, mengenakan jaket kulit dan sarung tangan hitam. Luka tembak di lengannya masih diperban.

“Bagaimana hasilnya?” suara Alphonso berat, berwibawa, tapi menyimpan racun di balik ketenangan itu.

Samuel menatap lantai. “Davidson… mati.”

“Dan anak-anaknya?”

“Tidak ditemukan.”

Alphonso berbalik perlahan, menatap Samuel seperti seekor harimau yang mencium bau ketakutan.

“Kau yakin?”

Samuel menelan ludah. “Rumahnya terbakar total. Tidak ada tubuh lain.”

“Dan kau percaya pada api?” tanya Alphonso pelan, langkahnya mendekat. “Api membakar tubuh, tapi tidak membakar darah. Aku mengenal Davidson. Dia tidak akan mati tanpa memastikan anak-anaknya selamat.”

Samuel menunduk. “Mungkin mereka melarikan diri melalui dermaga.”

Alphonso berhenti di depan Samuel, menatapnya tajam. “Cari mereka. Gunakan semua koneksi kita. Aku ingin kepala mereka di mejaku sebelum bulan ini berakhir.”

Samuel mengangguk. “Yes, boss.”

Sebelum ia sempat berbalik, Alphonso berkata lagi.

“Dan satu hal, Samuel.”

Samuel berhenti, menoleh. “Ya?”

“Jika kau menemukan anak perempuannya… bawa dia hidup-hidup.”

Samuel menatap bosnya, sedikit heran. “Untuk apa?”

Alphonso tersenyum tipis. “Karena rasa sakit seorang ayah tidak cukup dibayar dengan kematian. Kadang, penderitaan harus diwariskan.”

***

Sore itu, di gudang tua, Raphael berhasil menyalakan generator tua. Lampu berkelap-kelip, dan suara kipas pendingin tua kembali berdengung. Evelyn duduk di depan laptop yang sudah ia sambungkan ke hard drive lama milik ayah mereka benda itu ia temukan di koper hitam yang mereka bawa dari rumah.

Layar menampilkan tampilan login dengan tulisan lama: Claire System Security. Di bawahnya, kotak kecil meminta passcode.

Evelyn mengetik perlahan: GEOVANNY25

Layar berkedip. Access Denied.

Zayyan mengerutkan kening. “Coba pakai nama kita.”

Evelyn mengetik: RZE2025. Gabungan inisial tiga bersaudara. Layar berhenti beberapa detik, lalu berubah menjadi tampilan data terenkripsi.

“Got it,” katanya pelan.

Raphael mendekat, matanya fokus pada barisan data di layar. Folder pertama bertuliskan: “Alpha – Internal Records.”

Folder kedua: “Targets.”

Dan yang ketiga: “Geovanny.”

Evelyn membuka folder terakhir. Sebuah video muncul, tanggalnya 25 tahun lalu.

Mereka bertiga saling menatap, lalu Evelyn menekan tombol Play.

Layar menampilkan gambar buram. Davidson yang jauh lebih muda, wajahnya masih segar, mengenakan pakaian hitam. Ia duduk di sebuah ruangan yang suram, berbicara pada kamera.

“Jika kalian menonton ini,” suaranya terdengar parau, “berarti aku sudah gagal melindungi kalian.”

“Alpha bukan Cuma geng, mereka sistem. Mereka punya tangan di politik, bisnis, bahkan kepolisian. Alphonso bukan manusia biasa. Ia hidup di atas darah dan pengkhianatan.”

“Dan Geovanny… dia mati bukan hanya karena cinta. Tapi karena dia tahu sesuatu yang seharusnya tidak ia tahu.”

Evelyn menatap layar, tubuhnya kaku.

Davidson melanjutkan,

“Di dalam file ini, ada bukti siapa yang menandatangani perintah pembunuhan Geovanny. Jika kalian ingin keadilan, cari orang yang disebut The Broker. Dia orang kepercayaan Alphonso. Tapi hati-hati… dia tidak akan segan membunuh darahku sendiri.”

Layar kemudian mati.

Zayyan bergumam, “The Broker? Siapa itu?”

Raphael berpikir keras. “Aku pernah dengar nama itu waktu masih kecil. Daddy pernah menyebutnya waktu dia… mimpi buruk.”

Evelyn menatap dua kakaknya. “Kalau benar dia masih hidup, berarti dia tahu segalanya.”

Raphael mengangguk. “Kita harus temukan dia dulu, sebelum Alpha melacak kita.”

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 03 / 3
The Alpha Legacy
02

The Sacrifice

707 kata / Tersedia

03

The Broker

931 kata / Sedang dibaca