CeritaGW
Buku / Bab
Bab 081.039 kata

The Reunion

L

Lindayanti

The Alpha Legacy

Mulai membaca

Busan, tengah malam. Kota itu berkilau oleh cahaya lampu neon yang memantul di genangan air hujan. Hujan tidak lagi sekadar rintik ia turun deras, membasahi jalan-jalan sempit dan suara langkah-langkah yang tergesa.

Di antara bayangan gedung tua dan jalan pelabuhan, Raphael dan Zayyan berjalan cepat, menyusuri peta lusuh pemberian Hoon. Kedua bersaudara itu tampak letih, tapi tekad di mata mereka belum padam.

“Menurut peta ini,” kata Raphael sambil menatap selembar kertas yang basah sebagian, “toko bunga yang ditinggalkan itu tepat di distrik lama, sebelah utara.”

Zayyan menarik napas berat. “Kau yakin itu tempat Evelyn?”

Raphael menatap adiknya. “Kau punya tebakan lain?”

Zayyan hanya menggeleng. “No. Tapi kalau memang dia ada di sana… kita harus siap.”

“Siap untuk apa?”

“Untuk kemungkinan kalau dia… bukan lagi Evelyn yang kita kenal.”

Raphael menatap lurus ke depan, langkahnya tak melambat. “Kau salah, Yan. Evelyn bukan seperti kita. Dia lebih kuat dari yang kita kira.”

Zayyan mendengus. “Kau bicara seolah kau tahu apa yang dia alami selama ini.”

Raphael menoleh, suaranya tajam. “Aku tahu satu hal, darah Ibu mengalir di dalam dirinya. Dan itu cukup.”

°°°

Di sisi lain kota, di bawah toko bunga tua di distrik lama, Evelyn dan Samuel masih bekerja di ruang bawah tanah.

Komputer tua di depan mereka bergetar pelan, layar menampilkan kode dan peta jaringan Alpha yang mulai terbuka sedikit demi sedikit.

Evelyn mengetik cepat, matanya fokus. “Aku sudah tembus sebagian firewall-nya. Tapi sistem mereka berubah. Ada lapisan baru, kayak enkripsi biologis.”

Samuel menatap layar itu, keningnya berkerut. “That’s impossible. Alpha belum pernah pakai sistem itu.”

Evelyn menatapnya. “Sekarang mereka pakai. Dan itu berarti Alphonso tahu seseorang sedang mengutak-atik datanya.”
Samuel menghela napas, menatap jam di dinding. “Kita nggak punya banyak waktu. Kalau mereka mendeteksi lokasi sinyal, kita selesai.”

Evelyn berhenti mengetik sejenak, lalu berkata pelan, “Samuel, kau pernah bertemu langsung dengan The Broker?”
Samuel menatapnya hati-hati. “Pernah. Sekali.”

“Dia seperti apa?”

Samuel berpikir lama sebelum menjawab. “Licik. Tapi lebih berbahaya dari Alphonso. Dia bukan Cuma pembunuh… dia manipulator. Orang yang bisa membuatmu percaya bahwa membunuh itu adalah kebaikan.”

Evelyn terdiam. “Berarti dia bagian dari pembunuhan Ibu.”

Samuel menatapnya. “Mungkin. Tapi kalau Alphonso ingin menyembunyikan jejak, The Broker-lah yang dia kirim.”

Suasana mendadak tegang. Di luar ruangan bawah tanah, terdengar suara langkah-langkah di atas lantai toko.

Evelyn menatap Samuel tajam. “Kau dengar itu?”

Samuel mengangguk, mengambil pistol. “Stay behind me.”
Langkah-langkah itu semakin dekat, terdengar berat dan hati-hati. Tiba-tiba, suara kayu berderit di atas mereka.

Samuel bergerak cepat, menempel di dinding dekat tangga. Tangannya mengarah ke pintu bawah tanah.

Suara itu berhenti.

Sunyi.

Braaak!

Pintu bawah tanah terbuka dengan keras.

Dua sosok muncul, basah oleh hujan, pistol teracung.

“Don’t move!” teriak suara berat itu.

Samuel langsung menodongkan pistolnya balik. Tapi begitu lampu redup mengenai wajah mereka, Evelyn membeku.

“Raphael…” suaranya bergetar. “Zayyan…”

Kedua pria itu berhenti. Zayyan menurunkan senjatanya sedikit, matanya melebar tak percaya. “Eve?”

Evelyn berdiri perlahan dari balik meja komputer. Rambutnya kusut, wajahnya pucat, tapi matanya masih menyala mata yang mereka kenal sejak kecil.

Raphael menatap adiknya lama sebelum bicara. “Kau hidup.”

Evelyn mengangguk pelan, senyum kecil muncul di bibirnya. “Aku janji tidak akan mati sebelum membalas mereka.”

Zayyan mendekat cepat, memeluknya erat. “Kau gila, Eve. Kami pikir kau…”

“Sudah mati?” Evelyn menyelesaikan kalimat itu dengan nada tenang. “Aku juga berpikir begitu beberapa kali.”

Raphael menatap ke arah Samuel, matanya langsung berubah dingin. “Dan siapa dia?”

Samuel tidak bergerak, tapi nada suaranya tegas. “Samuel Park.”

Zayyan menegang. “Wait. Kau bilang Samuel Park? The Alpha enforcer?!”

Samuel tidak menyangkal. “Ya.”

Raphael langsung mengangkat pistol. “Jadi benar, kau bawa pengkhianat ke sini?” katanya pada Evelyn.

Evelyn berdiri di antara mereka. “Raphael, jangan!”

Raphael menatapnya tajam. “Kau tahu siapa dia, kan? Orang yang membakar rumah kita! Yang memburu kita!”

Evelyn menggeleng cepat. “Bukan dia! Samuel selamatkan aku!”

Zayyan masih ragu, menatap mereka bergantian. “Eve… jangan dibutakan emosi. Dia bagian dari mereka.”

Evelyn menatap kedua kakaknya bergantian, lalu berkata dengan suara yang menembus ketegangan. “Dia memang bagian dari mereka. Tapi dia juga orang yang bisa bantu kita menghancurkan Alpha.”

Raphael tertawa sinis. “Oh, great. Jadi sekarang kita percaya musuh?”

Samuel bicara pelan tapi tegas. “Aku bukan musuh kalian. Aku juga ingin Alphonso mati.”

Raphael menatapnya tajam. “Kenapa? Karena kau bosan jadi anjingnya?”

Samuel menatap balik tanpa gentar. “Karena aku ingin tahu siapa sebenarnya aku.”

Kalimat itu membuat semua terdiam.

Evelyn melangkah pelan ke arah Raphael. “Raphael, dengar aku. Dia tahu tentang The Broker. Tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Mommy.”

Nama itu membuat Raphael kaku. Ia menurunkan pistolnya sedikit. “The Broker?”

Samuel mengangguk. “Alphonso menyembunyikannya di Busan. Tapi hanya aku yang tahu di mana dia terakhir terlihat.”
Zayyan memandang Samuel curiga. “Dan kau mau bantu kami begitu saja?”

Samuel menjawab datar, “Aku tidak punya tempat lain.”

Sunyi kembali memenuhi ruangan. Suara hujan di luar makin keras. Evelyn menatap kakaknya. “Kita butuh dia, Raphael. Ini satu-satunya cara.”

Raphael akhirnya menurunkan pistol, tapi matanya masih dingin. “Baik. Tapi satu hal. Kalau dia macam-macam…”

Ia menatap Samuel tajam. “…aku yang akan menembakmu.”

Samuel mengangguk. “Fair enough.”

Beberapa jam kemudian, mereka berempat duduk di sekitar meja kecil di ruang bawah tanah. Di tengah meja, laptop menampilkan peta Busan dan jalur-jalur rahasia Alpha yang telah Evelyn tembus.

Evelyn menunjuk ke salah satu titik di layar. “Ini. Markas bawah tanah Alpha, di bawah hotel tua di distrik Nam-gu. Sistemnya terhubung langsung ke data The Broker.”

Zayyan bersiul pelan. “Jadi kita benar-benar mau masuk ke sarang mereka?”

Raphael menatap layar dengan fokus. “Kita tidak punya pilihan. Kalau data ini benar, di sanalah semua rahasia Alpha disimpan.”

Samuel menambahkan, “Dan kemungkinan besar… di sanalah Alphonso menunggu.”

Evelyn menatap layar itu lama. “Aku ingin melihat wajahnya. Orang yang menghancurkan keluarga kita.”

Raphael menatapnya. “Kau akan punya kesempatan itu, Eve. Tapi kau harus janji satu hal, jangan biarkan emosi menguasai mu.”

Evelyn tersenyum samar. “Kau yang ngajarin aku kalau balas dendam tidak bisa setengah hati.”

Raphael mendesah. “Kau memang adikku.”

Samuel berdiri, memeriksa senjata. “Kita berangkat sebelum fajar. Alpha selalu ganti penjaga saat itu. Kita punya waktu dua jam untuk masuk sebelum sistem alarm aktif lagi.”

Zayyan menatapnya. “Kau hafal semua prosedurnya, ya?”

Samuel menjawab pendek. “Aku yang menulisnya.”

Evelyn menatap Samuel, matanya tajam. “Kalau ini jebakan, aku akan tahu.”

Samuel membalas tatapannya. “Kalau ini jebakan, aku yang akan mati duluan.”

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 08 / 8
The Alpha Legacy
07

Alpha's Shadow

637 kata / Tersedia

08

The Reunion

1.039 kata / Sedang dibaca