Lindayanti
The Alpha Legacy
Mulai membaca
Di tempat lain, di puncak gedung kaca tinggi, Alphonso duduk di kursi kulit besar, menatap layar yang menampilkan peta kota. Titik-titik biru menunjukkan aktivitas anak buahnya yang sedang patroli. Namun satu titik baru muncul di peta lokasi yang sudah lama tak aktif, Distrik Nam-gu.
Ia menatap layar itu lama, lalu tersenyum dingin. “Akhirnya kau kembali, Samuel.”
Ia berdiri, berjalan ke arah jendela besar, menatap hujan yang jatuh di luar. “Dan kau membawa hadiah bersamamu.”
Alphonso meneguk anggurnya, lalu menekan tombol di meja. “Siapkan tim utama. Aku ingin menyambut tamu lama dengan cara yang pantas.”
Dini hari, langit Busan masih diselimuti hujan. Di dalam mobil tua yang melaju tanpa lampu, Raphael menyetir dengan fokus. Zayyan di kursi depan, memeriksa senjata. Evelyn duduk di belakang bersama Samuel, menatap jendela yang dipenuhi embun.
Tak ada yang bicara beberapa menit. Suara mesin dan hujan menjadi satu-satunya musik.
Akhirnya, Samuel memecah keheningan. “Evelyn…”
Evelyn menoleh. “Ya?”
Samuel menatap lurus ke depan. “Kalau semua ini berakhir, apa yang akan kau lakukan?”
Evelyn tersenyum kecil, tapi matanya kosong. “Kalau semua ini berakhir… aku akan tidur. Tanpa mimpi.”
Samuel menatapnya lama. “Aku harap kau bisa.”
Evelyn menatap balik. “Dan kau? Apa yang akan kau lakukan?”
Samuel berpikir sebentar, lalu menjawab pelan. “Mungkin… aku akan berhenti jadi monster.”
Evelyn menunduk, suaranya nyaris tak terdengar. “Mungkin kita berdua sudah terlalu jauh untuk berhenti.”
Mobil terus melaju menembus hujan, meninggalkan pantai Busan yang gelap. Di depan mereka, lampu-lampu kota semakin redup menuju jantung Alpha, tempat segalanya akan dimulai dan berakhir.
Dan di belakang, seseorang sedang mengikuti mereka dari kejauhan.
Siluet di atas motor hitam, helm tertutup, membawa emblem Alpha di bahunya.
Mata itu menyipit di balik visor.
“The Claire family… finally moves.”
Suara mesin motor meraung pelan, menghilang di balik kabut. Busan, malam itu, kembali menahan napas. Perang antara keluarga dan kekuasaan, antara darah dan dosa, baru saja mencapai babak berikutnya.
***
Gelap dan dingin menyelimuti lorong bawah tanah. Udara di sana begitu lembap, berbau karat dan jamur, seolah sudah bertahun-tahun tak dijamah manusia. Lampu-lampu neon merah di sepanjang dinding berkerlap-kerlip tak beraturan, menampilkan bayangan panjang di antara cat yang mengelupas dan retakan yang menjalar seperti urat di kulit beton tua.
Setiap langkah terdengar menggema, mengiringi detak jantung yang tak menentu.
Raphael berjalan paling depan. Tubuhnya tegap, siluet hitamnya terlihat jelas di bawah cahaya merah yang redup. Ia memegang senjata dengan mantap, jari telunjuk selalu dekat pada pelatuk. Tatapannya menusuk setiap sudut, setiap lorong kecil yang mungkin menyimpan bahaya.
Zayyan berjalan tepat di belakangnya, menunduk sedikit sambil menatap ke segala arah. Nafasnya berat, bukan karena lelah, tapi karena tekanan yang menyesakkan dada. Ia tahu, di bawah markas Alpha ini, kesalahan sekecil apa pun bisa berarti kematian.
Evelyn dan Samuel mengikuti di belakang. Evelyn, dengan rambut yang diikat ketat, menenteng tas peralatan elektronik di punggungnya. Setiap langkahnya terukur, senyap, penuh perhitungan. Samuel yang kini mengenakan jaket taktis hitam berjalan dengan langkah mantap, matanya menatap layar kecil di tangannya yang menampilkan peta digital lorong bawah tanah.
“Kau yakin peta ini akurat?” tanya Zayyan, suaranya serak dan berat, bercampur dengan uap air yang menetes dari pipa di atas kepala mereka.
Samuel tidak langsung menjawab. Ia menatap layar itu beberapa detik sebelum mengangguk pelan. “Ini jalan pintas yang aku buat waktu jadi enforcer Alpha,” katanya dengan nada datar. “Mereka gak pernah tahu kalau aku hafal semua jalur rahasia di bawah sini.”
Evelyn mendekat sedikit. “Kalau begitu, ayo buktikan. Kita gak punya waktu banyak, Sam.”
Di depan, Raphael berhenti mendadak.
Tangannya terangkat, memberi sinyal berhenti. Semua langsung menahan napas.
Suara kecil terdengar klik… klik…seperti gesekan logam berputar. Di ujung lorong, lampu kecil berwarna merah menyala.
“Stop,” kata Raphael pelan, nyaris berbisik. “Ada kamera di sana.”
Samuel segera mendekati dinding, menggeser panel kecil yang berdebu. Di baliknya, kabel-kabel dan sirkuit tua berserakan. Ia mengerutkan kening. “Sial. Security system Alpha lebih canggih dari yang kukira. Kamera ini bukan Cuma merekam. Ada sensor geraknya juga. Sekali kita salah langkah, alarm bakal aktif.”
Zayyan menarik napas dalam-dalam. “Plan kita apa sekarang?”
Raphael melirik jam di pergelangan tangannya, menghitung ritme kedipan lampu merah di kamera. “Kamera ini aktif selama lima puluh lima detik. Nonaktif lima detik tiap menit. Polanya konstan.”
Evelyn memicingkan mata, menatap kamera itu seperti sedang menantang musuh tak terlihat. “Jadi... kita harus sprint setiap lima detik itu?”
Samuel mengangguk tanpa ragu. “Betul. Lima detik penuh. Cepat, tepat, gak boleh ragu.”
Keheningan menggantung sesaat. Hanya terdengar suara tetesan air dan dengungan listrik dari pipa di atas mereka. Waktu seolah melambat.
Lampu merah menyala penuh, satu menit nyaris berlalu.
Kemudian… klik.
Lampu padam.
“Sekarang!” teriak Raphael.
Mereka berlari.
Empat bayangan bergerak cepat menembus kegelapan, langkah mereka berpadu dengan suara detak jantung yang memburu. Mereka menunduk, melompat melewati pipa, meniti bagian lantai yang retak. Lima detik yang terasa seperti seabad.
Begitu mereka mencapai ujung lorong, kamera kembali hidup menyapu area yang baru saja mereka lewati. Aman. Belum ketahuan.
Namun begitu lorong berbelok tajam, mereka berhenti mendadak.
Di hadapan mereka terbentang ruangan besar, dindingnya dipenuhi layar monitor dan mesin pendingin yang berdengung. Lampu merah dan putih berkedip-kedip di setiap sudut, menimbulkan suasana mencekam. Dan di tengah ruangan itu berdiri barisan tentara Alpha, bersenjata lengkap.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari The Alpha Legacy.