Lindayanti
The Alpha Legacy
Mulai membaca
Busan malam itu terasa seperti labirin yang penuh rahasia.
Evelyn berjalan cepat di samping Samuel. “Kita ke mana sekarang?”
“Ada tempat aman di distrik lama, di bawah toko bunga. Itu markas kecil yang dulu kupakai untuk operasi Alpha. Tak ada yang tahu keberadaannya kecuali aku.”
Evelyn menatapnya curiga. “Tempat seperti itu milik Alpha, dan kau sebut aman?”
Samuel tersenyum tipis. “Karena tidak ada yang cukup gila untuk mengira aku akan bersembunyi di tempat mereka sendiri.”
Mereka menyusuri gang sempit menuju kawasan tua yang sudah lama ditinggalkan. Beberapa toko masih menyala, tapi sebagian besar tutup, cat dinding mengelupas, papan nama berkarat. Akhirnya mereka berhenti di depan toko bunga kecil dengan jendela kaca retak.
Samuel mengetuk pola tertentu di dinding belakang toko tiga ketukan cepat, dua lambat, lalu satu panjang. Pintu rahasia di bawah meja terbuka perlahan, menyingkap tangga menuju ruang bawah tanah.
Evelyn melangkah ragu. “Tempat seperti ini… menyeramkan.”
Samuel menatapnya. “Kau akan terbiasa.”
Di bawah sana, ruangan itu dipenuhi peralatan lama. Komputer, senjata, dan peta kota. Di dinding tergantung foto-foto orang yang tampaknya mantan anggota Alpha sebagian wajah dicoret merah.
Evelyn memperhatikan semuanya dengan hati-hati. “Kau… memburu orang-orang mu sendiri?”
Samuel menatap salah satu foto lama di dinding, wajah pria paruh baya yang dikenal Evelyn dari arsip ayahnya.
“The Broker,” bisiknya.
Evelyn menegang. “Kau tahu dia?”
Samuel mengangguk. “Lebih dari tahu. Dia yang merekrut ku dua puluh tahun lalu.”
Evelyn mendekat, menatapnya dengan mata tajam. “Kau tahu di mana dia sekarang?”
Samuel terdiam sejenak. “Aku tahu dia bersembunyi di Busan, tapi tidak tahu di mana. Alphonso menjaga rahasia itu dengan nyawanya.”
Evelyn mengepalkan tangan. “Maka kita temukan dia dulu. The Broker tahu alasan ibuku dibunuh.”
Samuel menatapnya, wajahnya serius. “Kalau kita lakukan ini, tidak ada jalan kembali.”
Evelyn menatapnya balik tanpa ragu. “Aku tidak mencari jalan kembali.”
Mereka saling menatap beberapa detik. Lalu Samuel mengangguk. “Baik. Kita mulai perburuan malam ini.”
°°°
Di markas besar Alpha, Alphonso berdiri di depan meja kaca besar yang menampilkan peta digital. Titik merah di laut, lokasi terakhir beacon Samuel kini padam.
Seorang anak buah melapor, “Sinyal Samuel dan target perempuan hilang, Boss. Kemungkinan besar kapal mereka tenggelam.”
Alphonso menatap layar itu lama, lalu tersenyum samar. “Kau pikir aku akan percaya pada kebetulan?”
Ia berjalan perlahan ke arah jendela besar, menatap gelapnya laut di kejauhan.
“Samuel terlalu pintar untuk mati di laut. Jika sinyalnya mati, itu artinya dia bersembunyi.”
Ia menoleh ke arah anak buahnya. “Sebarkan pesan. Siapa pun yang menemukan jejak Samuel Park atau gadis Claire… akan mendapat hadiah besar. Tapi kalau mereka gagal...”
Ia tersenyum tipis. “...aku yang akan memburu mereka sendiri.”
Suara langkah sepatu Alphonso bergema di ruangan besar itu, dingin dan menakutkan.
Malam semakin larut. Di ruang bawah tanah toko bunga itu, Evelyn duduk di depan layar komputer, mencoba menembus sistem lama Alpha. Samuel berdiri di belakangnya, mengawasi peta digital kota Busan yang terpampang di dinding.
Di layar, muncul simbol Alpha, huruf A dengan sayap hitam.
“Firewall-nya gila,” kata Evelyn pelan. “Tapi aku bisa menembusnya kalau punya waktu.”
Samuel menatap jam di dinding. “Kita tidak punya banyak waktu. Mereka pasti sudah mulai mencari.”
Evelyn menatapnya, lalu berkata pelan, “Kau tahu, Samuel… di dunia ini, tidak semua orang bisa menebus dosa masa lalunya. Tapi aku harap kau bukan salah satu dari mereka.”
Samuel memandangnya lama, lalu berbisik, “Aku tidak butuh penebusan. Aku hanya butuh akhir.”
Suasana hening lagi. Di luar, hujan turun semakin deras, membasahi kota Busan.
Malam itu, di bawah toko bunga tua, dua jiwa yang terikat oleh dendam dan rahasia mulai menyusun langkah pertama menuju perang yang lebih besar. Busan, kota yang dulu menjadi rumah, kini berubah menjadi medan pertempuran.
Dan jauh di tempat lain, Raphael dan Zayyan baru saja meninggalkan pelabuhan menuju arah yang sama, tanpa tahu bahwa yang akan mereka temui bukan hanya adik mereka, tapi juga kebenaran kelam yang bisa menghancurkan seluruh keluarga Claire
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari The Alpha Legacy.