Lindayanti
The Alpha Legacy
Mulai membaca
Pagi belum sepenuhnya terang ketika Evelyn menutup laptop. Video Davidson terus terbayang di kepalanya. Satu nama berputar tanpa henti dalam pikirannya—The Broker.
Raphael berdiri di dekat pintu gudang, mengawasi jalan melalui celah papan kayu. “Kita nggak bisa tetap di sini.”
Zayyan memasukkan beberapa barang ke dalam tas. “Setuju. Setelah server itu aktif, mereka pasti sudah tahu kita masih hidup.”
Evelyn mencabut flash drive dari laptop. “Ada sesuatu yang belum kalian lihat.”
Raphael menoleh. “Apa?”
Evelyn membuka kembali folder Alpha – Internal Records. Di antara ratusan file terenkripsi, ada satu folder yang baru muncul setelah video Davidson diputar.
Namanya hanya terdiri dari empat karakter.
GENESIS.
Zayyan mendekat. “Genesis?”
Evelyn mengangguk. “Aku nggak bisa membukanya. Sistemnya meminta akses tingkat tinggi.”
Raphael memperhatikan layar. “Coba jangan dibuka.”
Evelyn mengerutkan dahi. “Kenapa?”
“Karena kalau Daddy sengaja mengunci file itu, berarti ada alasan.”
Sebelum Evelyn menjawab, layar tiba-tiba berkedip.
Satu baris tulisan muncul.
UNAUTHORIZED ACCESS DETECTED.
Kemudian seluruh layar mati.
Mereka bertiga saling menatap.
Dari luar gudang, terdengar suara mesin kendaraan.
Raphael langsung mengambil senjatanya.
“Kita pergi. Sekarang.”
Mereka bergerak menuju pintu belakang. Namun, sebelum Evelyn sempat keluar, sebuah suara terdengar dari pengeras suara kecil di sudut gudang.
“Evelyn Claire.”
Langkahnya terhenti.
Suara itu tenang. Dingin.
“Kalau kau membawa sesuatu milik Davidson, serahkan sekarang.”
Raphael menatap ke atas. “Samuel.”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara tawa pendek dari luar.
Kemudian seluruh gudang dipenuhi suara langkah kaki.
Alpha sudah menemukan mereka.
***
Pagi di Busan tak pernah benar-benar damai. Di balik gedung tinggi yang berkilau, selalu ada bayangan gelap yang bersembunyi di lorong-lorong sempit dan pelabuhan tua. Di sanalah dunia Alpha berdenyut, jaringan mafia paling berkuasa di Korea Selatan. Dan di jantung jaringan itu berdiri satu nama yang menjadi mitos dan ancaman, Samuel Park.
Samuel berdiri di depan cermin besar di ruangannya yang bergaya modern, memandangi bayangan dirinya yang berlumur luka. Di bawah lampu putih dingin, bekas tembakan di bahunya tampak masih segar, meski telah diperban dengan rapi. Ia melepas sarung tangannya, menatap jemarinya yang gemetar ringan. Luka itu tidak terlalu dalam, tapi entah kenapa, rasa sakitnya lebih dari sekadar fisik.
Seseorang mengetuk pintu.
“Masuk,” katanya datar.
Seorang pria berjas hitam masuk dengan membungkuk. “Bos ingin bertemu, Sir.”
Samuel menatap pria itu sebentar, lalu menjawab pelan, “Suruh dia tunggu di ruang konferensi. Aku segera ke sana.”
Ketika pria itu keluar, Samuel menatap kembali bayangannya di cermin. Wajahnya tegas, rahang keras, tapi matanya memancarkan sesuatu yang kontras seolah dua dunia berperang di dalam dirinya.
Ia masih ingat wajah gadis itu, Evelyn.
Tatapan matanya saat melarikan diri dari gudang, ketakutan dan perlawanan bercampur menjadi satu. Ia bisa menembak saat itu, tapi jarinya menahan pelatuk. Dan hal itu membuatnya gelisah.
“Kenapa aku tidak melakukannya?” gumamnya lirih.
Suara itu menggaung di ruangan kosong. Tak ada jawaban selain dengungan AC dan denyut sakit di bahunya.
Markas besar Alpha terletak di distrik perbukitan Yeonje, gedung tinggi bertingkat dua belas yang tampak seperti perusahaan investasi dari luar. Tapi di dalamnya, setiap lantai menyimpan rahasia kelam.
Di lantai teratas, Alphonso duduk di kursi kulit hitam, dikelilingi oleh layar-layar besar yang menampilkan berbagai aktivitas Busan. Pelabuhan, pasar gelap, hingga jalur perdagangan senjata.
Saat Samuel masuk, Alphonso tidak menoleh.
“Laporanmu,” katanya pelan.
Samuel berdiri tegak. “Kami menemukan markas sementara mereka. Raphael dan Zayyan luka berat. Anak perempuannya… berhasil kabur.”
Alphonso berbalik. Tatapan matanya menusuk seperti pisau. “Kau biarkan dia kabur?”
Samuel menahan diri. “Situasi tidak memungkinkan, Boss. Gudang terbakar.”
“Alasan.” Alphonso berdiri, berjalan pelan ke arahnya. “Aku tidak membesarkan mu untuk memberi alasan.”
Samuel tetap diam, menatap lantai.
“Anak itu...” suara Alphonso menurun, tapi nadanya dingin. “..adalah kunci. Kau tahu apa artinya?”
“Ya, Boss.”
“Kalau begitu cari dia. Dengan cara apa pun.”
“Baik.”
Alphonso berhenti di depannya, jarak mereka hanya beberapa langkah. “Samuel, kau anak yang paling aku percaya. Tapi jangan lupa siapa yang memberimu nama, rumah, dan hidup. Kau milikku.”
Samuel menatapnya sebentar, lalu menunduk. “Aku mengerti.”
Alphonso tersenyum tipis, lalu menepuk bahunya. “Kau boleh pergi.”
Ketika Samuel berbalik, tatapan dingin itu masih terasa menusuk punggungnya.
Beberapa jam kemudian, Samuel turun ke pelabuhan Nampo. Udara asin bercampur dengan bau minyak kapal dan ikan busuk. Ia berjalan di antara deretan gudang, matanya menelusuri setiap sudut.
Ia tahu gadis itu masih di sekitar sini. Evelyn tidak punya tempat lain untuk pergi.
Ia membuka ponsel, menatap peta digital hasil pelacakan. Titik sinyal terakhir Evelyn berhenti di sekitar dermaga kecil. Tapi setelah itu hilang.
Samuel menghela napas. “Kau pintar, Evelyn Claire,” gumamnya. “Terlalu pintar.”
Langkah kakinya berhenti di depan sebuah warung tua tempat nelayan minum kopi. Pemiliknya, pria tua dengan tatapan curiga, memandangnya dari balik meja.
“Cari seseorang?” tanya pria itu dalam bahasa Korea yang berat.
Samuel menjawab dengan nada datar, “Seorang wanita muda. Rambut panjang, mata cokelat. Mungkin datang ke sini tadi malam.”
Pria tua itu menggeleng. “Banyak orang datang dan pergi.”
Samuel meletakkan beberapa lembar uang di meja. “Coba ingat lagi.”
Pria itu menatap uang itu sebentar, lalu menghela napas. “Ada satu gadis. Basah kuyup, terlihat ketakutan. Dia naik ke kapal nelayan menuju pulau kecil di selatan. Namanya Pulau Oryukdo.”
Samuel tersenyum tipis. “Terima kasih.”
Ia berjalan pergi, langkahnya mantap.