Lindayanti
The Alpha Legacy
Mulai membaca
Sementara itu, di atas kapal kecil yang menyeberang ke Oryukdo, Evelyn duduk di pojok, mengenakan jaket besar milik nelayan yang menolongnya. Rambutnya basah, wajahnya lelah, tapi matanya tetap tajam. Di tangannya, flash drive kecil masih tergenggam erat.
Ia tahu orang-orang Alpha akan mengejarnya. Tapi di dalam data ini, ada jawaban atas segalanya. Tentang ibunya. Tentang alasan mengapa Alphonso membenci ayahnya.
Nelayan tua yang mengemudikan kapal menatapnya dari kejauhan.
“Kau lari dari siapa, nona?”
Evelyn tersenyum tipis.
“Dari masa lalu.”
Pria itu mengangguk pelan.
“Busan penuh dengan masa lalu yang ingin dibakar, tapi apinya selalu kembali.”
Evelyn menatap laut yang berombak di sekeliling mereka.
“Kalau begitu, aku akan tenggelamkan apinya.”
Di sisi lain, Raphael dan Zayyan bersembunyi di sebuah rumah sakit tua yang tak lagi dipakai di distrik Gijang. Luka Raphael telah dijahit oleh seorang dokter bayaran, tapi kondisinya lemah.
Zayyan duduk di kursi samping tempat tidur, wajahnya kusut oleh kelelahan dan rasa bersalah.
“Semua ini gara-gara aku,” katanya pelan. “Kalau saja aku lebih cepat, Daddy masih hidup.”
Raphael membuka mata, suaranya serak.
“Berhenti menyalahkan diri sendiri, Zayyan. Daddy sudah tahu resikonya.”
Zayyan menatap kakaknya.
“Tapi Evelyn… dia sendirian di luar sana.”
Raphael menatap langit-langit, wajahnya tegang.
“Evelyn bukan anak kecil lagi. Dia tahu apa yang dia lakukan.”
Lalu ia menatap Zayyan dengan serius.
“Tapi kita harus menyusulnya. Aku yakin Alpha sudah bergerak.”
Zayyan mengangguk.
“Aku dengar ada kontak lama Daddy di pelabuhan. Orang bernama Hoon. Dia pernah bantu Daddy kabur dulu.”
“Cari dia. Tapi hati-hati. Busan bukan lagi kota yang sama.”
Sore itu, di pulau kecil Oryukdo, Evelyn berjalan menembus jalan setapak berbatu menuju sebuah pondok kosong di tepi tebing. Di sana, ia menyalakan laptopnya dan memeriksa data di flash drive.
Di layar, muncul folder bernama Broker_Records.
Tangannya bergetar saat membuka. Di dalamnya ada foto-foto, surat elektronik, dan satu nama yang berulang.
Alphonso Han – Project Eden.
“Project Eden?” bisiknya.
Ia membuka salah satu file dokumen. Di dalamnya terdapat catatan tentang eksperimen rahasia pengiriman senjata biologis melalui jalur ekspor perusahaan legal milik Alphonso.
Dan di bagian bawah file, terdapat tanda tangan Geovanny Claire.
Evelyn membeku.
“Mommy… kau tahu tentang ini?”
Sebelum ia sempat mencerna lebih jauh, suara langkah kaki terdengar di luar pondok. Ia segera mematikan laptop, menaruhnya di tas, lalu mengambil pistol kecil.
Pintu berderit terbuka. Sosok pria tinggi masuk perlahan. Wajahnya muncul di balik cahaya matahari senja yang kemerahan.
Samuel.
“Aku tahu kau di sini,” katanya pelan. “Kau tidak pandai bersembunyi, Evelyn.”
Evelyn menegakkan tubuhnya, pistol terarah padanya.
“Berhenti di situ.”
Samuel menatapnya, matanya tenang tapi tajam.
“Aku tidak datang untuk membunuhmu.”
“Lalu untuk apa? Membawaku ke Alphonso?”
Samuel menatapnya beberapa detik, lalu menurunkan pistolnya perlahan.
“Kalau aku mau lakukan itu, kau sudah mati tadi malam.”
Evelyn terdiam, tapi tidak menurunkan senjatanya.
“Kenapa kau menahannya?”
Samuel menghela napas.
“Aku tidak tahu.”
“Omong kosong.”
“Tidak. Aku serius.” Ia melangkah satu langkah mendekat. “Aku hanya ingin tahu satu hal, kenapa Alphonso menginginkanmu hidup-hidup?”
Evelyn menatapnya tajam.
“Kalau kau kerja untuknya, kenapa kau tidak tanya langsung padanya?”
Samuel menatap tanah, suaranya rendah.
“Karena kadang… orang yang kita anggap sebagai ayah, justru menyembunyikan kebenaran terbesar.”
Kata-kata itu membuat Evelyn tertegun.
“Apa maksudmu?”
Samuel tidak menjawab. Ia hanya menatap laut di kejauhan, matanya suram.
“Dunia Alpha tidak sebersih yang kau pikir. Bahkan aku pun… hanya bagian kecil dari permainan besar.”
Evelyn menurunkan pistolnya perlahan.
“Kalau begitu, kenapa kau tetap di sana?”
Samuel menatapnya.
“Karena aku tidak punya tempat lain.”
Suasana hening beberapa saat. Angin laut bertiup, membawa aroma garam dan kesepian.
Evelyn akhirnya bicara pelan,
“Aku tahu apa yang Alpha sembunyikan. Project Eden… ibuku dibunuh karena dia tahu kebenaran itu.”
Samuel terkejut.
“Project Eden?”
Evelyn mengangguk.
“Mereka bereksperimen dengan senjata biologis dan menjualnya lewat jalur legal. Ibuku tahu. Dia menolak. Alphonso membunuhnya.”
Samuel menatap tanah, wajahnya menegang. Ia tidak pernah mendengar hal itu sebelumnya, tapi dalam hatinya, potongan-potongan masa lalu mulai menyatu.
Evelyn melanjutkan,
“Aku akan menghancurkan Alpha, Samuel. Sampai nama Alphonso lenyap dari sejarah.”
Samuel menatapnya dalam-dalam.
“Kalau kau benar-benar ingin menghancurkannya… kau butuh aku.”
Evelyn menyipitkan mata.
“Dan kenapa aku harus percaya padamu?”
Samuel menatapnya tenang.
“Karena aku juga ingin kebenaran. Tentang siapa sebenarnya aku… dan siapa yang membuatku menjadi monster seperti sekarang.”
Evelyn memandangnya lama, menimbang setiap kata. Lalu akhirnya, ia mengangguk perlahan.
“Tapi satu hal, Samuel,” katanya dingin. “Kalau kau berkhianat, aku yang akan menembak mu sendiri.”
Samuel tersenyum tipis.
“Deal.”
Malam itu, dua bayangan bergerak di tepi pantai Oryukdo. Ombak menghantam batu, memercikkan busa putih ke udara. Evelyn dan Samuel berdiri menatap laut, tanpa bicara. Untuk pertama kalinya, dua musuh berdiri di sisi yang sama terikat bukan oleh kepercayaan, tapi oleh luka yang sama dalam diri mereka.
Dan di kejauhan, di balik kabut Busan, Alphonso menatap peta digitalnya lagi.
Senyum dingin menghiasi wajahnya.
“Samuel,” gumamnya pelan. “Mari kita lihat… seberapa jauh kau berani mengkhianati ku.”
Lampu di ruangannya padam satu per satu, menyisakan kegelapan total.
Di luar, petir menyambar laut.
Dan di tengah gemuruh itu, perang keluarga Claire baru saja berubah arah
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari The Alpha Legacy.