CeritaGW
Buku / Bab
Bab 17774 kata

The Hound Comes Home

L

Lindayanti

The Alpha Legacy

Mulai membaca

Salju turun pelan di Busan malam itu. Butir-butir putih menutupi jalanan kosong, memantulkan cahaya lampu jalan yang redup. Bagi kebanyakan orang, musim dingin adalah waktu tenang tapi bagi Raphael Claire, musim dingin berarti satu hal, darah yang mengering di udara dingin lebih lama.

Ia berdiri di atap gedung tua, memandangi pelabuhan yang kini dipenuhi kapal perang kecil milik Genesis Corp. Angin laut menggigit kulit wajahnya, tapi pikirannya lebih tajam dari dingin apa pun.

Zayyan naik ke atap, membawa dua cangkir kopi hangat.

“Seharusnya kita sudah kabur ke luar negeri, Raphael,” katanya, menatap laut.

“Ke mana?” Raphael menatapnya. “Kita tidak punya rumah lagi.”

Zayyan mendesah panjang. “Kau tahu maksudku. Kita bisa mulai hidup baru. Hidup tanpa perang.”

Raphael tersenyum tipis. “Kau tahu kenapa kita gak bisa berhenti?”

Zayyan menatap kakaknya.

“Karena darah kita. Darah yang sama dengan Daddy dan Evelyn.”

Raphael menatap horizon, matanya berkilat di bawah cahaya bulan.

“Darah itu… bukan kutukan. Itu warisan.”

Di markas bawah tanah Genesis, Alphonso menatap layar hologram besar yang menampilkan wajah Evelyn. Wajah itu kini tersebar di seluruh jaringan hitam internasional buronan nomor satu. Rambutnya lebih pendek, wajahnya tanpa ekspresi, tapi matanya masih sama. Hidup, tajam, berbahaya.

The Broker berdiri di belakang Alphonso. “Pasukan bayangan Claire sudah menyerang tiga gudang kita. Mereka menargetkan jaringan finansial Genesis.”

Alphonso tertawa pelan, parau. “Dia pikir dia bisa menghapus warisan yang aku bangun? Gadis itu… terlalu mirip ibunya.”

The Broker menatap Alphonso. “Apa kita lanjutkan operasi pemburuan?”

“Tidak.”

Alphonso memutar kursi rodanya ke arah jendela besar yang memperlihatkan laut.

“Kita biarkan dia datang. Claire selalu datang ketika dipancing. Aku ingin dia melihat dunia terbakar dua kali.”

Ia menatap refleksinya di kaca. Separuh wajahnya rusak, tapi di mata itu masih ada kilatan hidup.

“Karena kali ini, bukan hanya Evelyn yang akan jatuh. Raphael dan Zayyan juga.”

Sementara itu, jauh di bawah kota Busan, di sebuah gudang tua yang kini dijadikan markas perlawanan, Evelyn memimpin pertemuan rahasia dengan kelompoknya. Di layar besar, peta Asia Timur terpampang titik-titik merah menunjukkan lokasi jaringan Genesis.

Seorang wanita muda, Mei Lin, mantan agen rahasia, menunjuk ke peta. “Genesis sudah memperluas distribusi mereka sampai ke Jepang. Mereka punya dukungan pemerintah bayangan.”
Evelyn menatap peta itu dalam diam.

Tangannya menggenggam meja besi di depannya, sendi-sendi jarinya memutih.

“Kita potong akar mereka satu-satu,” katanya dingin. “Kita mulai dari Busan. Genesis tumbuh di sini, maka mereka juga akan mati di sini.”

Mei Lin menatap Evelyn ragu. “Tapi kalau Alphonso benar-benar hidup…”

Evelyn menatapnya dengan mata dingin. “Aku akan mengubur dia sendiri.”

Di apartemen persembunyian mereka, Raphael, Zayyan, dan Samuel menatap laporan dari kontak rahasia mereka. Dante, seorang mantan hacker Alpha.

“Genesis punya proyek baru,” kata Dante melalui layar video. “Namanya Project Genesis Core. Mereka menciptakan sistem kontrol berbasis neuro, sama seperti Alpha dulu.”

Samuel menatap layar itu tajam. “That’s the same thing Geovanny made… right?”

Dante mengangguk. “Yes. Tapi kali ini mereka menggunakan DNA milik Evelyn sebagai basis utama. Sepertinya mereka mencuri datanya waktu dia masih bersama Alpha.”

Raphael membeku. “Mereka ingin menciptakan Evelyn versi mesin?”

Dante tersenyum miring. “Lebih buruk. Mereka ingin menciptakan pasukan tanpa perasaan, tapi dengan naluri pembunuh keluarga Claire.”

Keheningan menggantung di ruangan itu.

Zayyan menatap Raphael. “Kalau begitu, kita harus temukan Eve dulu, sebelum Genesis melakukannya.”

Samuel mengangguk pelan. “Dan aku tahu di mana dia.”

Raphael menatap Samuel curiga. “Kau yakin?”

Samuel menatap keluar jendela, ke arah laut.

“Yeah. Aku tahu cara berpikirnya. Kalau dia ingin menghancurkan Genesis, dia akan mulai dari tempat semuanya dimulai.”

Zayyan menatap Raphael. “Tempat Mom and Dad mati…”

Raphael mengangguk. “Tempat yang sama di mana Alpha lahir.”

Malam itu, Evelyn berdiri di tepi pelabuhan tua tempat ia dulu kehilangan ibunya. Salju jatuh pelan, mencair di pipinya. Laut di depannya gelap, tapi di balik kegelapan itu ada kenangan suara tembakan, jeritan, darah, dan wajah ibunya jatuh ke dalam air.

Dr. Han berdiri beberapa langkah di belakang. “Kau yakin ini jalannya, Evelyn?”

Evelyn menatap laut. “Dendam bukan pilihan, Dokter. Itu panggilan.”

Dr. Han menarik napas panjang. “Tapi kau bukan lagi gadis yang aku rawat dulu. Kau berubah.”

Evelyn menatapnya, mata tajam tapi tenang. “Dunia juga berubah. Aku hanya menyesuaikan.”

Ia berbalik, berjalan menuju mobil hitam yang menunggu. Dua orang pengawal membuka pintu untuknya.

Saat hendak masuk, Dr. Han berkata pelan, “Kalau kau terus seperti ini, suatu hari kau akan jadi seperti mereka.”

Evelyn berhenti sejenak, menatapnya dari balik bahunya.
“Maybe that’s the only way to end them.”

Di markas Genesis, The Broker menerima kabar dari pasukannya.

“Evelyn Claire spotted di pelabuhan Busan. Harusnya kita kirim tim.”

Alphonso tersenyum dingin. “Tidak. Kita kirim satu orang saja.”
The Broker menatapnya. “Siapa?”

Alphonso menatap foto di mejanya wajah Samuel, anak angkatnya dulu.

“Waktunya untuk memanggil anjingku pulang.”

Bab selanjutnya

18 - Welcome To Hell

Lanjutkan ke bab berikutnya dari The Alpha Legacy.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 17 / 18
The Alpha Legacy
16

The Birth Of A New Monster

764 kata / Tersedia

17

The Hound Comes Home

774 kata / Sedang dibaca

18

Welcome To Hell

550 kata / Tersedia