Lindayanti
The Alpha Legacy
Mulai membaca
Di tempat lain, di dalam gedung bawah tanah, Alphonso duduk di kursi roda. Separuh wajahnya rusak, luka bakar menutupi sisi kiri dari dagu hingga pelipis.
Namun matanya tetap hidup dingin, penuh amarah.
Di hadapannya berdiri seorang pria dengan jas abu-abu, membawa tablet elektronik.
“Proyek Genesis sudah siap, Tuan. Kami hanya butuh sinyal untuk mulai distribusi senjata.”
Alphonso tersenyum miring. “Kau tahu kenapa aku menamai ini Genesis?”
Pria itu diam.
“Karena dari kehancuran, selalu ada kelahiran baru,” kata Alphonso pelan. “Alpha mungkin mati, tapi aku adalah Tuhan yang menciptakannya kembali.”
Ia tertawa pelan, meski suaranya parau. “Dan kali ini, Claire tidak akan punya tempat untuk bersembunyi.”
Sore itu, Raphael menerima kabar dari salah satu informan lama ayahnya, seorang mantan penyelundup yang dikenal sebagai Dae-Hoon. Mereka bertemu di gudang tua dekat pelabuhan.
“Genesis… mereka sudah mulai merekrut orang,” kata Dae-Hoon. “Orang-orang lama dari Alpha kembali, tapi dengan seragam baru.”
Raphael menatap peta di meja kayu. “Mereka di Busan?”
Dae-Hoon menggeleng. “Bukan hanya di Busan. Mereka punya markas di Shanghai, Tokyo, bahkan Incheon.”
Zayyan menatap Raphael. “Mereka menyebar seperti racun.”
Raphael mengangguk. “Tapi racun selalu butuh sumbernya. Dan sumbernya masih Alphonso.”
Samuel berdiri di dekat dinding, menatap peta itu. “Kalau dia hidup, berarti Evelyn pasti mengejarnya juga.”
Raphael menatapnya tajam. “Dan itu berarti dia akan membunuh atau dibunuh.”
Zayyan menatap kakaknya. “Kau masih akan mencarinya?”
Raphael tersenyum miring. “Kita ini siapa kalau bukan keluarga Claire? Kita selalu berjalan menuju api, bukan menjauh darinya.”
Malam tiba. Di markas rahasianya, Evelyn duduk sendirian di ruang gelap, menatap meja penuh foto-foto.
Foto Alphonso, The Broker, peta distribusi Genesis, dan satu foto lama, dirinya bersama Raphael dan Zayyan saat kecil, di pantai.
Tangannya menyentuh foto itu perlahan. Ia teringat suara Geovanny, ibunya yang lembut dan penuh kasih.
“Kau tak bisa melawan dunia sendirian, Evelyn.”
Evelyn tersenyum getir. “Tapi aku lahir dari dua dunia, cahaya dan kegelapan. Mungkin ini memang tugasku.”
Pintu terbuka pelan. Seorang perempuan muda berambut pendek masuk, membawa laporan.
“Nyonya, target pertama sudah ditemukan. Gudang senjata Genesis di pelabuhan Incheon.”
Evelyn berdiri, mengenakan sarung tangan hitam. “Kirim tim malam ini. Jangan biarkan satu pun keluar hidup-hidup.”
Perempuan itu ragu. “Tapi, kalau kita serang langsung...”
Evelyn menatapnya tajam. “Aku bilang bunuh semuanya.”
Suara dinginnya membuat ruangan terasa beku.
Perempuan itu menunduk cepat. “Baik, Nyonya.”
Evelyn menatap layar komputer lagi. Di pojoknya, ada folder berjudul Project Ares. Ia membuka isinya, menatap sederet data genetik dan foto lama wajah Geovanny, ibunya.
Tulisan di bawahnya berbunyi,
Subject G-17 — Creator of Alpha Neural Core System.
Air matanya jatuh tanpa suara.
“Mom…” bisiknya. “Jadi selama ini, kau bagian dari semua ini.”
Namun alih-alih hancur, Evelyn malah tersenyum dingin.
“Kalau darahmu menciptakan Alpha… darahku akan menghapusnya.”
Di markas Genesis, The Broker berdiri di depan Alphonso dengan ekspresi serius.
“Dia masih hidup, Tuan. Evelyn Claire.”
Alphonso tidak kaget.
“Bagus,” katanya datar. “Berarti permainan belum berakhir.”
“Dia mulai menyerang gudang kita.”
Alphonso tersenyum miring. “Biar saja. Aku ingin lihat seberapa jauh darah Claire bisa menodai dunia sebelum kering.”
Ia menatap langit malam melalui kaca besar.
“Dulu aku menghancurkan Davidson karena cinta. Sekarang aku akan menghancurkan anaknya karena keyakinan.”
Beberapa hari kemudian, Raphael dan timnya tiba di pelabuhan Incheon tapi terlambat. Gudang Genesis sudah terbakar. Puluhan mayat ditemukan di dalamnya, sebagian besar bekas anggota Alpha.
Zayyan menatap pemandangan itu dengan ngeri. “Ini bukan kerjaan biasa.”
Samuel berjalan di antara puing-puing, menemukan simbol sayap perak tergambar di dinding dengan cat darah.
“Ini tanda Evelyn,” katanya pelan.
Raphael menatap dinding itu lama.
“Dia masih di sini. Dan dia berubah.”
Zayyan menatapnya. “Menjadi apa?”
Raphael menjawab tanpa menatap saudaranya.
“Menjadi sesuatu yang bahkan Alpha akan takut.”
Malam itu, di markas rahasia Evelyn, berita di televisi lokal menyiarkan laporan.
“Terjadi ledakan di pelabuhan Incheon. Diduga aksi teroris.”
Evelyn mematikan televisi tanpa ekspresi.
Ia menatap Dr. Han yang baru masuk membawa obat.
“Berita menyebutmu monster,” kata Dr. Han pelan.
Evelyn tersenyum tipis. “Mereka belum tahu monster sesungguhnya siapa.”
Dr. Han menatapnya penuh prihatin. “Kau tahu, Eve, kalau kau terus berjalan di jalan ini, tak ada jalan kembali.”
Evelyn berdiri, menatap pantulan dirinya di cermin dinding.
“Kalau aku berhenti, dunia akan melahirkan monster baru. Aku hanya memastikan aku yang terakhir.”
Ia melangkah keluar ruangan.
Angin malam menerpa wajahnya, dan untuk sesaat, bulan musim dingin memantulkan cahaya pucat di matanya yang dingin mata seorang wanita yang sudah kehilangan segalanya, kecuali tujuan.
Evelyn Claire bukan lagi sekadar nama.
Dia kini adalah bayangan baru kekuatan yang tumbuh dari luka dan dendam. Dan di bawah sinar bulan Busan yang dingin, ia berbisik pelan, hampir seperti doa.
“Mom… kalau dunia ini memang harus terbakar, biarlah aku yang menyalakan apinya.”